Kreatif, Tak Punya Ruang, Bikin Perpus Terbuka

KOTA BATU – Cara kreatif untuk meningkatkan minat baca siswa ditunjukkan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Ulum Kota Batu. Yakni dengan membuat outdoor library (perpustakaan di luar ruangan).

Perpustakaan ini memanfaatkan tiang di setiap sudut sekolah untuk menjadi rak buku. Ini cara menyiasati karena memang sekolah yang dihuni lebih dari 200 siswa ini tidak punya ruangan khusus. Pendek kata, tidak ada ruangan, tiang pun jadi untuk memajang ratusan buku beragam judul.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Batu, tampak beberapa buku fiksi tertata rapi di setiap tiang. Beberapa siswa bahkan terlihat rebutan mengambil buku yang tertata di rak yang terbuat dari kayu bekas itu. Tampak juga, para penjaga yang sedang sibuk mendata buku pinjaman teman-temannya.

Kepala MI Darul Ulum Ulul Azmi Lutfi menyampaikan jika awalnya merasa bosan dengan sistem perpustakaan yang menoton. Jadi, dia pun mulai berinovasi dan mengajak seluruh wali murid untuk berdiskusi.


Akhirnya, ditemukanlah pola pembuatan outdoor library tersebut. ”Awalnya juga karena kami tidak memiliki ruang. Maka didiskusikanlah yang akhirnya sepakat untuk membuat perpustakaan konsep seperti itu,” ujarnya.

Azmi menambahkan, semua properti yang digunakan dalam pembuatan rak buku itu dari barang-barang bekas. Yaitu, berupa kayu-kayu bekas milik wali murid. Di mana semua barang-barang bekas itu dipoles dan dibentuk sedemikian rupa agar menarik bagi siswa. ”Awalnya saya mau pakai konsep ukiran dan lain sebagainya. Tapi, ada wali murid yang mengusulkan dibuat berbeda (menggunakan barang bekas, Red). Saya iyakan saja dan jadilah seperti itu,” ungkapnya.

Dalam teknisnya, dia menjelaskan jika semua itu digarap siswa. Mulai dari promosi, penjagaan, dan perawatannya. Jadi, di samping siswanya diajarkan semangat literasi, juga agar memiliki tanggung jawab dengan perpustakaan sekolahnya. ”Kami serahkan semuanya kepada siswa. Kami di sini hanya mengontrol. Apa yang kurang dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Meski begitu, bukan berarti dilepas sepenuhnya. Tapi, dalam teknisnya juga ada reward dan punishment. Di mana setiap siswa yang membaca paling banyak akan mendapatkan reward dari sekolah.

Sedangkan siswa yang tidak pernah membaca buku sama sekali akan mendapatkan punishment. ”Reward-nya dapat uang Rp 1.000 dalam setiap buku yang dibaca. Punishment-nya didenda Rp 10.000 yang nantinya juga akan kembali digunakan untuk pengadaan buku,” jelasnya.

Tak hanya kepada pembaca, reward juga diberikan kepada para penjaga outdoor library. Di mana di setiap tiang yang berjumlah 6 buah itu ada penjaganya. Dan penjaga yang tiangnya paling banyak bukunya dibaca akan mendapatkan reward.

Jadi, penjaganya mempromosikan sendiri agar tiangnya itu banyak didatangi temannya. ”Eeee… di tiang saya ada buku baru. Ayo baca di sini,” ujarnya saat menirukan bahasa siswanya itu.

Dengan adanya hal tersebut, dia mengungkapkan jika semangat belajar dan membaca lumayan tinggi. Hal itu diketahui dengan catatan setiap bulan, ada 107 buku lebih yang dibaca oleh siswanya. ”Bersyukurlah.

Jika siswa kami ada peningkatan dalam gemar membaca. Jadi, dengan tidak sengaja kami juga menjalankan instruksi pemerintah dalam mengajak siswa agar gemar membaca,” ungkap dia bangga.  

Pewarta               : Badar
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Abdul Muntholib
Fotografer          : M.Badar Risqullah