Lagi, Gunung Agung Meletus Freatik, Padahal Hujan Tak Lebat, Kenapa? Sinergi Jawa Pos

“Memang benar tidak ada hujan  lebat di kawah, yang ada hujan dengan intensitas kecil,” kata Kabid Mitigas Gunung Api PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Gunungapi), I Gede Suantika. 

Meski begitu, kata dia, kandungan air tanah di kawah Gunung Agung masih banyak. Inilah yang menyebabkan letusan freatik kembali terjadi. Bahkan kepulan asapnya mencapai 1.500 m. “Iya asapnya mencapai 1.500 m, mungkin masih banyak kandungan air tanah dalam kawah Gunung Agung,” kata Suantika.

Seperti diketahui, sebelumnya pihak PVMBG menjelaskan bahwa letusan freatik (pertama) diakibatkan oleh pertemuan antara air dan panas magma. Sehingga menghasilkan uap air. Dan, pada letusan freatik yang pertama lalu, diawali dengan hujan lebat di kawah Gunung Agung.

Ketika dikonfirmasi apakah terjadinya letusan freatik kedua ini merupakan  tanda akan terjadinya letusan magmatik, Suantika mengatakan bahwa bisa saja itu terjadi. “Iya bisa saja ini merupakan indikasi terjadinya letusan magnatik, tapi lebih baik kita tunggu saja dulu perkembangannya,” ujarnya. 



Suantika juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan memperhatikan himbauwan yang diberikan PVMBG serta selalu mengikuti perkembangan terkini Gunung Agung. 

Untuk diketahui, Gunung Agung mengalami letusan freatik pertama pada Selasa (21/11) lalu. Kini Gunung Agung yang berstatus Level III (Siaga) ini kembali mengalami letusan freatik untuk kali kedua pada Sabtu (25/11) pukul 17.20 wita dan baru teramati secara visual pukul 17.30 wita.

“Letusan freatik ke-2 terjadi pukul 17.20 WITA tercatat di St.Dukuh, secara visual teramati pukul 17:30 wita dari Daerah Culik dan Batulempeh ke arah Barat- Barat Daya, asap kelabu-kehitaman tekanan Sedang dengan ketinggian 1500 meter,” ujar I Gede Suantika ketika dikonfirmasi Sabtu (25/11). 

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa Asap erupsi itu teramati secara visual dari daerah Desa Culik, dan Batulompeh ke arah barat daya. Menurut data meteorologi, pada saat erupsi, kondisi cuaca sedang mendung. Angin bertiup lemah ke arah barat dengan suhu udara berkisar 26-27 °C dan kelembaban udara 79-85 persen. Adapun selama erupsi, terjadi gempa vulkanik dangkal sebanyak satu kali dengan durasi 16 detik dan tektonik jauh sebanyak satu kali dengan durasi 52 detik.

Sementara, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam pernyataan  persnya yang dirilis Sabtu (25/11) mengatakan bahwa status Gunung Agung hingga saat ini tetap Siaga (level III). Pihaknya mengatakan bahwa saat ini PVMBG terus melakukan pemantauan dan analisis aktivitas vulkanik. “Rekomendasi juga tetap yaitu agar tidak melakukan aktivitas apapun di dalam radius 6 km ditambah perluasan sektoral sejauh 7.5 km ke arah Utara-Timurlaut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya,” ujarnya

Sementara itu pihaknya tetap mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Agung tidak panik. Masyarakat telah banyak memperoleh informasi dan sosialisasi terkait Gunung Agung. Data pengungsi pada Sabtu siang tadi sebanyak 25.016 jiwa yang tersebar di 224 titik pengungsian.

“Masyarakat diimbau tetap tenang. Jangan panik dan terpancing isu-isu menyesatkan. PVMBG akan terus memberikan informasi terkini. BNPB, TNI, Polri, Basarnas, Kementerian atau Lembaga, BPBD, SKPD, relawan dan semua unsur terkait akan memberikan penanganan pengungsi,” tandasnya. 

(bx/gus /yes/JPR)