Kitab Qomi’ Al-Thughyan Jelaskan 77 Cabang Iman

Kitab Qomi` al-Thughyan (Membasmi Kezaliman) adalah karya Sayyid Ulama al-Hijaz, sebuah gelar yang disandangkan kepada Syaikh al-Imam al-Nawawi al-Bantani (wafat 1314 H). Kitab ini mensyarahkan atau menjelaskan kitab Nadhom Syua’b al-Iman karya al-Syaikh Zainuddin bin Ali bin Ahmad as-Syafi’i al-Kusyini al-Fannani al-Malibari (lahir di India Selatan, wafat 972 H), seorang ulama yang produktif menghasilkan karya. Di antaranya yang paling terkenal adalah kitab Fath al-Mu’in. Kemudian, karya Syaikh al-Imam al-Nawawi al-Bantani ini dikenal dengan sebutan kitab Qomi` al-Thughyan ala Mandzumah Syu’ab al-Iman, yang banyak dikaji di pesantren-pesantren salaf di Indonesia.

Kitab Syu’ab al-Iman adalah karya al-Allamah al-Sayyid Nur al-Din al-Iji yang menggunakan bahasa Persia, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dalam bentuk nadhom/bait sebanyak 26 bait. Cara melantunkan bait ini dalam tata bahasa Arab menggunakan bahar kamil (jenis syair Arab) yang berpola wazan mutafailun sebanyak 6 kali. Dari 26 bait tersebut Syaikh al-Imam al-Nawawi menambah 3 bait di awal, dan 1 bait yang ditulis di akhir oleh Abd al-Mun’im, sehingga jumlah keseluruhannya sebanyak 30 bait.

Al-Hafidz Abu Hatim bin Ibnu Hibban (wafat 354 H) telah melakukan penelitian secara mendalam berkaitan dengan macam-macam ketaatan, baik dalam Alquran maupun dalam hadis nabi. Ternyata, jumlah ketaatan itu kurang dari 77 macam. Namun, setelah macam-macam ketaatan tersebut digabungkan, maka jumlahnya sesuai dengan hadis nabi riwayat Imam Muslim yang menjadi pembuka pembahasan dalam kitab Qomi` al-Thughyan ala Mandzumah Syu’ab al-Iman. Beliau mengatakan bahwa iman itu ada 77 cabang. Yang paling tinggi adalah kalimat Laa ilaaha illallah, dan yang paling rendah adalah membuang sesuatu yang menyakitkan di jalan. Malu pun termasuk bagian dari iman.

Ketujuh puluh tujuh cabang iman tersebut dapat dikategorikan ke dalam dua bagian. Pertama, cabang iman yang berkaitan dengan persoalan akidah atau keyakinan, seperti iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab, iman kepada rasul, dan seterusnya. Kedua, cabang iman yang berkaitan dengan persoalan akhlak, baik akhlak kepada Allah maupun akhlak antarsesama. Misalnya, cinta, cemas dan berharap kepada Allah, mencintai nabi, mencari ilmu, tawakal, memberi zakat, membayar kafarat, memenuhi janji, menjaga lidah, menunaikan amanat, dan seterusnya. Syaikh al-Imam al-Nawawi al-Bantani dalam mengurai penjelasannya kadang menyisipkan ayat Alquran atau hadis nabi, atau cerita orang-orang saleh. Misalnya, saat menjelaskan raja’ (harap), beliau sajikan sebuah kisah. Beliau bercerita, dahulu ada seorang yang rajin beribadah, tetapi dia pernah membuat orang lain putus asa dari rahmat Allah.

Setelah meninggal, dia meminta balasan kepada Allah atas ibadah yang sudah dia lakukan. Namun, Allah memberi jawaban lain. ”Karena engkau pernah membuat orang lain putus asa dari rahmat-Ku, maka sekarang Aku membuat engkau putus asa dari rahmat-Ku.”



Kitab ini ditutup dengan hadis-hadis pilihan sebanyak 40 hadis. Beliau menjelaskan sebuah hadis nabi, yakni, barang siapa yang menjaga (hafidza, artinya tidak harus menghafal) transmisi hadis, belajar dan mengajarkannya kepada orang lain, maka ia akan dimasukkan ke dalam surga bersama para nabi dan ulama.

Oleh: Akhmad Muzakki – Wakil Tanfidziyah PC NU Kota Malang