Kreasi Siswa SDN Kiduldalem 1 di Ajang GSF: Dari Mukidi hingga Jus Buah Naga

MALANG KOTA – Beragam kreasi siswa-siswi bermunculan seiring digelarnya ajang Green School Festival (GSF) oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang. Seperti yang terlihat di SDN Kiduldalem 1 kemarin (17/11). Saat digelar visitasi tahap akhir, tim juri GSF menemukan sejumlah kreasi yang cukup menyita perhatian. Di antaranya, kemampuan siswa-siswi mengolah sendiri jus dari buah naga. Bahkan, buah naganya pun hasil tanaman di lingkungan sekolah itu sendiri.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Malang Drs Zubaidah MM bersama Direktur Radar Malang Kurniawan Muhammad yang mengunjungi sekolah tersebut ikut mencicipi jus buah naga kreasi siswa.

”Jus buah naga tersebut adalah produk unggulan hasil kebun sekolah yang ditanam secara terasiring di samping sekolah. Jus ini diolah sendiri oleh para siswa,” ungkap Irina Rosemaria, kepala SDN Kiduldalem 1, yang ikut mendampingi Zubaidah kemarin.

Menurut dia, khasiat jus buah naga ini bermacam-macam. Bisa untuk mencegah penyakit diabetes dan menjaga kesehatan tulang.

Selain itu, siswa-siswi di sekolah ini juga mampu membuat majalah dinding (mading) yang dinamai dengan ”Mukidi” (Majalah Kiduldalem 1). Desain mading Mukidi itu cukup apik. Yakni, didesain seperti halaman Facebook dan dilengkapi berbagai informasi. Di mading inilah, para siswa mendapatkan info-info terbaru yang disajikan awak redaksi siswa SDN Kiduldalem 1.

Di SDN tersebut, para siswa juga menunjukkan hasil pengolahan sampah organik yang menjadi pupuk kompos.

Kehadiran tim juri bersama rombongan kadisdik kemarin mendapat sambutan istimewa dari para siswa. Karena begitu rombongan memasuki gang menuju sekolah, ada sebuah gapura dari sapu lidi yang disajikan oleh pasukan Teater Klinting. Setelah tiba di sekolah, rombongan tim juri dikalungi bunga melati.

Para siswa juga menampilkan beragam kreasi seni. Yang pertama, ada tampilan kelompok rebana Mutiara Naga yang mempersembahkan nyanyian salawatan. Selanjutnya, ada Teater Klinting yang mempertunjukkan drama tentang perjuangan para pasukan lingkungan menyingkirkan sampah. Pesan moral dari pertunjukan ini ingin menyampaikan kepada seluruh warga sekolah jika menaklukkan sampah tidak bisa hanya satu hingga dua orang. Tapi, masyarakat perlu bersatu bergotong royong untuk menjaga kebersihan lingkungan dari masalah sampah. Ketiga, penampilan fashion show busana daur ulang dari koran.

Kadisdik Kota Malang Zubaidah menegaskan, ajang GSF memberi dampak positif yang besar. Tidak hanya melatih kepedulian terhadap lingkungan, tapi juga meningkatkan potensi kreativitas para peserta didik. Selain itu, membangun kekompakan yang sangat bagus antarelemen sekolah, baik itu siswa, guru, maupun para orang tua juga turut andil dalam program GSF ini.

”Dari event ini juga kita benar-benar menunjukkan bahwa menjaga kebersihan dan merawat keindahan itu penting,” tambahnya.

Menurut dia, program ini juga menjadi salah satu penerapan miniatur penguatan pendidikan karakter (PPK). Mulai dari sikap nasionalisme siswa, anak berani menampilkan seni budaya, serta mau gotong royong. Di ajang ini, para siswa juga dilatih mencari permasalahan di lingkungan sekolah dan mencari solusinya.

”SDN Kiduldalem 1 ini kecil, tapi apik (bagus). Hebat, bisa memanfaatkan dengan baik lahan sekolah yang ada meski dari segi ekonomi, masyarakat di sini masih termasuk ekonomi menengah ke bawah,” puji Zubaidah.

Tak kalah kreatif siswa di SDN Bandulan 4. Ketika tiga tim juri datang disuguhi beberapa produk unggulan. Di antaranya, pot pori. Meski namanya ada kata potnya, bukan berarti ini adalah program penanaman tanaman. Ini justru produk pengharum ruangan alami. Media yang digunakan adalah lepek kecil.

Sofi, kader lingkungan SDN Bandulan 4, menjelaskan, bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan pewangi ini, di antaranya pandan yang direndam selama 1–2 hari. Selanjutnya, ditambahkan bunga kenanga, mawar, melati, cengkih, jeruk nipis, dan kayu manis yang diiris kecil-kecil, lalu dikeringkan selama seminggu. Proses pengeringan ini tidak boleh terkena sinar matahari.

”Ini merupakan salah satu tugas bidang IPA di kelas 3, yang rencananya akan diperbanyak untuk tiap-tiap kelas dan kamar mandi,” terang Sofi.

Selanjutnya, masih berhubungan dengan wangi-wangian, di sekolah ini juga memanfaatkan sabun untuk kerajinan tangan. Sabun-sabun ini diubah menjadi hiasan yang bisa diletakkan di meja seperti berbentuk mobil-mobilan, bus, keris, maupun suvenir lainnya. Ada juga sabun yang dibalut kain dan jarum pentul sehingga seolah-olah menjadi vas bunga kecil.

Tak berhenti sampai di situ, masih ada kreasi daur ulang yang difungsikan untuk media pembelajaran. Di sini juga ada kerajinan wayang dari karton hasil karya kelas IV–VI.

”Awalnya banyak terjadi penumpukan karton bekas kardus minuman di kantin. Nah, daripada dibuang percuma, kami pun berinisiatif membuat wayang-wayangan,” ungkap Susmiati, guru bahasa Inggris SDN Bandulan 4.

Wayang ini dipergunakan sebagai media bercerita saat pelajaran bahasa Indonesia dan juga menjadi alat peraga lomba mendongeng. Dari produk makanan, siswi-siswi juga membuat kreasi puding dari singkong.

Dwista, siswi kelas V, menjelaskan, ini bermula dari kebanyakan anak-anak tidak menyukai singkong. Padahal, di sekitar sekolah banyak tanaman singkong. Setelah membaca salah satu buku, ternyata singkong bisa diolah jadi puding. Dari situlah dia mencoba-coba membuat makanan olahan itu.

”Cara pembuatannya, singkong dikupas kulitnya, kemudian dipotong-potong dan dihaluskan, bisa dengan menggunakan blender,” terang Dwista kepada tim juri.

Setelah itu, imbuh Dwista, singkong dimasak dengan air dan dicampur gula. Lalu, diaduk rata hingga mendidih dan dituangkan pewarna alami dari pandan. Selanjutnya, adonan siap dituangkan di cetakan agar-agar, baru diberi sokade (penghias makanan dari buah dan kismis). Setelah didinginkan, puding singkong siap disajikan.

Pewarta: NR3
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Rubianto