Kisah Spiritual Prof M Mas’ud Said PhD

Jujur, Masih Kelas Syariat

Prof M Mas’ud Said PhD

Makna Ramadan bagi banyak orang bentuknya bermacam-macam. Momentum puasa bagi sebagian orang adalah pada prosesi tafakkur dan tadzakkur di malam hari berbentuk shalatullail yang khusyuk. Bagi saya, keistimewaan Ramadan di samping hal di atas justru terpupuk pada pagi, siang, dan sore hari berbentuk adanya keinginan lebih banyak untuk berbuat baik terhadap sesama.

Walau dikatakan dalam hadis bahwa pada bulan puasa setan-setan itu dirantai dan diberangus sebulan penuh, ternyata secara pribadi, secara nggak sadar setan itu masih ada. Masih berkeliaran di sekitar puasa kita. Salah satu bentuk lepasnya tali setan dalam bulan puasa bagi saya pribadi ialah kesibukan, tanggung jawab profesi, dan keangkuhan jiwa. Rupanya posisi, ambisi-ambisi pribadi, tanggung jawab profesi, dan segala macam kehidupan dunia dapat menyerimpung spiritualitas puasa kita.

Walau Ramadan saya sadari sebagai momentum spiritual istimewa, saya sering merasa puasa sebagai hal yang biasa-biasa saja, sudah rutin. Walau kata para alim ulama, puasa yang baik harus bisa mengantar diri kita lebih spititual, saya merasa puasa saya masih kelas awam saja. Kelas biasa saja.

Tidak dapat diingkari, situasi kondusif di bulan puasa ikut mengangkat dan menghidupkan sensitivitas sosial kita. Saat awal-awal menjadi PNS, setiap bulan saya dapat jatah beras yang harus diambil di Surabaya. Kalau Ramadan tiba, jatah beberapa karung beras dipastikan terbagi untuk tetangga sebelah di desa dengan sukacita.

Mungkin ini makna lain puasa ialah seperti yang dikatakan Gus Dur: ”Guru spritualitas saya adalah realitas, dan guru realitas saya adalah spiritualitas”. Karena itu, beberapa aktivitas keseharian, kegiatan ibadah mahdhoh (berhubungan dengan Allah), bahkan ketemu orang, bertemu tetangga kurang mampu, ketemu pengemis yang renta; maunya nangis saja. Pingin banyak uang untuk bisa membantu siapa saja.



Saya mengakui situasi lapar dan dahaga itu dapat memaksa secara halus kedekatan diri kita kepada Allah SWT. Saya akui sensitivitas sosial saya serasa terjaga dan meningkat. Selain hal sensitivitas sosial, perasaan saat puasa semuanya berjalan normal seperti biasa kecuali kalau sedang bicara tentang pentingnya berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan.

Karena tak ada ruangan uzlah dari kesibukan, karena tak ada tempat transito puasa yang seharusnya lebih spiritualistis sering kali biasa saja. Hanya saat bulan puasa, aktivitas di masjid lebih banyak, lebih intensif dan suka berlama-lama. Harus diakui, puasa memberi sensitivitas untuk penjagaan diri akan dosa, puasa ikut meredam keserakahan dan lebih menerima semua dengan apa adanya, saat saya bersama tim Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah (LAZIS) Sabilillah merancang pengumpulan dan pembagian zakat infak dan sedekah saat puasa.

Seperti kebanyakan orang awam, saya juga sering kali terjebak pada tata aturan fikih puasa, sering tak memikirkan dalam-dalam makna akhir puasa atau impact puasa. Saya memaknai puasa saya masih pada tataran syariat, puasa kelas syariat itu adalah laku lampah yang taat aturan fikih. Baru secara spiritual saya merasa puasa yang hakiki itu ialah akhlak hasil proses ibadah.

Saya sering dididik pada pertanyaan apakah puasa kita sah atau batal secara fiqhiyah. Syariat itu lebih pada tata cara ibadah. Puasa kelas atasnya ialah berlanjutnya capaian puasa itu pada akhlak yang mulia. Dengan demikian, puasa kita harus sukses kedua-duanya, yaitu membawa kita lebih taat secara fiqhiyah sekaligus mendorong kita untuk jadi orang-orang muhsin yang sesungguhnya.

Bagi saya, momentum akhir-akhir di bulan puasa selalu menjadi momentum yang paling istimewa. Jam-jam terakhir sebelum berbuka saya sering lari menyelinap menyendiri di ruangan untuk berdoa. Sering kali seperti ingin mendekat kepada Tuhan, bukan saat malam hari, tapi beberapa jam sebelum Magrib berkumandang, saya sering menyendiri dan meminta untuk kebaikan dunia serta permohonan maaf akan segala dosa.

Walau sering kali bersedih di hari-hari akhir bulan Ramadan, walau sering memanfaatkan waktu antara salat Asar dengan Magrib dengan doa-doa yang khusyuk, walau sering kali mendapatkan diri tenang dan dekat dengan Allah saat malam-malam Ramadan, selain momentum itu saya merasa puasa saya ini masih kelas syariat saja. Ini mungkin karena selama 6 tahun belakangan kami terbelit urusan tanggung jawab birokrasi dan pekerjaan di Jakarta.

Sesungguhnya, dengan menelisik filsafat puasa, dalam bulan Ramadan ini saya ingin mendapatkan dua capaian sekaligus, yaitu capaian religiusitas sekaligus capaian spiritualitas yang tinggi. Saya dalam proses untuk memaksa diri mencapai dua-duanya.

Puasa itu laku lampah batin dan laku spiritual yang lebih halus dan substantif, puasa itu adalah laku spiritualitas hanif menuju kecintaan perbuatan baik yang terikat dengan aturan ibadah mahdhoh. Hakikat puasa itu adalah spiritualitas.

Dalam makna ini, yang dimaksud dengan puasa sejati atau puasa yang hakiki itu ialah situasi di mana kita sudah melaksanakan kewajiban kita terhadap tata aturan ritual agama sekaligus bisa mendapati diri lebih baik, lebih takut dosa, lebih membatasi angkara murka, lebih menjaga diri dari emosi berlebihan, serta membatasi sifat permusuhan yang sering menempel pada kita. Bagi saya, itulah spiritualitas puasa.

Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Istimewa