Kuntari Laksmitadewi, Keluar dari Zona Nyaman dan Berani Ambil Risiko

Kuntari Laksmitadewi, Keluar dari Zona Nyaman dan Berani Ambil Risiko

Wanita kelahiran Yogyakarta empat puluh empat tahun silam ini bertaruh untuk membangun anak usaha milik Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) yang baru dibentuk pada 2012 lalu. Sebelumnya, Tata merupakan General Manager Teknik dan Pengembangan Pupuk Indonesia.

Sebagai General Manager seharusnya Tata tak perlu menambah jam kerjanya. Meski tanggung jawabnya juga tidak ringan namun Tata masih mempunyai atasan yang punya kendali lebih tinggi dari General Manager. Namun Tata memilih jalan yang lain.

Direktur Operasional PT Pupuk Indonesia Energi Kuntari Laksmitadewi
(Dery Ridwansyah/RADAR MALANG ONLINE)

“Nah di PI Energi ini sebetulnya ibaratnya saya yang buat ‘dosa’ saya juga yang harus bertanggung jawab. Jadi akhirnya saya ditunjuk sebagai direktur operasi disini. Bukan berarti saya tidak punya saingan ya. Waktu itu ada 10 kandidat untuk mengisi jabatan direktur operasi. Dan kesemuanya laki-laki,” jelas Tata kepada RADAR MALANG ONLINE di Jakarta, Sabtu (21/4).

Sebagai perusahaan yang baru dibangun, tentunya lebih berat untuk meng-establishnya. Hal ini pun diakui oleh Tata bagaimana dia harus merekrut orang-orang yang mau digaji tidak sebesar perusahaan yang sudah establish namun beban kerjanya lebih berat.

“Saya mau rekrut orang saja gimana mau. Gaji anak usaha kan pasti jauh dibawah. Maka infrastruktur saya siapkan. Ruangan, laptop supaya orang liat kerja ya nyaman. Berikutnya saya merekrut orang tapi pasti pertanyaannya adalah soal benefit,” kata dia.

Namun, Tata melihat dari sudut pandang yang lain. Justru dia berpandangan bagaimana sebuah perusahaan baru bisa menjadi pioneer dan melesat. Jika sudah begitu, maka ini akan berdampak pada kapabilitas secara personal.

“Bukan berarti saya jadi direktur naik engga hampir sama mungkin agak berkurang dibanding saat jadi GM di PIHC dulu. Tanggung jawab dan beban kerjanya jadi lebih besar,” ungkapnya.

Kesibukannya sebagai Direktur Operasional menuntutnya harus bolak-balik keluar kota. Ibu dua anak ini mengatakan dirinya tak pernah kehilangan waktu untuk anak-anak. Cara mensiasatinya adalah dengan melakukan video call setiap hari. Kuncinya jangan sampai sang anak merasa kehilangan ibu ketika dia sedang membutuhkannya.

Membangun Perusahaan Tanpa Revenu Sampai Benefit Melebihi Target

Keberanian Tata untuk terjun langsung mengurus PI Energi tentunya punya banyak pertimbangan dan juga tantangan. Dia mengatakan saat awal-awal bergabung di PI Energi, perusahaan hanya mampu meraup untung sebesar Rp 21 juta.

“Waktu masuk PI Energi 2014 untungnya cuma Rp 21 juta tapi gak ada revenue. Bingung kan gimana? Waktu 2015 PI Energi membukukan Rp 7,8 miliar keuntungan, lalu 2016 sebesar Rp 35 miliar sekarang (tahun 2017) Rp 37 miliar dan selalu melebihi target tahun ini target revenue kami Rp 60 miliar,” tuturnya.

Di sisi lain, lonjakan aset PI Energi juga naik. Dia bercerita ketika dirinya diminta untuk mengeksekusi proyek senilai Rp 1,2 triliun, akan tetapi modal yang didapat dari induk usaha hanya Rp 100 miliar. Akhirnya Tata pun harus memutar otak untuk membiayai proyek tersebut.

“Saya harus eksekusi proyek senilai Rp 1,2 triliun tapi dikasih uang hanya Rp 100 miliar. Tiga tahun baru masuk dananya,” ungkapnya.

Akhirnya, ia melakukan roadshow ke bank bank dan harus meyakinkan bank bahwa proyek yang digarap merupakan proyek yang visible sehingga akhirnya dapat pinjaman dengan bunga yang bagus.

Adapun, untuk dapat meraup pendapatan Tata melakukannya dengan cara mengakuisisi perusahaan yang sudah ada supaya bisa mengenerate revenue dan profit perushaan sejenis seperti yang dilakukan di Bontang dan Gresik.

“Ini kalau sudah selesai maka akan ada tambahan revenue,” tukasnya.


(uji/JPC)