Kondisi Normal, Status di Kota Batu Masih Darurat Bencana

Mendung pekat terlihat di atas Masjid Agung An Nur, Kota Batu, beberapa hari lalu.

KOTA BATU – Status siaga darurat bencana yang sempat disematkan pada Kota Batu dalam waktu dekat akan dicabut. Selain intensitas hujan di kota wisata ini sudah berkurang, sejak awal bulan lalu tidak ada kejadian bencana di kota dingin ini. Berbeda dengan Januari hingga Maret lalu, saat insitas hujan sangat tinggi hingga menyebabkan pohon tumbang, tanah longsor, dan banjir di sejumlah titik.

Kepala Seksi Penanggulanan Bencana Pusdalops BPBD Kota Batu Abdul Rochim mengatakan, saat ini cuaca di Kota Batu memang dalam kondisi normal.

”Sebenarnya untuk status siaga darurat kebencanaan itu sampai 30 April. Tapi sekarang ini sudah mulai normal,” katanya kemarin (21/4).

Meski demikian, kondisi cuaca akan tetap dipantau. Sebab, sekarang memasuki musim pancaroba atau musim peralihan dari hujan ke musim kemarau.

”Dari laporan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) juga demikian, curah hujan sudah turun,” kata Rochim.



Artinya, ancaman banjir dan tanah longsor sudah berkurang. ”Kalau status siaga darurat kebencanaan itu kan karena hujan yang deras kemarin, dan ada kerawanan terjadi tanah longsor dan banjir di beberapa titik. Sejak 1 April sampai hari ini (kemarin, Red) juga belum ada laporan bencana,” kata dia.

Di pun mengamini kemungkinan status di Kota Batu kembali normal dalam waktu dekat. ”Namun karena pancaroba, yang kami waspadai justru angin kencang,” ucap Rochim.

Sebab, kata dia, saat musim pancaroba, biasanya angin kencang selalu terjadi. Saat ini, pemantauan pada ranting dan pohon rawan tumbang terus dilakukan. ”Kalau memang nantinya kami temukan, akan ada pemotongan,” imbuhnya.

Sementara itu, menyambut musim kemarau, menurut dia, Kota Batu tidak mendapatkan ancaman yang serius, seperti kekeringan. ”Kalau wilayah kekeringan tidak ada. Beda dengan di daerah lain, mungkin,” katanya.

Namun, memang ada sebagian kawasan pertanian yang kekurangan air. ”Kekurangannya juga tidak banyak atau tidak sampai kekeringan. Hanya lahan yang semula ditanam sayur yang butuh air banyak, harus diganti dengan tanaman yang butuh air lebih sedikit saja,” pungkasnya.

Pewarta: Aris Dwi
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Rubianto