Koleksi 15 Medali, Masuk Atlet Proyeksi Jawa Timur

Potensi Danu Khyarol Qisti di cabang olahraga selam mulai tercium. Sudah mengoleksi 15 medali, namanya kini masuk daftar proyeksi atlet andalan Jawa Timur. Dia pun mendapat kesempatan khusus belajar selam kategori OBA (orientasi bawah air).

Potensi Danu Khyarol Qisti di cabang olahraga selam mulai tercium. Sudah mengoleksi 15 medali, namanya kini masuk daftar proyeksi atlet andalan Jawa Timur. Dia pun mendapat kesempatan khusus belajar selam kategori OBA (orientasi bawah air).

Ditemui koran ini kemarin (17/1), Danu Khyarol Qisti awalnya malu-malu menceritakan sepak terjangnya di cabor (cabang olahraga) selam. Di sekolahnya, SMAN 1 Tumpang, dia memang dikenal pendiam. Namun, siapa sangka jika capaiannya di cabor selam cukup mentereng.

Total, siswa kelas X ini sudah mengoleksi 15 medali. Semua didapatkan pada 2017 lalu. Terakhir, dia meraih juara I di ajang Kejurnas (Kejuaraan Nasional) Surabaya akhir 2017 lalu. ”Itu juara di nomor 4 kali 100 meter KU (kelompok umur) 15 tahun,” terangnya.

Danu–sapaan akrabnya– kemudian bercerita awal mula perkenalannya dengan dunia selam. Saat kali pertama mengenal dunia yang membesarkan namanya itu, dia masih berusia 10 tahun. Ketika duduk di bangku kelas IV SD. Ialah sang ibu yang memperkenalkannya pada dunia selam. Semua bermula ketika dia diikutkan kursus renang.

Setahun menjalani rutinitas itu, ketertarikannya mulai muncul. Pelatih Danu pun memberikan rekomendasi dan tantangan yang baru. Yakni, mengikuti lomba selam. Danu menyambut rekomendasi itu. Dia belajar rutin selama tiga minggu. Sebelum kemudian turun di perlombaan tingkat Malang Raya. Hasilnya tak buruk karena di lomba yang pertama, dia mampu menggondol medali perunggu.

”Medali awal itu seperti mengajak saya untuk semakin tekun berlatih. Ternyata ikut selam memang menarik dan banyak dapat medali,” tambah putra pasangan Sudarso-Nunuk Yuliastuti ini. Menurut dia, menjadi atlet selam memang tidak jauh berbeda dengan menjadi atlet renang. Hanya, ada tambahan peralatan yang perlu dikenakan. Seperti sirip (fin), masker, dan snorkeling.

”Kalau selam lebih menantang karena kelasnya juga beda dari renang. Ada yang menahan napas di dalam air, itu masuk kategori apnea,” katanya. Karena catatan impresifnya selama ini, Danu mendapat kesempatan untuk belajar selam kategori OBA (observasi bawah air) atau khusus selam di laut. Di Kabupaten Malang, hanya ada lima atlet selam yang berkesempatan mendapat pelatihan khusus dari POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia) Jawa Timur.

Danu menjadi peserta termuda. ”Masih dua kali latihan untuk nomor OBA karena memang cukup sulit. Peralatannya juga cukup mahal karena lebih lengkap,” tambahnya. Selain fokus belajar selam kategori OBA, dia juga tengah fokus berlatih untuk kejurda (kejuaraan daerah). Untuk turun di ajang itu, dia bahkan harus berlatih setiap hari.

Pewarta: Hafis Iqbal
Penyunting: Bayu Mulya
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Danu Khyarol Qisti for Radar Malang