Komoditas Kopi Sulit Penuhi Kuota Ekspor

KARANGPLOSO – Problem klasik masih menghantui petani kopi di Kabupaten Malang. Problem yang dimaksud yakni pemenuhan permintaan pasar ekspor.  Bupati Malang Dr H. Rendra Kresna menjelaskan, permintaan kopi Dampit saat ini menembus angka 70 ribu ton per tahun. ”Tapi, hingga sekarang Kabupaten Malang masih bisa memenuhi 30 ribu ton. Sementara sisanya mereka ambil dari daerah lain,” kata Rendra saat ditemui di sela-sela acara Malang Coffee Ethnic kemarin (2/10).

Untuk meningkatkan produktivitas tersebut, berbagai upaya sudah dilakukan pemkab. ”Salah satunya mengajak petani untuk kembali semangat menanam kopi,” sambung Ketua DPW Partai Nasdem Jawa Timur itu. Dari pengamatannya, ada beberapa penyebab di balik rendahnya produktivitas kopi dari Kabupaten Malang. Salah satunya karena rendahnya harga jual kopi saat musim panen tiba. ”Karena hanya panen sekali setahun dan ketika panen justru harganya jatuh. Makanya mereka (petani) memilih menanam yang lain,” imbuhnya.

Upaya persuasif pun terus didorong Pemkab Malang. Melalui dinas tanaman pangan perkebunan dan hortikultura (DTPHP), sejumlah program sudah diterapkan. ”Salah satunya bagaimana caranya agar produk kopi ini tidak hanya dijual secara gelondongan. Tapi, juga diolah menjadi produk lain yang bernilai ekonomi lebih tinggi,” sambung Rendra.

Kepala DTPHP Kabupaten Malang Budiar Anwar menambahkan, saat ini ada sekitar 20 ribu hektare lahan kopi di kabupaten. Dari total luasan tersebut, baru 14 ribu hektare yang memiliki produktivitas tinggi. Dia juga menjabarkan beberapa tantangan lain yang dihadapi petani kopi. ”Negara-negara penghasil kopi seperti Vietnam, Argentina, dan Kolombia akan memasuki fase panen raya. Makanya dari sekarang kami harus mempersiapkan petani kopi agar tidak merugi pada musim panen berikutnya,” jelas dia.

Pewarta: Farik Fajarwati
Copy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Bayu Mulya
Foto: Falahi Mubarok