Lagi-Lagi, TPA Supiturang Terbakar

MALANG KOTA – Kebakaran lagi, kebakaran lagi. Itulah yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supiturang. Penyebab kebakaran TPA di Mulyorejo, Kecamatan Sukun, itu pun sama, yakni gas metan.

Hanya saja, dampaknya tidak seluas sebelumnya. Pada kebakaran 18 Oktober lalu, ada ratusan titik api yang menghanguskan sekitar sembilan hektare lahan. Sedangkan kali ini, sekitar lima hektare lahan.

Pantauan wartawan koran ini di lokasi, asap masih mengepul dari tumpukan sampah. ”Mayoritas sampah-sampah baru yang terbakar kali ini,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Malang Anton Vierra, kemarin (19/11).

Pada kebakaran sebelumnya, tim damkar membutuhkan waktu sekitar 15 hari untuk memadamkan api. Anton tidak bisa memperkirakan pemadamannya membutuhkan waktu berapa hari. Dia mengharapkan bantuan cuaca, misalnya hujan mengguyur, sehingga mempercepat pemadaman.

”Semoga segara hujan. Mungkin kalau sampai dua hari berturut-turut hujan terus, ini (kebakaran) bakal padam. Tapi kalau hanya satu hari saja hujan, mungkin tidak akan bisa padam,” tuturnya.

Sementara armada yang dikerahkan untuk memadamkan kebakaran jumlahnya mencapai lima unit. Sedangkan personel yang diterjunkan 7 personel.

Pria berusia 46 tahun itu menyatakan, kebakaran di TPA Sampah Supiturang tersebut cukup bandel. Sebab, sampah di satu-satunya TPA milik Kota Malang itu sering terbakar.

Anton mencatat, sepanjang 2019 ini TPA Supiturang sudah tiga kali terbakar. ”Itu (kebakaran) yang besar saja. Kalau (kebakaran) yang kecil-kecil tidak bisa dihitung berapa kali jumlahnya,” imbuhnya.

Dia menduga, kebakaran terjadi akibat gas metan. Apinya menyulut tumpukan sampah kering, sehingga terjadi kebakaran. ”Gas metan tersebut cukup sensitif dengan panas, sehingga mudah menimbulkan percikan api,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Rinawati menyatakan kebakaran itu dipicu gas metan. ”Lalu (kebakarannya) meluas karena terkena terpaan angin,” kata Rinawati. 

Pewarta : Imron Haqiqi
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Mahmudan