Koalisi Gasek Usung Satu Calon

KABUPATEN – Keberhasilan Nahdlatul Ulama (NU) mengantarkan KH Ma’ruf Amin menduduki kursi Wakil Presiden (Wapres) RI sepertinya menginspirasi tokoh Nahdliyin di Bhumi Arema.

Demi memenangkan bursa Pemilihan Bupati (Pilbup) Malang 2020, sejumlah kalangan menginginkan NU satu suara.

Artinya, bakal hanya ada satu calon dari NU yang bersaing di Pilbup Malang. Lantas suara NU milik siapa? Apakah bakal dialihkan untuk mendukung incumbent H.M.

Sanusi? Atau figur lain yang saat ini berharap mendapatkan rekomendasi dari DPP PKB? Misalnya Ali Ahmad (ketua DPC PKB Kabupaten Malang), Saifullah Maksum (ketua DPP PKB), dan dr Umar Usman (ketua PC NU Kabupaten Malang). Atau justru NU akan mendukung kandidat lain yang saat ini belum tampak?

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, upaya menyatukan suara NU tersebut akan digelar di Pondok Pesantren (Ponpes)  Sabilurrosyad di Gasek, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Selain mengundang tokoh NU, juga menghadirkan beberapa figur yang disebut-sebut bakal maju di pilbup.

”Akan ada pertemuan tokoh NU di Ponpes Sabilurrosyad. Tujuannya untuk menyatukan suara NU,” ujar sumber koran ini yang tidak mau namanya dikorankan itu.

Sengaja dipilih lokasinya di Ponpes Sabilurrosyad karena yang memfasilitasi pertemuan tersebut adalah KH Marzuki Mustamar, pengasuh ponpes sekaligus ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Jawa Timur. Marzuki dianggap mampu menyatukan suara NU di Malang Raya.

Sejumlah tokoh NU berharap, koalisi di ponpes Gasek menghasilkan satu kader yang maju dalam pilbup. Mereka berkeyakinan, kemenangan Ma’ruf Amin dalam pilpres karena rivalnya, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, dianggap tidak merepresentasikan kader NU. Justru sebaliknya, paslon 02 dianggap berada di barisan Islam ”garis keras”.

Empat Kandidat Berebut Suara NU

Sebelumnya, Jawa Pos Radar Malang menjaring ada empat figur yang dekat dengan kalangan NU dan mereka akan maju di pilbup. Yakni, Ali Ahmad, Sanusi, Umar Usman, dan Siafullah Maksum.

Sanusi punya kans merebut kursi bupati karena sebelumnya sudah dipercaya oleh Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar untuk berpasangan dengan Bupati Malang (nonaktif) Rendra Kresna di Pilbup 2015 lalu. Selain itu, Sanusi juga pernah menjabat ketua DPC PKB Kabupaten Malang.

Sementara Ali Ahmad juga punya peluang karena saat ini menjabat ketua DPC. Dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, Ali mendulang 47.507 suara untuk caleg DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) V Malang Raya. Suara yang diraih Ali tergolong besar jika dibandingkan caleg lain di Dapil V.

Demikian juga Saifullah Maksum, punya kans dari menjabat pengurus DPP PKB. Bisa jadi, hubungannya dengan Cak Imin– Muhaimin Iskandar– lebih dekat jika dibandingkan figur lain dari PKB. Sementara dr Umar Usman menjabat ketua PC NU Kabupaten Malang. Umar juga dikenal dekat dengan basis NU.

Dokter Umar Tegaskan Maju dalam Pilbup

Terpisah, Ketua PC NU Kabupaten Malang dr Umar Usman membenarkan adanya pertemuan di Ponpes Sabilurrosyad yang melibatkan tokoh-tokoh NU dan PKB.

”Iya, besok (hari ini) pukul 13.00 akan dilaksanakan pertemuan di kediaman Kiai Marzuki Mustamar,” kata Umar saat dikonfirmasi koran ini kemarin (4/8).

Umar juga terang-terangan mengakui bahwa dirinya akan terjun dalam kontestasi politik 2020. ”Ya mudah-mudahan,” kata Umar.

Ditanya soal kursi mana yang diincar, pria yang berprofesi sebagai dokter tersebut dengan lugas menjawab N1 alias bupati.

Dari internal PC NU, Umar menuturkan bahwa organisasi yang dipimpinnya belum menggelar pembicaraan resmi terkait siapa yang bakal menjadi representasi NU dalam Pilbup 2020. ”Tapi kalau bicara soal rambu-rambu sudah,” jelasnya.

Lantas apakah NU akan memunculkan kadernya sendiri atau berafiliasi dengan PKB? Secara diplomatis Umar menuturkan bahwa segala kemungkinan bisa saja terjadi. ”Kalau bicara soal kedekatan, seluruh PKB itu pasti NU. Tapi, tidak semua NU itu PKB,” kata Umar.

Disinggung mengenai potensi NU dalam pilbup, Umar menyebut jumlah anggota NU di Kabupaten Malang sekitar 1,5 sampai 2 juta jiwa.

Jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan penduduk Kabupaten Malang yang berada pada angka 2,4 juta, berarti lebih dari 50 persen warga Kabupaten Malang merupakan anggota NU.

”Seyogianya NU bersama PKB. Tapi, tidak menutup kemungkinan di partai lain warga NU juga menyebar,” terang mantan ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Malang itu.

Akankah terjadi head-to-head antara NU dengan PKB? Umar berharap tidak terjadi perpecahan dan kubu-kubuan dalam internal pengurus maupun anggota NU.

Untuk kepastiannya melenggang dalam kontestasi politik 2020, Umar tetap menunggu petunjuk dari PW NU Jatim. ”Mudah-mudahan (kader) NU tetap bersatu,” ujarnya.

Afiliasi NU-PKB, Sanusi Pasrah Partai

Terpisah, Plt Bupati Malang H.M. Sanusi tak banyak berkomentar saat disinggung soal afiliasi antara PKB dengan NU.

”Nanti saja, bergantung partai nanti,” kata Sanusi saat ditemui koran ini di Pendapa Panji Kabupaten Malang di Kepanjen kemarin.

Senada dengan Umar, Sanusi menuturkan bahwa dirinya akan memenuhi panggilan Ketua Tanfidziyah PW NU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar hari ini.

Pantauan Jawa Pos Radar Malang, Sanusi terus melakukan gerilya menghimpun dukungan agar bisa melenggang dalam di Pilbup 2020.

Di hadapan warga Singosari yang menghadiri kegiatan pesta rakyat dalam rangka hari koperasi di lapangan Tumapel kemarin (4/8) misalnya, kader PKB itu mulai menunjukkan sinyal untuk menggandeng Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

”Semoga PKB dan PDIP bisa berjalan bersama memimpin Kabupaten Malang lima tahun ke depan,” kata Sanusi di atas panggung dengan didampingi Sekretaris DPD PDIP Jawa Timur Sri Untari Bisowarno.

Namun saat koran ini berusaha untuk mengklarifikasi, lagi-lagi Sanusi enggan memberikan kepastian. ”Sudah ya nanti saja tunggu partai,” ujarnya seraya berlalu.

Terpisah, Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah PDIP Jatim Sri Untari menanggapi santai saat dikonfirmasi koran ini perihal duet dua parpol pentolan di Kabupaten Malang tersebut.

”Nanti, seluruh keputusan ada di dewan pimpinan pusat, ini kan prosesnya belum berjalan. Tapi, kami memang sudah mulai berkomunikasi dengan berbagai partai,” kata Untari saat ditemui di lapangan Tumapel kemarin.

Ketua Koperasi Setia Budi Wanita itu menuturkan, secara pribadi dirinya lebih senang berkarir sebagai anggota legislatif. Namun, Untari juga tidak menampik bahwa duet tersebut juga mungkin saja terjadi.

”Utamanya kalau dengan PKB kan kami masih satu koalisi. Tapi, semua kemungkinan masih terbuka. Kalaupun akhirnya kami akan memilih bergandengan dengan PKB itu menjadi keputusan DPP,” tukasnya.

Pakar: NU Itu Cair, Tak Mudah Disatukan

Sementara itu, KH Marzuki Mustamar tidak menjawab ketika dikonfirmasi mengenai pertemuan politik di ponpesnya.

Dihubungi wartawan koran ini melalui sambungan telepon seluler (ponsel) tidak diangkat. Pesan singkat yang dikirim melalui aplikasi WhatsApp juga tidak direspons.

Dosen Ilmu Politik dan Kebijakan Publik Universitas Brawijaya (UB) Wawan Sobari SIP MA PhD menganalisis, tidak mudah menyatukan suara NU dalam politik.

Berdasarkan pengamatan Wawan ketika Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018 lalu, suara NU di tingkat bawah tidak selalu menuruti elite politik.

”Ketika kiai struktural (pengurus NU) mendukung Gus Ipul (pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno Putri), ternyata malah ke Khofifah (pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak),” kata Wawan.

Alumnus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung itu menyebut, warga NU di akar rumput tidak selalu menuruti instruksi elite NU.

”Suara NU itu sangat cair. Bukan hal yang mudah untuk menyatukan NU dalam satu komando,” kata dosen yang juga peneliti itu.

Disinggung mengenai keberhasilan KH Ma’ruf Amin, Wawan menyebut tidak serta merta faktor NU. Apalagi, dia melihat karakter NU di setiap provinsi berbeda. ”Di Jatim Jokowi-Ma’ruf Amin menang. Tapi, di Jabar bagaimana?” kata dia.

Bagaimana jika kader NU yang maju dalam Pilbup Malang hanya satu? Wawan menyatakan, hal itu juga tidak mudah. ”Saya melihat, di dalam NU tidak pernah ada kata final,” ucapnya. ”Tapi bisa saja ada sinergi antara NU dengan partai,” tambahnya.

Sebab, meski NU tidak berpolitik, tapi kadernya banyak yang bergabung di PKB. Dengan kata lain, PKB merepresentasikan sikap politik NU. ”Jalur politik NU ini kan jelas, konkretnya untuk partai ya PKB,” katanya.

Pewarta : Farik Fajarwati
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan