Lagi, Badai Terjang Sumber Brantas

KOTA BATU – Belum pulih pasca diterjang badai pada akhir Oktober 2019, kemarin (17/11) Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, kembali diterjang angin kencang. Rumah warga porak-poranda, listrik padam, pohon tumbang, dan ratusan warga mengungsi.

Namun, badai jilid II itu dampaknya lebih ringan jika dibandingkan badai pertama pada Oktober lalu. Saat itu desa di lereng Gunung Arjuno tersebut seperti desa mati.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu mencatat ada sekitar 515 rumah masuk daftar rehab, listrik padam, pohon tumbang, dan satu orang meninggal dunia. Sementara warga desa yang mengungsi sekitar 1.444 orang.

Sementara kemarin, data yang dihimpun wartawan koran ini terdapat 10 rumah rusak, listrik padam, dan sejumlah tempat wisata ditutup. Di antaranya, Wisata Coban Talun dan pemandian air panas di Cangar. Jalur alternatif Batu–Mojokerto melalui Cangar itu juga ditutup.

Ketika badai menerjang sekitar pukul 08.00, pemerintah sempat mengimbau warga agar tidak beraktivitas di luar rumah. ”Memang anginnya tidak kencang seperti bulan lalu (Oktober),” ujar Sekretaris Desa (Sekdes) Sumber Brantas Natan Nael Purwanto saat ditemui di lokasi kemarin.

Pantauan wartawan koran ini, salah satu rumah yang rusak diterjang badai adalah milik Sumirah, 63. Pada badai pertama, rumah warga RT 6, RW 5, Dusun Jurang Kuwali, itu juga diterjang badai. ”Atap rumah saya tersapu angin. Padahal, baru saja diperbaiki setelah mendapat batuan dana dari pemerintah,” kata Sumirah.

Sementara waktu, Sumirah akan numpang di rumah anaknya yang lokasinya satu dusun. Tapi, dia belum tahu bagaimana harus memperbaiki rumahnya untuk kali kedua ini.

Sementara itu, tim Reaksi Cepat BPBD bersama TNI, Polri, dan relawan siaga di lokasi kejadian. ”Upaya yang dilakukan tim gabungan adalah membagikan masker untuk warga karena kondisi debu sangat tebal,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu Abdul Rochim.

Rochim mengatakan, sementara ini sudah mendata beberapa rumah warga yang terimbas angin kencang. ”Kami juga sedang melaksanakan kaji cepat untuk mencatat dampak kejadian angin kencang dan melakukan pemantauan perkembangan situasi di lapangan,” tambah Rochim.

Hingga kemarin pukul 11.00, angin masih kencang sehingga Perusahaan Listrik Negara (PLN) melakukan pemadaman. Tujuannya untuk meminimalisasi dampak. Apalagi sudah ada satu pohon yang tumbang.

Selain Desa Sumber Brantas, badai angin kencang juga menerjang dua desa lain, yakni Desa Tulungrejo dan Sumbergondo. ”Tim gabungan dari Pemkot Batu, TNI, Polri, dan relawan sudah mempersiapkan tempat pengungsian di Balai Desa Tulungrejo, Punten, Sidomulyo, dan Sumbergondo.

Hingga pukul 15.00 terpantau jumlah pengungsi yang menempati Balai Desa Tulungrejo sekitar 270 orang. ”Untuk wilayah Desa Sumber Brantas, kondisi udara sudah bersih dari debu dan listrik sudah sudah menyala sekitar pukul 17.00.

Kemudian pohon yang tumbang sudah selesai dibersihkan. Selain itu, jalur Batu menuju Mojokerto atau sebaliknya via Cangar sudah dibuka kembali,” katanya.

Pengungsi Sudah Dipulangkan

Terpisah, Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko turut menjenguk pengungsi di Balai Desa Tulungrejo. Menurut dia, para pengungsi hanya masih trauma atas kejadian angin kencang pada Oktober lalu.

”Trauma healing tetap terus dilakukan. Hanya, mereka ketakutan sehingga turun untuk menyelamatkan diri. Nanti Magrib (kemarin) akan dipulangkan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kota Batu Ririck Masruri menambahkan, dampak angin kencang yang melanda pada Oktober lalu belum pulih seratus persen.

Sementara kemarin, Desa Sumber Brantas kembali digemparkan dengan kejadian serupa. Meski tidak separah kejadian yang pertama, hal itu cukup merepotkan pihaknya.

”Tadi (kemarin) sempat meninjau dampak angin kencang bersama Bu Wali (Dewanti Rumpoko). Tidak separah seperti yang bulan Oktober lalu. Pengungsi juga tampaknya tidak sampai bermalam,” katanya.

Pada 2019 ini, dinsos mendapat Rp 3,8 miliar. Sebagian dari dana itu digunakan untuk merehab ratusan rumah di Desa Sumber Brantas yang terdampak badai angin kencang.

Total ada 107 rumah rusak di Kota Batu yang masuk perencanaan untuk direhab. Sekitar 20 rumah di antaranya imbas badai angin kencang. Namun, sampai saat ini dia mengatakan masih tujuh rumah saja yang menerima bantuan.

”Secara target awal ya hanya tujuh yang menerima pembenahan rumah. Namun, karena saat ini ada peristiwa seperti saat ini lagi, ya nantinya bantuan itu kami utamakan,” tegasnya.

BMKG: Kecepatan Angin di Atas Rata-Rata

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas II Malang Aminudin Al Roniri mengatakan, kecepatan angin yang menerjang Desa Sumber Brantas kemarin (17/11) sekitar 20 knots atau 36 kilometer per jam dengan jangkauan hingga 10 kilometer.

Sedangkan badai pada 21 Oktober lalu mencapai 80 km per jam. ”Sementara untuk yang kedua ini kecepatannya menurun. Tapi, di atas rata-rata. Karena idealnya kecepatan angin itu ya 15–20 kilometer per jam,” kata Aminudin.

Menurut dia, secara umum terjadinya angin kencang masih dalam masa peralihan. Dalam beberapa hari belakangan tidak hujan atau panas terus-menerus sehingga Sumber Brantas menjadi daerah terbuka dengan panas yang lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya.

”Daerah pemanasan dalam skala lokal memicu terjadinya peningkatan kecepatan angin yang juga dipengaruhi oleh topografi Desa Sumber Brantas yang berbukit-bukit,” terang Aminudin.

Peningkatan kecepatan angin ini diperkirakan akan menurun ketika memasuki musim hujan. Dia mengatakan, intensitas hujan mulai tinggi pada pertengahan November ini. ”Bisa mengalami kemunduran (musim hujan). Ya tunggu saja akhir bulan ini,” terang dia.

Pewarta : Miftahul Huda, Nugraha
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan