Komisi Eropa Keluarkan Dana Rp 2 Kuadtriliun Guna Menanggulangi Penurunan Populasi Lebah

MALANG – Rusia Tengah menghadapi masalah penurunan produksi madu dengan penurunan besar populasi lebah dalam beberapa bulan terakhir. Kepala serikat peternak lebah Rusia, Arnold Butov, mengatakan 20 daerah termasuk Bryansk dan Kursk, selatan Moskow, Saratov, dan Ulyanovsk di Sungai Volg telah melaporkan kematian lebah massal.

Dilansir dari BBC, Senin (22/7), para pejabat menyalahkan penggunaan pestisida yang diatur dengan buruk sebagai penyebab penurunan populasi lebah di Rusia. Yulia Melano, di layanan inspeksi pedesaan Rosselkhoznadzor, mengeluh bahwa agensinya telah kehilangan sebagian besar kekuatannya untuk mengendalikan penggunaan pestisida sejak 2011.

Lebah merupakan aset yang penting bagi Rusia. Dengan itu, Rusia mampu menghasilkan sekitar 100.000 ton madu setiap tahun. Dan dengan merosotnya populasi lebah akhir-akhir ini, diperkirakan bahwa Rusia akan mengalami kerugian.

Ada kekhawatiran bahwa kematian lebah tidak hanya akan meningkatkan harga madu, tetapi juga makanan populer lainnya. Krisis telah menyebar sejauh wilayah Altai di Siberia, lebih dari 4.000 km (2.485 mil) timur Moskow.
Populasi lebah yang menurun telah menyebabkan kekhawatiran luas di Eropa, dengan para ahli menyalahkan krisis pada kombinasi faktor: perubahan iklim, pestisida – terutama neonicotinoid – dan tungau varroa yang menyebar dalam sarang lebah.

Pada bulan April 2018, UE memberlakukan larangan hampir total terhadap neonicotinoid karena bahaya yang mereka lakukan terhadap lebah dan penyerbuk lainnya. Bulan Juni kemarin, peringatan tersebut kembali diutarakan. Meskipun begitu, Robert Aigoin, presiden serikat petani keluarga Modef, dan peternak lebah lainnya menyalahkan perubahan iklim, mencatat bahwa salju akhir telah diikuti oleh gelombang panas yang parah di Perancis.



Prancis sendiri merupakan penghasil madu utama di UE, bersama dengan Spanyol, Jerman, Rumania, Polandia, Hongaria, dan Yunani. Sekitar 250.000 ton madu diproduksi di UE setiap tahun. Blok ini adalah produsen terbesar kedua di dunia, sementara China menghasilkan paling banyak – lebih dari 500.000 ton.

Pada bulan Mei lalu, Komisi Eropa menerima Inisiatif Warga Negara Eropa (ECI) yang disebut “Selamatkan lebah!”. Warga mendesak langkah-langkah yang lebih keras untuk meningkatkan keanekaragaman hayati, melalui inisiatif konservasi, larangan pestisida dan pembatasan pupuk. Jika penyelenggara ECI mengumpulkan satu juta atau lebih tanda tangan dalam waktu satu tahun, Komisi harus mempertimbangkan untuk membuat undang-undang tentang proposal tersebut.

Guna mendukung sektor perlebahan Uni Eropa, komisi menyediakan € 120m arau hampir setara dengan Rp 2 kuadtriliun selama tiga tahun ke depan. Jumlah itu juga akan dicocokkan dengan kontribusi dari negara-negara anggota.

Penulis: Risma Kurniawati
Foto: Istimewa