Kulit Jeruk Jadi Pembersih Serbaguna hingga Penyubur Sayuran

MALANG KOTA – Berbagai inovasi para siswa terungkap saat gelaran Green School Festival (GSF) 2018. Saat tim juri dari perguruan tinggi (PT) melakukan penilaian di SMPN 10 Kota Malang misalnya, menemukan inovasi siswa di bidang limbah kulit jeruk.

Kulit jeruk yang umumnya dibuang, di tangan siswa SMPN 10 bisa menjadi enzyme cleaner atau pembersih serbaguna. Mulai dari membersihkan lantai, kamar mandi, kaca, tangan, alat makan, buah, sayuran, dan juga berfungsi sebagai penyubur tanaman. ”Fokus inovasi kami adalah, satu bahan bisa berguna untuk berbagai macam keperluan,” ujar Kepala SMPN 10 Kota Malang Supandi MPd di sela-sela menyambut tim juri kemarin.

Supandi menceritakan, ide membuat pembersih serbaguna dari kulit jeruk itu muncul ketika bersantai di kantin. Kala itu, beberapa siswa melihat tumpukan kulit jeruk  tidak terpakai. Pemandangan itu membuat siswa berpikir untuk mengolahnya sehingga tidak mengotori kantin sekolah.

”Tiba-tiba saja kepikiran membuat pembersih dari limbah kulit jeruk. Setelah dicoba, ternyata berhasil,” imbuhnya.

Kulit jeruk tersebut dicampur dua macam bahan. Yakni, fermipan (bakteri) dan gula. Fungsi gula makanan bakteri agar bisa berkembang biak. Sedangkan kulit jeruk berfungsi sebagai penghasil asam yang berguna melarutkan noda.  Setelah itu, semuanya dicampur menjadi satu dengan air dan membiarkannya dalam seminggu. ”Ketika proses perendaman seminggu selesai, baru bisa dimanfaatkan (sebagai pembersih serbaguna),” jelasnya.



Dalam kesempatan tersebut, Supandi juga menjelaskan telah mengajarkan kepada siswanya tentang cara berpikir ekonomis. Yakni, inovasi yang dihasilkan harus mempunyai daya jual sehingga bisa diperdagangkan. Salah satunya ice cream mengkudu, bakso tuna sayur, obat dan minuman mahkota dewa, sabun jelantah, serta sabun sirih.

”Semua inovasi itu kami jual kembali di kantin. Jadi, semuanya kembali kepada siswa, yang buat siswa yang makan siswa juga,” tutur pria yang sudah menjabat sejak 2014 itu.

Tidak hanya itu, sekolah yang memiliki 1.000 spesies tumbuhan itu juga memanfaatkan barang-barang bekas menjadi barang yang berguna. Berbagai olahan dari gelas, botol minuman dan koran bekas menjadi macam-macam peralatan. Ada tempat makanan dan minuman yang bahannya berasal dari koran bekas, tas dari botol dan gelas minuman bekas.

”Pokoknya, semua yang ada di sekolah ini, kami usahakan bermanfaat untuk semua warga sekolah,” pungkasnya.

Sementara itu, ada enam sekolah yang dinilai tim juri GSF. Selain SMPN 10 Kota Malang, penilaian juga dilakukan di SMPN 23, SMP Asifa, SMP Charis, SMP Islam Sabilurrosyad, dan SMP Islam Baitul Makmur. Masing-masing sekolah itu juga memaparkan inovasi siswa-siswinya. 

Pewarta: Moh. Badar Risqullah
Cpy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Mahmudan
Fotografer: Falahi Mubarok