Korban Asmara, Mahasiswi Akhiri Hidup

MALANG KOTA – Aksi nekat dilakukan Rensiana Jedo Wolor, 22, mahasiswi semester III Jurusan Manajemen Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama). Dia ditemukan tak bernyawa dalam kondisi leher menggantung menggunakan syal Unikama di plafon lantai II kamar kosnya, Jl Raya Kepuh No 19, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang, kemarin (7/8) sekitar pukul 09.30.

Kuat dugaan dia bunuh diri. Sebab, saat kali pertama ditemukan oleh pemilik kosnya, Rantiyah, lidah mahasiswi asal Desa Wainula, Kecamatan Wulanggintang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu sudah menjulur serta keluar kotoran dan air seni.

Motif bunuh diri itu sendiri diduga karena ada persoalan asmara. Sebab, sebelum melakukan aksi konyol itu, pada Sabtu malam (5/8) sekitar pukul 21.00, terjadi cekcok antara Rensi dan kekasihnya BR di mulut gang rumah kos Rensi. Sebelumnya, dikabarkan pasangan kekasih yang satu almamater itu juga kerap adu mulut.

”Malah pas hari Minggu (6/8), Rensi sampai dibenturkan ke tembok (gang) oleh kekasihnya,” tutur salah seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Sementara menurut Rantiyah, ibu kos korban, dia menemukan Rensi sudah dalam kondisi terkulai tidak bernyawa. Saat itu, dia bermaksud menjemur pakaian di lantai II. ”Saya kaget melihat dia duduk di lantai atas sendirian. Ternyata dia sudah tidak bernyawa,” tutur Rantiyah.



Sontak, dia menjerit dan memanggil kedua anak perempuannya. Kemudian Rantiyah berusaha meminta pertolongan warga.

”Begitu mengetahui ada kasus bunuh diri, saya langsung menghubungi polisi yang biasanya berjaga di depan kampus,” ucap Zainul Arifin, salah seorang warga, yang datang setelah mendengar jeritan minta tolong dari Rantiyah.

Kemarin sekitar pukul 10.00, polisi langsung mendatangi lokasi dan mengamankan tempat kejadian perkara (TKP). Di lokasi itu, ada bercak darah berceceran. ”Mungkin dia menyayat tangannya, lalu menggantung lehernya di lantai atas,” ungkap Rantiyah.

Kapolsek Sukun Kompol Anang Tri Hananta menyebutkan jika indikasi kuat korban melakukan bunuh diri. Tidak ada tanda-tanda kekerasan. Kalau ada darah di tangannya karena diduga sebelum gantung diri, korban menyayat pergelangan tangannya.

”Jika melihat dari kondisi korban, memang ada indikasi bunuh diri,” tegas Anang Tri Hananta kemarin.

Terkait penyebab dia bunuh diri, polisi masih memburu BR, pacar korban. Tujuannya untuk memastikan kebenaran adanya cekcok sebelum terjadi aksi bunuh diri itu. ”Nanti akan kami cari kekasihnya (BR), biar semuanya jelas,” imbuh dia.

Menurut pemilik warung yang tidak jauh dari kosan itu, Rensi bahkan masih sempat membeli lauk di warung nasi miliknya pada Minggu pagi (6/8). Dari informasi yang dihimpun oleh Jawa Pos Radar Malang, Rensi memang dikenal sebagai anak yang pendiam dan jarang berinteraksi dengan para warga. Rensi sendiri sering murung setelah tiba dari Flores, kampung halamannya, pada Jumat pagi (4/8).

Pewarta: Gigih Mazda & Desak Putu
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Bayu Eka