KLB Antraks Berdampak pada Pariwisata Gunungkidul

KLB Antraks Berdampak pada Pariwisata Gunungkidul

JawaPos.com – Status kejadian luar biasa (KLB) antraks berimbas pada kunjungan wisatawan ke Gunungkidul, Daerah Istimewa Jogjakarta. Plt Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf Guntur Sakti menyatakan, ada penurunan kedatangan. Namun, kementeriannya tidak terburu-buru mempromosikan lagi pariwisata Gunungkidul.

”Langkah paling utama yang harus dilakukan adalah mengatasi dan memulihkan situasi agar antraks segera berakhir. Harus memutuskan mata rantai persebaran dan memastikan sampai wilayah terdampak aman,” kata Guntur kemarin (18/1).

Dari sisi kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengunjungi kabupaten paling barat di DIJ itu. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono menyatakan bahwa pemda telah memberikan vaksin kepada hewan ternak untuk mencegah persebaran antraks. ”Kalau vaksin untuk manusia tidak ada. Maka, yang harus dijaga adalah perilaku agar terhindar antraks,” katanya.

Kasus antraks di Gunungkidul mulai terdeteksi pada 17 Desember lalu. Seekor kambing terdeteksi penyakit itu. Sehari setelahnya kambing tersebut disembelih dan dimasak. Selanjutnya, 26 Desember, kasus antraks ditemukan pada manusia. Dinkes setempat melakukan penyelidikan epidemologi dengan menelusuri siapa saja yang melakukan kontak dengan kambing itu. ”Siapa yang motong, masak, dan makan,” ucapnya kemarin.

Anung menjelaskan, 27 orang yang bergejala telah dirawat dengan tata kelola pasien antraks. Mereka diobservasi, tapi tidak dirawat inap. Alasannya, belum ada penularan antraks dari manusia ke manusia.

Dia menyebut sempat menyatakan kejadian luar biasa (KLB) antraks di Gunungkidul. KLB dinyatakan pada minggu terakhir Desember. Namun, karena pada minggu pertama Januari tidak ditemukan kasus baru, status tersebut dihentikan. ”Kami tetap pantau karena ditemukan kasus antraks lagi pada hewan 6 Januari lalu,” ungkap Anung.