Kunci Rapat Semua Pintu Lawan Sinergi Jawa Pos

OBROLAN saya dengan Bupati Kudus Musthofa Rabu siang lalu cukup gayeng. Suguhannya memang hanya teh hangat, keripik pisang, dan keciput. Yang membedakan dari biasanya, bupati baru merayakan ulang tahun ke-55 sehari sebelumnya, 2 Januari. Dia sering merogoh toples yang berisi keripik pisang. Sama dengan saya. Tak terasa isi toples itu sampai hampir habis.

Pak Mus kelihatan santai meskipun hari itu dia sedang menunggu turunnya rekomendasi untuk calon gubernur-wakil gubernur dari PDIP. Dari senyumnya ketika saya tanya, saya menangkap Pak Mus sudah tahu siapa yang akan mendapat rekomendasi. Namun, dia tidak memberi tahu.

Pak Mus adalah politikus ulung. Dia bisa memainkan peran untuk dirinya sendiri dan orang lain. Dia siapkan suksesi kepemimpinan di Kudus. Dia kunci pintu-pintu yang mungkin dilewati lawan-lawannya.

Banyak orang yang mengincar kursi Pak Mus. Di luar PDIP muncul Umar Ali. Fotonya sudah bertebaran di mana-mana. Gede-gede. Karakteristik. Visioner. Dia pengusaha rokok. Di balik itu dia low profile. Memiliki pengalaman spiritual melebihi orang awam. Visinya bisa saya tangkap ketika suatu saat berkesempatan ngobrol di padepokannya yang remang-remang dan mistis.



Kemunculan Umar Ali bisa menjadi kritik yang tajam bagi Pemerintah Kabupaten Kudus. Dia melihat Kudus belum berkembang sesuai potensinya. Kalaupun sudah gemebyar prestasi-prestasi, masih ada sisi yang tertutupi.

Sayang, nama Umar Ali kandas. Rupanya dia belum piawai ‘’menjual’’ diri. Tak ada partai yang tertarik. PPP yang semula menggebu pun sumeleh. Partai itu hanya memiliki tiga kursi. Tak mungkin mengusung sendirian.

Nama lain adalah Sri Hartini. Srikandi dari Partai Gerindra. Kemunculannya bisa memberi suasana baru. Kudus haus akan kepemimpinan perempuan. Sedangkan jumlah penduduk perempuan nyaris sama dengan laki-laki.

Sri Hartini muncul sejak dini, sama seperti Masan. Tapi, ngangkatnya berat. Sejauh ini baru bisa menggaet PKS (4 kursi) dan PPP (3 kursi). Ditambah Gerindra yang memiliki lima kursi, total dukungannya 12 kursi. Memang cukup untuk maju.

Perempuan yang gambarnya juga tersebar di berbagai tempat itu memiliki kendala calon wakil bupati. Sudah muncul nama Sandung. Tidak ngangkat. Dia hanya seorang kepala desa. Alternatifnya, Setia Budi Wibawa, ketua Komisi D DPRD Kudus. Tidak begitu populer.  Namun, Sri condong kepada dia. Popularitas Sri Hartini sendiri juga jauh di bawah lawannya, Masan – Noor Yasin.

Seorang lagi yang ingin merebut kursi Kudus-1 adalah M. Tamzil. Dia bupati Kudus 2003 – 2008. Pernah membawa Kudus meraih beberapa prestasi. Namun, kandas dalam pemilihan gubernur pada periode selanjutnya. Pada 2013 dia ingin merebut kursinya lagi. Tapi, kalah dengan Musthofa. Tragisnya Tamzil lantas terjerat kasus yang mengantarnya ke penjara.

Kini dia ingin maju lagi. Semangatnya luar biasa. Hanya badannya yang tampak lebih kurus dibanding sebelumnya. ‘’Saya masih ingin berbuat untuk warga Kudus,’’ katanya ketika bersilaturahmi ke kantor Radar Kudus beberapa waktu lalu. Saat itu dia membawa Alquran. Penjara membuatnya lebih religius.

Di dunia perpolitikan, Tamzil pernah membuktikan kepiawaiannya. Ketika maju tahun 2013 itu dia sempat kesulitan mendapat dukungan partai. Tapi pada detik terakhir dia berhasil menggaet Demokrat, PKNU, PIS (Partai Indonesia Sejahtera), dan lolos dalam pencalonan. Perolehan suaranya juga tak beda jauh dengan Musthofa.

Tamzil yang pernah dijuluki bapaknya Persiku berpotensi merepotkan Pak Mus. Dia bisa menyaingi Masan. Tapi, sejauh ini dia baru mendapat dukungan dari Hanura (3 kursi) dan PBB (1 kursi). Untuk bisa maju minimal harus memiliki sembilan kursi.

Agaknya, Tamzil menghadapi tembok besar. Semua pintu telah dikunci oleh Pak Mus. Demokrat (3 kursi), PAN (3), dan Golkar (4) telah terlebih dulu berkoalisi dengan banteng bermoncong putih. PKB yang dipimpin Ilwani, anggota DPRD Kudus, juga condong ke sana.

Jalan lainnya, Tamzil harus membuka kunci Gerindra, PKS, dan PPP. Berat. Partai itu sudah sepakat mengusung Sri Hartini. Lain ceritanya kalau mereka mau mengalah dan berkoalisi dengan Tamzil beserta partai pendukungnya. Tapi, itu kemungkinan kecil.

Karena kunci-kunci yang sudah dipegang PDIP, Akhwan dari Partai Nasdem yang juga ingin maju kepontal-pontal. Partainya hanya memiliki empat kursi. Dia memilih jalur independen. Pasangannya sudah ditentukan. Yaitu, Hadi Sucipto, birokrat yang pernah memegang jabatan kepala dinas.

Akhwan sudah memastikan diri bertarung dalam pilkada. Dukungan KTP memenuhi syarat. Tinggal menunggu pendaftaran. Paling tidak, keberanian Akhwan bisa membuka wawasan masyarakat yang mungkin tertutup karena tidak ada pemikiran-pemikiran kritis. Tentu kalau kampanyenya kelak bisa efektif dan masif.

Perjuangan Akhwan memang berat. Selama ini di banyak daerah, calon independen sulit meraih kesuksesan. Dibutuhkan popularitas lebih dan kapabilitas yang mumpuni.

Bupati Rembang Abdul Hafidz bisa menang melalui jalur independen karena hal tersebut. Dia orang PPP yang sangat populer dan diterima oleh nyaris seluruh konstituen. Latar belakangnya sebagai anggota dewan, wakil bupati, pejabat bupati, dan bupati (meskipun hanya sebentar) nyaris tanpa cacat. Partainya menguasai Kota Garam. Namun, tidak bisa mengusungnya, hanya karena ada dualisme kepemimpinan.

Dalam pemilihan langsung seperti sekarang, faktor mesin partai masih dominan. Partai Pak Mus, PDIP, menguasai medan. Sampai sekarang solid. Dengan melihat figur-figur calon yang muncul, jago Pak Mus masih sangat berpeluang untuk menang. Apalagi pasangan Masan – Noor Yasin memiliki latar belakang dan kemampuan yang tidak diragukan.

Kini Pak Mus tak terlalu risau dengan suksesi kepemimpinannya. Calonnya sudah mantap. Lawan-lawannya masih menghadapi kesulitan. Kemarin Pak Mus lebih sering tertawa terbahak-bahak. Terkadang sambil merentangkan kedua tangan. Mengangkat pantat dan menghempaskannya hingga badannya bersandar ke kursi. Saya ikut tertawa lepas.

Pak Mus seolah lupa, saat itu pencalonannya sebagai gubernur Jateng masih menunggu rekomendasi.

Bersambung besok: Pencalonan Musthofa di Pilgub Jateng. ([email protected])

(ks/lil/aji/JPR)