25.9 C
Malang
Rabu, Februari 28, 2024

Pembunuh Ibu Angkat Dihukum 12 Tahun

MALANG KOTA – Kebiadaban Rakhmad Irwanto, 41, saat menghabisi nyawa ibu angkatnya, Nanik Suyati, 80, pada  24 November 2022 lalu masih diingat para tetangganya. Mereka pun merasa kurang puas saat hakim Pengadilan Negeri Malang menjatuhkan hukuman 12 tahun penjara kemarin (14/6). Warga Jalan Manyar, Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, berharap hukuman yang lebih berat, bahkan tak ingin Rakhmad kembali ke kampung tersebut.

Amar putusan itu dibacakan Ketua Majelis Hakim Mohammad Indarto SH MHum pada pukul 11.40. Rakhmad tidak hadir secara langsung di pengadilan, melainkan mengikuti secara daring dari Lapas Lowokwaru. Mengenakan baju putih lengan panjang dan peci hitam, wajahnya tampak murung sepanjang proses persidangan.

Majelis hakim menilai perbuatan Rakhmad melanggar pasal 338 KUHP tentang pembunuhan. Bukan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Karena itu, hakim hanya menjatuhkan hukuman 12 tahun penjara. Selisih 3 tahun dibanding ancaman hukuman maksimal pasal tersebut yang mencapai 15 tahun penjara.

Baca Juga:  Pecah Ban, Truk Pasir Hantam Pohon Trembesi di Kepanjen

Vonis dari majelis hakim itu juga lebih rendah jika dibandingkan tuntutan jaksa yang dibacakan pada 24 Mei 2023. Saat itu, penuntut umum meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman 14 tahun penjara. Salah satu pertimbangan majelis hakim yang meringankan hukuman adalah, terdakwa mengakui perbuatannya dan menyesal.

Menanggapi putusan tersebut, jaksa belum mengambil sikap apakah mengajukan banding atau tidak. ”Kami masih pikir-pikir karena terdakwa juga menyatakan demikian,” kata Jaksa Suudi SH kemarin.

Kuasa hukum terdakwa, Budi Santoso SH, menilai bahwa putusan yang dijatuhkan majelis hakim sudah tepat. Anggota LBH Lembaga Konsultasi dan Mediasi Masyarakat Marjinal (LK3M) itu menjelaskan bahwa kematian ibu angkatnya tidak diduga oleh Rakhmad. ”Semata-mata akibat luapan emosi. Karena pada saat kejadian, korban yang diajak berbicara diam saja,” imbuh dia.

Sikap diam korban itu membuat Rakhmad naik pitam. Dia lantas memukuli ibu angkatnya itu hingga meninggal. Dalam pemeriksaan juga terungkap kalau terdakwa sempat mencekik ibu angkatnya tersebut.

Baca Juga:  Waspadai! Komplotan Pencuri Berdaster Mulai Beraksi. Sasarannya Toko Pracangan

Kabar bahwa Rakhmad dihukum 12 tahun penjara itu juga langsung sampai ke lingkungan tempat dia tinggal. Mereka sempat berharap hukuman yang dijatuhkan hakim bisa lebih berat, yakni 15 hingga 20 tahun penjara.  ”Sampai sekarang warga tidak habis pikir mengapa dia begitu tega. Dirawat dan dibesarkan dari kecil, apa pun permintaannya dituruti korban,” kata Ketua RT 16 / RW 16 Sukun Jumari kepada Jawa Pos Radar Malang.

Warga juga masih mengingat perilaku kekejaman Rakhmad kepada ibunya sejak beberapa tahun lalu. Pasalnya, pemukulan terjadi setidaknya dua kali, yakni Agustus dan Desember 2021. Warga bahkan menganggap Rakhmad sebagai sosok pengganggu ketenteraman. ”Pada intinya warga ingin dia tidak kembali ke lingkungan ini,” tandasnya. (biy/fat)

MALANG KOTA – Kebiadaban Rakhmad Irwanto, 41, saat menghabisi nyawa ibu angkatnya, Nanik Suyati, 80, pada  24 November 2022 lalu masih diingat para tetangganya. Mereka pun merasa kurang puas saat hakim Pengadilan Negeri Malang menjatuhkan hukuman 12 tahun penjara kemarin (14/6). Warga Jalan Manyar, Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, berharap hukuman yang lebih berat, bahkan tak ingin Rakhmad kembali ke kampung tersebut.

Amar putusan itu dibacakan Ketua Majelis Hakim Mohammad Indarto SH MHum pada pukul 11.40. Rakhmad tidak hadir secara langsung di pengadilan, melainkan mengikuti secara daring dari Lapas Lowokwaru. Mengenakan baju putih lengan panjang dan peci hitam, wajahnya tampak murung sepanjang proses persidangan.

Majelis hakim menilai perbuatan Rakhmad melanggar pasal 338 KUHP tentang pembunuhan. Bukan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Karena itu, hakim hanya menjatuhkan hukuman 12 tahun penjara. Selisih 3 tahun dibanding ancaman hukuman maksimal pasal tersebut yang mencapai 15 tahun penjara.

Baca Juga:  Waspadai! Komplotan Pencuri Berdaster Mulai Beraksi. Sasarannya Toko Pracangan

Vonis dari majelis hakim itu juga lebih rendah jika dibandingkan tuntutan jaksa yang dibacakan pada 24 Mei 2023. Saat itu, penuntut umum meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman 14 tahun penjara. Salah satu pertimbangan majelis hakim yang meringankan hukuman adalah, terdakwa mengakui perbuatannya dan menyesal.

Menanggapi putusan tersebut, jaksa belum mengambil sikap apakah mengajukan banding atau tidak. ”Kami masih pikir-pikir karena terdakwa juga menyatakan demikian,” kata Jaksa Suudi SH kemarin.

Kuasa hukum terdakwa, Budi Santoso SH, menilai bahwa putusan yang dijatuhkan majelis hakim sudah tepat. Anggota LBH Lembaga Konsultasi dan Mediasi Masyarakat Marjinal (LK3M) itu menjelaskan bahwa kematian ibu angkatnya tidak diduga oleh Rakhmad. ”Semata-mata akibat luapan emosi. Karena pada saat kejadian, korban yang diajak berbicara diam saja,” imbuh dia.

Sikap diam korban itu membuat Rakhmad naik pitam. Dia lantas memukuli ibu angkatnya itu hingga meninggal. Dalam pemeriksaan juga terungkap kalau terdakwa sempat mencekik ibu angkatnya tersebut.

Baca Juga:  Perempuan Muda Tewas Tertabrak Kereta Api

Kabar bahwa Rakhmad dihukum 12 tahun penjara itu juga langsung sampai ke lingkungan tempat dia tinggal. Mereka sempat berharap hukuman yang dijatuhkan hakim bisa lebih berat, yakni 15 hingga 20 tahun penjara.  ”Sampai sekarang warga tidak habis pikir mengapa dia begitu tega. Dirawat dan dibesarkan dari kecil, apa pun permintaannya dituruti korban,” kata Ketua RT 16 / RW 16 Sukun Jumari kepada Jawa Pos Radar Malang.

Warga juga masih mengingat perilaku kekejaman Rakhmad kepada ibunya sejak beberapa tahun lalu. Pasalnya, pemukulan terjadi setidaknya dua kali, yakni Agustus dan Desember 2021. Warga bahkan menganggap Rakhmad sebagai sosok pengganggu ketenteraman. ”Pada intinya warga ingin dia tidak kembali ke lingkungan ini,” tandasnya. (biy/fat)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/