Lagi, Warga Keluhkan Proyek Jalan Tol Sinergi Jawa Pos

Para pekerja tengah mengerjakan bagian tepi tol Moker (Mojokerto – Kertosono)
(FOTO: NASIKHUDDIN/JAWA POS RADAR JOMBANG)

JOMBANG – Memasuki awal September 2017, pengerjaan proyek jalan tol Mojokerto-Kertosono (Moker) masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Salah satunya  pembangunan overpass di Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben. Belakangan warga mengancam akan menghentikan pekerjaan. Karena proses pekerjaan belum juga selesai.

Masih lamanya penyelesaian proyek ini dibenarkan pihak pelaksana proyek. ”Tinggal proses finishing, mungkin butuh sekitar satu bulan lagi, September   Insya Alloh sudah rampung semua,” beber Sugiono, salah satu perwakilan kontraktor saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang, di lokasi pekerjaan overpass Carangrejo, (30/8) kemarin.


Pantauan di lokasi, nampak sejumlah pekerja masih sibuk mengoperasikan alat berat. Lalu lalang kendaraan material juga terlihat keluar masuk lokasi proyek. Selain penyempurnaan bangunan overpass, dirinya menyebut masih ada sisa pekerjaan kaitannya perbaikan saluran irigasi. ”Saluran irigasi juga masih proses penyelesaian,” tandasnya.

Dirinya menyebut, salah satu alasan tersendatnya pekerjaan disebabkan persoalan terkait permintaan warga, pembayaran dana kompensasi. ”Kemarin pekerjaan sempat dihentikan warga dua hari, alasannya warga belum menerima dana kompensasi, baru setelah saya melapor, kompensasi bisa dibayar, pekerjaan pun bisa lanjut,” tandasnya.

Sampai dengan hari ini sinyal protes warga masih terus berlanjut. Salah satunya terkait pembayaran ganti rugi penebangan pohon-pohon warga di sekitar lokasi proyek, termasuk material gorong-gorong warga yang ikut rusak akibat alat berat. ”Sebelumnya ada musyawarah, dari PT HK (Hutama Karya) juga hadir, mencatat. Tapi kenyataannya sampai sekarang belum ada ganti rugi,” terang Kolik, warga Carangrejo.

Selain itu, warga juga mengeluhkan minimnya dana kompensasi yang dibayarkan akibat dampak debu dan bising pekerjaan proyek. ”Sebulan hanya dibayar Rp 125 ribu, itupun September ini belum jelas, katanya kalau pekerjaan belum rampung akan diajukan kembali,” bebernya.
Selama ini warga masih menunggu sikap PT Marga Harjaya Infrastruktur (MHI) dan PT HK, kaitannya permintaan ganti rugi sejumlah pohon yang ditebang termasuk gorong-gorong warga yang hancur. ”Kami minta ini klir dulu, saya desak secepatnya diselesaikan, kalau tidak warga akan menghentikan pekerjaan, kita tunggu sampai Senin atau Selasa depan, jangan seenaknya sendiri,” tandasnya.

Di luar itu, dirinya juga mempertanyakan pengajuan warga terkait rencana pembebasan lahannya. Pasalnya, meski sudah berkirim surat ke pihak terkait, dinas PU PR termasuk membuat tembusan ke bupati, sampai saat ini belum ada respons. ”Sesuai rencana awal, harusnya ada pembebasan lahan sekitar overpass Carangrejo, terus tahu-tahu batal. Terus kemarin sudah kita ajukan kembali, tembusan ke bupati juga tapi sepertinya tidak digubris,” tandasnya. Akibatnya, saat ini jarak rumahnya dengan jalan  hanya terpaut sekitar setengah meter. ”Kalau seperti ini sebenarnya kami merasa dirugikan, kecewa dengan PT MHI dan PT HK,” imbuhnya.

Selain itu, warga juga mempertanyakan tanggungjawab PT MHI terkait pembangunan jalan tani di Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben. Pasalnya, hingga sekarang ini pekerjaan belum sama sekali tersentuh. ”Iya katanya dibangunkan jalan tani, masing-masing sekitar empat meter di sisi kanan kiri overpass, sudah ada proses pembebasan tanah, tapi sampai sekarang entah kenapa, belum ada pekerjaan sama sekali,” terang Arifin, salah satu petani di temui di lokasi titik jalan tani.

Tak berbeda jauh, sejumlah warga Desa Watudakon, Desa Kesamben juga mempertanyakan sikap PT  MHI  terkait permintaan pembangunan jembatan. ”Warga minta dibangunkan dua jembatan, sampai sekarang belum ada keputusan final, masih ada tarik ulur,” terang Arif Budiarjo, salah satu perangkat Desa.

Senada Ainun Najib, kepala Desa Watudakon juga membenarkan  masih adanya tarik ulur terkait permintaan jembatan. ”Memang kemarin sudah ada pekerjaan perbaikan di sisi jembatan lama, namun hanya dirigit begitu, sementara permintaan warga dilebarkan, biar bisa akses kendaraan roda empat,” bebernya.

Sementara, itu sampai saat ini, permintaan warga terkait pembangunan jembatan baru di sisi utara overpass, juga belum ada pekerjaan sama sekali. ”Untuk jembatan baru juga masih tarik ulur, warga minta dibangun selebar empat meter, tapi dari PT MHI hanya menyanggupi selebar 2,5 meter, itupun sampai sekarang belum ada pekerjaan sama sekali,” bebernya.

Berbeda dengan permintaan warga terkait perbaikan saluran irigasi. Usai aksi protes warga mengeluhkan saluran irigasi yang mampet bertahun-tahun, saat ini PT MHI sudah mulai melakukan perbaikan saluran. ”Kalau terkait saluran irigasi, sekarang ini pekerjaan masih berlangsung, semoga nantinya saluran irigasi bisa kembali normal seperti semula,” tandasnya.

Belakangn dirinya mendengar kabar, proyek jalan tol Mojokerto-Kertosono tidak lama lagi segera diresmikan oleh pemerintah. ”Saya dapat kabar, informasinya sekitar pertengahan September akan ada peresmian oleh pemerintah, wajar jika warga bertanya-tanya terkait sejumlah pekerjaan sisa proyek,” pungkas Kades.

Sayang saat dikonfirmasi, PT MHI terkait sejumlah permasalah tersebut, PT MHI selaku pemegang hak konsesi jalan tol Moker belum bisa memberikan keterangan. Pesan yang dikirim melalui whatsapp dan SMS belum belum mendapat jawaban, termasuk beberapa kali upaya telepon ke nomor HP humas PT MHI, Dela Rosita juga belum ada jawaban.

(jo/naz/mik/JPR)