25.9 C
Malang
Rabu, Februari 28, 2024

Warkop ‘Cethol’ Digrebek di Malang, 7 Remaja Diperdagangkan

MALANG KABUPATEN – Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) juga terungkap di Kabupaten Malang. Kemarin (15/6), Polres Malang merilis penangkapan 5 orang yang mempekerjakan 8 perempuan untuk jasa prostitusi. Tujuh di antaranya bahkan masih di bawah umur. Para perempuan yang dipekerjakan itu merupakan korban karena sebelumnya dijanjikan pekerjaan biasa dengan gaji tinggi.

Wakapolres Malang Kompol Wisnu S. Kuncoro mengatakan, bisnis prostitusi yang terungkap itu menggunakan kedok warung kopi. Praktik ini acapkali disebut warkop ‘cethol’. Pasalnya, pengunjung yang datang ngopi bisa sekalian nyethol atau mencubit penjaja kopi yang ternyata menyajikan jasa prostitusi.

Lokasinya di empat tempat. Yakni di Desa Patokpicis, Kecamatan Wajak; Desa Dampit, Kecamatan Dampit; dan Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji, dan Pasar Gondanglegi, Kecamatan Gondanglegi. Belakangan, warkop cethol di dalam Pasar Gondanglegi juga sempat viral di media sosial Malang sebelum digrebek.

Baca Juga:  Banyak Kemudahan Memiliki Rumah di CitraLand Puncak Tidar

Berdasar penyelidikan serta pengakuan PSK, aktivitas prostitusi terselubung itu dilakukan sejak Oktober 2022 dan 19 Maret 2023. ”Kalau dalam kurun waktu dua bulan ini, kami telah melakukan penindakan terhadap perkara Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Dua laporan terkait pekerja seks komersial yang dipekerjakan di warung kopi,” katanya.

Wisnu menjelaskan, awalnya para mucikari menawarkan pekerjaan kepada para perempuan yang dipilih dengan gaji yang menggiurkan. Setelah tertarik, ternyata para perempuan itu diminta berjualan di warung kopi sambil melayani pria hidung belang.

Yang lebih memprihatinkan, para mucikari itu juga suka mempekerjakan anak di bawah umur. Usianya antara 15 sampai 17 tahun. ”Tarifnya Rp 300 ribu untuk sekali kencan. Mucikari mendapatkan Rp 50.000,” imbuhnya.

Baca Juga:  Pria Dusun Lebaksari Gorok Leher Istri Siri

Sementara itu, lima tersangka yang diamankan kemarin dikelompokkan menjadi dua. Empat orang dijerat dengan pasal 83 juncto pasal 76 UU nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang memiliki ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Empat orang itu adalah Muslimah, 52, warga Desa Patokpicis, Kecamatan Wajak; Sherly, 19, warga Kecamatan Gedangan; Alfin Teguh, 25, warga Desa Sumberpucung Kecamatan Sumberpucung; dan Harnadi, 21, warga Desa Ternyang, Kecamatan Sumberpucung.

Satu tersangka sisanya adalah Rizal Akbar, 18, warga Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran. Dia dijerat pasal 2 ayat 1 UU Nomor 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang. Kepolisian juga mengamankan barang bukti uang tunai Rp 1.150.000, 7 buah ponsel, pakaian dalam perempuan, sprei, sarung bantal, dan tiga paspor. (pri/fat)

MALANG KABUPATEN – Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) juga terungkap di Kabupaten Malang. Kemarin (15/6), Polres Malang merilis penangkapan 5 orang yang mempekerjakan 8 perempuan untuk jasa prostitusi. Tujuh di antaranya bahkan masih di bawah umur. Para perempuan yang dipekerjakan itu merupakan korban karena sebelumnya dijanjikan pekerjaan biasa dengan gaji tinggi.

Wakapolres Malang Kompol Wisnu S. Kuncoro mengatakan, bisnis prostitusi yang terungkap itu menggunakan kedok warung kopi. Praktik ini acapkali disebut warkop ‘cethol’. Pasalnya, pengunjung yang datang ngopi bisa sekalian nyethol atau mencubit penjaja kopi yang ternyata menyajikan jasa prostitusi.

Lokasinya di empat tempat. Yakni di Desa Patokpicis, Kecamatan Wajak; Desa Dampit, Kecamatan Dampit; dan Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji, dan Pasar Gondanglegi, Kecamatan Gondanglegi. Belakangan, warkop cethol di dalam Pasar Gondanglegi juga sempat viral di media sosial Malang sebelum digrebek.

Baca Juga:  Polisi Selidiki Dugaan Korupsi PKH Tumpang

Berdasar penyelidikan serta pengakuan PSK, aktivitas prostitusi terselubung itu dilakukan sejak Oktober 2022 dan 19 Maret 2023. ”Kalau dalam kurun waktu dua bulan ini, kami telah melakukan penindakan terhadap perkara Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Dua laporan terkait pekerja seks komersial yang dipekerjakan di warung kopi,” katanya.

Wisnu menjelaskan, awalnya para mucikari menawarkan pekerjaan kepada para perempuan yang dipilih dengan gaji yang menggiurkan. Setelah tertarik, ternyata para perempuan itu diminta berjualan di warung kopi sambil melayani pria hidung belang.

Yang lebih memprihatinkan, para mucikari itu juga suka mempekerjakan anak di bawah umur. Usianya antara 15 sampai 17 tahun. ”Tarifnya Rp 300 ribu untuk sekali kencan. Mucikari mendapatkan Rp 50.000,” imbuhnya.

Baca Juga:  Eksekusi Lahan Cucian Mobil Belum Tuntas

Sementara itu, lima tersangka yang diamankan kemarin dikelompokkan menjadi dua. Empat orang dijerat dengan pasal 83 juncto pasal 76 UU nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang memiliki ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Empat orang itu adalah Muslimah, 52, warga Desa Patokpicis, Kecamatan Wajak; Sherly, 19, warga Kecamatan Gedangan; Alfin Teguh, 25, warga Desa Sumberpucung Kecamatan Sumberpucung; dan Harnadi, 21, warga Desa Ternyang, Kecamatan Sumberpucung.

Satu tersangka sisanya adalah Rizal Akbar, 18, warga Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran. Dia dijerat pasal 2 ayat 1 UU Nomor 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang. Kepolisian juga mengamankan barang bukti uang tunai Rp 1.150.000, 7 buah ponsel, pakaian dalam perempuan, sprei, sarung bantal, dan tiga paspor. (pri/fat)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/