Kolaborasi Lintas Genre Bikin Musisi Ibu Kota Terkesan

Equinox mungkin menjadi harapan baru bagi industri musik di Kota Malang. Band yang eksis sejak 2013 ini sudah beberapa kali tampil bareng musisi ibu kota. Mulai dari vokalis She Melly Mono hingga DJ Winky Wiryawan.

Equinox mungkin menjadi harapan baru bagi industri musik di Kota Malang. Band yang eksis sejak 2013 ini sudah beberapa kali tampil bareng musisi ibu kota. Mulai dari vokalis She Melly Mono hingga DJ Winky Wiryawan.

Lagu berjudul Dansa Yo Dansa terdengar dari speaker smartphone milik salah seorang personel Equinox beberapa waktu lalu.  Lagu ciptaan Titiek Puspa itu diubah aransemennya oleh band beranggotakan Berlian Andri (vokalis), Andika R.N (keyboardist), Fajar Ananda Setiawan (bassist), dan Deddy Sasono (drumer).

Dansa Yo Dansa itu mereka bawakan dengan aransemen ala jazz fusion. Yakni, jazz yang juga memasukkan aliran musik lainnya. Nah, untuk lagu Dansa Yo Dansa, Equinox juga memasukkan aliran rhythm & blues (R&B).

Lagu itu membawa hoki bagi Equinox. Sebab, berkat lagu itu, Equinox mampu menyabet predikat juara I pada kompetisi jazz di tingkat Kota Malang, 29 Juli 2017. Kemudian berlanjut dengan meraih juara II pada ajang yang digelar di Surabaya, 5 Agustus lalu.

Hasil itu seolah-olah membuka pintu bagi Equinox untuk menambah jam terbangnya di dunia musik. Sebab, dari situlah, Equinox makin rajin melakukan konser. Tak hanya berkutat di Malang Raya, tapi juga kota-kota lainnya.

Bahkan, Equinox mendapatkan kesempatan manggung bareng dan berkolaborasi dengan musisi yang kiprahnya sudah lebih dulu menasional. Salah satunya di panggung Jazz Traffic Festival (JTF), Grand City Surabaya, 18–19 Agustus 2017.

Waktu itu, Equinox berkolaborasi dengan vokalis band She, Melly Mono. Mereka membawakan tiga lagu, yakni Halo-Halo Bandung, Rayuan Pulau Kelapa, dan Gugur Bunga. Tentu, dengan aransemen yang jazzy. ”Ini yang paling berkesan. Kolaborasi dengan musisi yang lebih dulu dari kita. Kami banyak belajar,” kata vokalis Equinox Berlian Andri.

Penampilan Equinox mendapatkan apresiasi dari Melly. Lewat akun Instagram-nya @melly_mono menyebut bahwa dia mendapatkan ilmu baru dari kolaborasi itu. Apalagi, Melly selama ini dikenal sebagai penyanyi pop.

Selain Melly ”She”, Equinox juga tampil di panggung yang sama dengan musisi lainnya. Di antaranya, DJ Winky Wiryawan saat di Surabaya, 17 September lalu.

Lantas, siapa sebenarnya Equinox? Apa yang membuat band itu akhirnya bisa mendapatkan jalur untuk tampil di panggung-panggung yang lebih besar?

Berlian menyatakan, cikal bakal Equinox berawal dari Rompok Bolong, yakni sebuah komunitas berisikan para pencinta musik jazz di Malang. ”Jadi, seminggu sekali pasti ada jamming session, clinic music, hingga sharing lagu,” ujar Berlian yang pernah tergabung dalam komunitas jazz Brawijaya Kharisma ini.

Selain itu, Berlian dan tiga personel lain juga kerap dipertemukan dalam live music di kafe maupun acara pernikahan. ”Kami ini (setiap personel Equinox) pernah gabung dengan band-band entertain. Ya, di acara-acara seperti wedding,” ujar dia.

Sering kali antara satu wedding party dengan wedding party lainnya, personel mereka tak sama. ”Kadang saya jadi vokalis band ini, lalu dipinjam band lainnya,” kata dia.

Karena itu, jaringan pertemanan Berlian luas. Dia pun sampai hafal dengan karakter musik dari musisi-musisi yang pernah main bareng dengannya.

Terutama dengan Andika, Fajar, dan Deddy. ”Ternyata, minat bermusik kami sama: Jazz. Akhirnya, kami bikin proyek jazz dan membentuk band Equinox,” ujar pengidola Monita Tahalea ini.

Nama Equinox diambil dari fenomena ketika matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa. Kebetulan, fenomena ini terjadi kemarin (23/9), di mana suhu udara terasa lebih panas dari biasanya.

Penggunaan nama Equinox untuk band ini kali pertama dicetuskan sang drumer, Deddy. ”Sebenarnya tidak ada arti khusus. Itu sekadar nama saja. Kami ngikut,” kata pria berusia 31 tahun ini.

Selama ini, Equinox biasa membawakan lagu karya orang lain dengan aransemen ala mereka sendiri. Paling sering, mereka mengaransemen lagu-lagu lama. Terutama lagu karya Guruh Soekarnoputra.

Deddy berharap, bandnya terus eksis di panggung-panggung jazz tanah air. Terlebih, musik jazz belakangan makin mendapatkan tempat di masyarakat. Tak terkecuali di Kota Malang.

Pewarta : Evio Tanti
Penyunting : Indra Mufarendra
Copy Editor : Dwi Lindawati
Fotografer : Equinox for Radar Malang