KPPOD Minta Pemerintah Tinjau Ulang Seluruh Pengaturan OSS

KPPOD Minta Pemerintah Tinjau Ulang Seluruh Pengaturan OSS - JPNN.com

Peneliti KPPOD Boedi Rheza (kanan) dan Kepala Seksi Dukungan Teknis Sistem BKPM Fitriana Aghita Pratama dalam diskusi media di Jakarta, Rabu (11/9). Foto: ANTARA/Ahmad Buchori

jpnn.com, JAKARTA – Komite Pengawas Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) menganjurkan pemerintah pusat meninjau ulang seluruh regulasi terkait dengan sistem pelayanan perizinan terintegrasi berbasis elektonik atau online single submission alias OSS, agar tidak ada aturan yang tumpang tindih.

“Selain itu, pemerintah pusat harus cepat mengupayakan integrasi sistem OSS dengan sistem mandiri daerah dan memperbaiki fitur OSS sehingga menimalisasai kendala teknis yang memperlambat birokrasi pelayanan,” kata peneliti KPPOD Boedi Rheza dalam diskusi media di Jakarta, Rabu (11/9).

Sedangkan pemerintah daerah, katanya, baik secara sendiri-sendiri maupun dibantu pemerintah pusat, perlu mematangkan infrastruktur pendukung seperti unit komputer dan internet, SDM, anggaran dan sosialisasi sehingga mendukung terciptanya perizinan OSS yang lebih optimal.



Boedi menjelaskan KPPOD melakukan studi evaluasi pelaksanaan OSS setelah setahun dilaksanakan pada Juli 2018. Studi ini dilakukan di enam provinsi, termasuk satu kabupaten dan kota di propinsi tersebut, yakni DKI Jakarta, Sumatera Utara (Deli Serdang dan Toba Samosir), Kalimantan Barat (Pontianak dan Kubu Raya), Jawa Timur (Surabaya dan Sidoarjo), Nusa Tenggara Barat (Lombok Tengah dan Kota Mataram) dan Sulawesi Selatan (Makassar dan Maros).

Dia mengatakan, studi itu menemukan masalah OSS pada tiga aspek yang berperan pada suksesnya implementasi OSS yakni regulasi, sistem dan tata laksana. “Ketiga aspek itu adalah tantangan umum OSS di berbagai daerah,” katanya.

Dia mengatakan pada aspek regulasi pusat, norma, prosedur, standar dan kriteria (NPSK) sektoral yang idealnya menjadi petunjuk teknis pelayanan izin, tidak konkret menerjemahkan PP No.24/2018 ke dalam prosedur yang mudah diikuti.

Sebagai contoh, untuk mendapatkan izin usaha industri (IUI), pelaku usaha diharuskan mendaftar lagi ke aplikasi Sistem Informasi Industri Nasional (SIINAS). Padahal PP No.24/2018 jelas tidak mempersyaratkan hal itu. Implikasinya terjadi berbagai macam variasi pada pelayanan izin di berbagai daerah.

Selain NPSK, kebermasalahan OSS juga tergambar dalam persoalan disharmoni PP 24.2018 dengan UU No.25/2007 tentang Penanaman Modal dan UU No.23/2014 tentang Pemda.

“Disharmoni menyangkut kewenangan memberi izin yang sebelumnya di tangan kepada daerah sekarang berpindah ke lembaga OSS,” katanya.

Sementara pada aspek sistem, menurut Boedi, salah satu kelemahan sistem OSS adalah fitur penentuan lokasi usaha yang belum sinkron dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) serta ketersediaan Rencana Detil Tata Ruang (RDTR).

Sedangkan pada aspek tata laksana, OSS masih menemui kendala, baik di tingkat pusat maupun daerah. Pada tingkat pusat, sistem OSS belum terintegrasi utuh dengan sistem perizinan Kementerian/Lembaga, sementara di daerah masih terdapat banyak pemda yang memiliki sistem perizinan daerah mandiri berbasis aplikasi yang belum terintegrasi dengan sistem OSS. (ahmad/ant/jpnn)