Kompleknya Masalah Remaja, Rentan Dibully Hingga Bunuh Diri

JawaPos.com – Permasalahan remaja bisa menjadi pintu gerbang pembentukan karakter di masa depan. Bahkan, masa remaja yang dilalui dengan ancaman bullying atau perundungan, bisa memicu resiko stres hingga bunuh diri.

Dalam tesis, Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ dari Universitas Indonesia (UI) berjudul ‘Deteksi Dini Faktor Risiko lde Bunuh Diri Remaja di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas/ Sederajat di DKI Jakarta’, didapatkan 5 persen pelajar dari 910 pelajar SMAN dan SMKN akreditasi A di DKI Jakarta memiliki ide bunuh diri. Ini bisa berasal dari perundungan yang dilakukan oleh teman-teman sepermainan.

“Remaja itu benar-benar kompleks. Serba salah ya jadi yang paling cantik salah, paling jelek salah, paling pintar salah, perundungan selalu ada,” kata dr. Nova baru-baru ini di Kampus UI Depok.

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ dari Universitas Indonesia (UI) meneliti dalam tesisnya yang berjudul ‘Deteksi Dini Faktor Risiko lde Bunuh Diri Remaja di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas/ Sederajat di DKI Jakarta. (dok panitia)

Dia memberikan contoh kasus ketika seorang remaja dibully teman-temannya hanya karena bersikap baik. Remaja A tersebut begitu baik dan patuh di kelas. Hal itu dianggap tak sejalan dengan teman-temannya.



“Ada seorang anak di-bully hanya karena dia terlalu baik, terlalu rajin, pendiam, pintar, sopan dan patuh pada guru. Alasannya, ah dia enggak asyik. Padahal sudah berbuat benar pun salah,” jelas dr. Nova.

Pelajar yang terdeteksi berisiko bunuh diri memiliki risiko 5,39x lebih besar untuk mempunyai ide bunuh diri. Hal itu setelah dilakukan kontrol terhadap umur, sekolah, gender, pendidikan ayah, pekerjaan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status cerai orangtua, etnis, keberadaan ayah, keberadaan ibu, kepercayaan agama, depresi, dan stresor.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Global Estimates 2017 menunjukkan kematian global akibat bunuh diri yang tertinggi berada pada usia 20 tahun, terutama pada negara yang berpenghasilan rendah dan menengah dan di tahun 2016. WHO mencatat, kematian pada remaja laki-laki usia 15-19 tahun disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, kekerasan interpersonal, dan menyakiti diri sendiri. Sementara perempuan disebabkan oleh kondisi maternal dan menyakiti diri sendiri.

Menurut Riskesdas 2013, pada sampe| populasi usia 15 tahun keatas sebanyak 722.329, prevalensi keinginan bunuh diri sebesar 0,8 persen pada Iaki-Iaki dan 0,6 persen pada perempuan. Selain itu, keinginan bunuh diri lebih banyak terjadi di daerah perkotaan daripada di desa.

lde bunuh diri, ancaman dan percobaan bunuh diri, kata dia, merupakan hal serius yang harus segera ditangani sehingga dibutuhkan langkah preventif untuk menurunkan angka kejadiannya. Untuk kasus bunuh diri pada remaja, salah satu hal penting yang dapat dilakukan yaitu deteksi dini, yang bertujuan untuk menemukan faktor risiko penyebab bunuh diri pada remaja.

“Dalam penelitian ini ditemukan beberapa faktor risiko yaitu pola pikir abstrak yang menimbulkan perilaku risk taker, transmisi genetik yang dapat menimbukan sifat agresif dan impulsif, memiliki riwayat gangguan jiwa lain, lingkungan sosial yang tidak mendukung, dan penyalahgunaan akses internet yang merupakan beberapa alasan remaja memiliki ide bunuh diri,” tutup dr.Nova

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani