Korban Pelecehan Dimungkinkan Bertambah

Sumber lain yang didapat koran ini menyebut ada indikasi bertambahnya korban pelecehan oleh oknum guru tidak tetap (GTT) yang sudah dikeluarkan oleh SMPN 4 Kepanjen. Tidak hanya berjumlah 14 siswa, seperti yang disebutkan pada berita di koran ini edisi 5 Desember 2019.

”Kami menerima laporan bahwa ada salah satu korban yang mengalami trauma. Dia sekarang sudah duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA),” kata sumber yang berlatar belakang aktivis tersebut.

Indikasi tersebut kali pertama diketahui salah satu wali murid lewat postingan status media sosial milik anaknya. Postingan itu berisi potongan wajah CH beserta caption. Isinya menunjukkan kemarahan atas perbuatan tidak senonoh yang sudah dilakukan CH saat dirinya masih bersekolah di SMP Negeri 4 Kepanjen.

”Setelah kami bertemu dengan orang tuanya, ibu korban menyampaikan bahwa anaknya pernah mengeluh sakit di bagian duburnya. Tapi, pada saat itu orang tua anak ini belum menyadari kalau putranya menjadi korban asusila oleh gurunya,” tambah sumber tersebut.

Setelah didalami oleh ibunya, anak tersebut diketahui pernah tidak mau masuk sekolah selama 6 bulan. ”Ngakunya ke ibunya karena alasan pelajaran agamanya nggak bagus.

Waktu itu pelaku juga sempat datang ke rumah korban dan responsnya si anak ini tadi langsung menutup semua pintu dan jendela rumahnya,” tambah pria yang berperawakan semampai tersebut. Dengan dasar itulah, dia mengindikasi ada kemungkinan bertambahnya korban lain.

Adanya kemungkinan itu tidak dibantah Kepala SMP Negeri 4 Kepanjen Drs Suprianto MPd. Dia yang mengetahui adanya kasus tersebut pada Jumat pekan lalu (29/11) memang sudah melakukan pendalaman awal.

”Masih bisa bertambah korbannya, hari ini (kemarin) ada beberapa orang tua murid yang datang ke sekolah kami,” kata Suprianto. Dia menuturkan bahwa kedatangan para wali murid tersebut bertujuan untuk memastikan agar anaknya dalam kondisi aman.

”Mereka khawatir dengan munculnya berita ini akan ada pihak yang mengancam keselamatan anaknya. Ada ketakutan bahwa para siswa ini akan dicederai oleh orang lain, termasuk juga kekhawatiran atas kemungkinan adanya intimidasi,” sambung Suprianto.

Dia pun memastikan bila pihaknya menjamin keamanan para siswa yang menjadi korban. ”Saya bersama teman-teman bapak ibu guru sudah pasti mengamankan mereka (korban),” ujarnya.

Dari pengamatan koran ini, kemarin ada dua orang tua murid yang mendatangi sekolah. Terkait dengan laporan pada aparat yang berwajib, Suprianto mengaku bila pada Rabu (4/12) sudah ada salah satu orang tua korban yang sudah melapor.

”Sudah ada, kemarin kalau nggak salah. Dia mohon izin melapor (ke polisi), dan saya sampaikan monggo itu hak jenengan (silakan itu hak Anda),” kata dia.

Pewarta : Farik Fajarwati
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Bayu Mulya