Lagi, Lurah-Camat Adu Inovasi di Otonomi Award 2018

Otonomi Award Lurah Camat 2017

MALANG KOTA – Untuk kali keempat, ajang Otonomi Award Lurah Camat digelar Pemkot Malang. Tahun ini, ada 53 kelurahan dan 5 kecamatan yang menjadi peserta Otonomi Award. Dan mulai besok (16/4), tim juri mulai melakukan penilaian di masing-masing kelurahan.

Sama dengan tahun sebelumnya, tim juri berasal dari beragam unsur. Di antaranya, bagian pemerintahan, tim penggerak (TP) PKK, akademisi, dan profesional.

”Ajang Otonomi Award ini begitu penting untuk mendorong setiap kelurahan maupun kecamatan terus berinovasi,” tandas Kabag Pemerintahan Pemkot Malang Dicky Haryanto kemarin (14/4).

Menurut Dicky, jumlah kelurahan di Kota Malang ada 57. Namun, yang dinilai hanya 53 kelurahan. Sebab, ada empat kelurahan yang dinilai berhasil menembus juara di tingkat nasional. Yakni, Kelurahan Tlogomas, Kasin, Tasikmadu, dan Sawojajar. Empat kelurahan ini tidak perlu lagi dinilai. Diharapkan dari ajang Otonomi Award 2018 ini muncul kelurahan baru yang menjadi juara sampai tingkat nasional.

”Dari ajang ini sudah terbukti berhasil mengantarkan kelurahan yang terpilih bisa juara nasional,” imbuh mantan kasatpol PP ini.

Yang membedakan dengan Otonomi Award 2015 dan 2016, hanya tiga bidang yang dinilai. Yakni, kewilayahan, pemerintahan, dan kemasyarakatan. Sementara pada 2015 dan 2016 lalu, ada beberapa bidang. Di antaranya, kesehatan, keamanan, pendidikan, partisipasi masyarakat, PKK, dan pemberdayaan ekonomi.

”Yang terpenting di setiap kategori ada inovasi yang ditonjolkan. Inilah yang sedang kami cari,” tandas Dicky.

Sekretaris Kecamatan Blimbing J.A. Bayu Widjaya yang menjadi panitia Otonomi Award 2018, menambahkan, ajang ini harus berbeda dari tahun sebelumnya. Jadi, para lurah tidak bosan dengan model penilaian. Apalagi tahun ini event Otonomi Award sudah memasuki tahun keempat.

”Harus ada bentuk penilaian yang mengejutkan. Jadi, peserta tidak menduga dengan pertanyaan dari para juri,” ungkap Bayu.

Mantan Lurah Sawojajar ini mencontohkan, ketika Sawojajar ikut lomba di tingkat nasional, juri menguji aplikasi layanan berbasis IT yang ada di kelurahan. Saat itu, juri merusak jaringan aplikasi IT milik Sawojajar. Lalu juri meminta petugas kelurahan untuk menghidupkan lagi.

”Untung saja kami bisa mengoperasionalkan lagi. Karena memang aplikasi IT itu karya kami sendiri, bukan hasil membeli dari pihak ketiga,” tandas Bayu.

Nah, karena IT milik Sawojajar dinilai orisinal, hasil karya sendiri, dan tanpa ada biaya dari APBD, maka dapat poin tertinggi. Saingannya waktu itu dari Kota Bandung dan Denpasar. Di dua kota itu, IT-nya jauh lebih canggih.

”Namun, juri tahu kalau IT bukan bikinan sendiri, tapi sewa dari pihak ketiga, maka hanya dapat poin nol,” imbuh dia.

Bayu berharap, pada ajang kali ini, inovasi di masing-masing kelurahan benar-benar orisinal dari warga. Bukan hasil kreasi pihak ketiga yang harus bayar mahal. Juga bukan dari dana pemerintah.

”Karena ajang ini lebih ada keterlibatan masyarakat di kelurahan, itu yang penting,” ungkap Bayu.

Pewarta: Abdul Muntholib
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati