Kisah Petani yang Ditipu Oknum Wartawan: Tanah Saya Sudah Habis Dijual

JawaPos.com- Rizal, 41, seorang petani asal Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi korban penipuan oleh oknum wartawan di Kota Makassar. Oknum wartawan terduga pelaku itu berinisial HA. Dia bekerja di salah satu media televisi lokal di Makassar.

Kejadian berawal saat Rizal berniat untuk mendaftarkan putranya, Zulkifli, 20, dalam tes seleksi bintara Polri di wilayah Sulsel pada 2017 lalu. Ia pun mencari informasi seadanya terkait persyaratan pendaftaran ke keluarganya. Oleh keluarganya, Rizal dikenalkan kepada HA.

“Niat saya bertanya untuk tahu bagaimana itu proses pendaftaran polisi karena kami ini kan dari kampung, jadi tidak terlalu paham,” cerita Rizal di Makassar, Rabu (20/2).

Rizal mengaku, mendapatkan informasi bahwa HA merupakan wartawan yang punya banyak kenalan dengan petinggi-petinggi kepolisian. 

“Katanya, dia (HA) punya banyak kenalan orang dalam di Polda Sulsel. Makanya saya percaya, supaya anak saya bisa lulus. Saya lalu disuruh nyetor uang ke dia,” tambahnya.

HA meminta Rizal untuk menyetor dana awal sebagai pelicin sebesar Rp 100 juta pada Desember 2016. HA mengaku jika uang itu digunakan sebagai tahap awal sebelum pelaksanaan tes berlangsung. Pembayaran dilakukan di Kabupaten Takalar.

Dalam perjalanan tes awal pada April 2017 lalu, putra Rizal malah dinyatakan gugur karena tak memenuhi standar. Rizal pun merasa kalau jaminan Rp 100 juta yang disetorkan ke HA sia-sia. Dia kemudian bertemu dengan HA di Makassar pada akhir Desember 2017 untuk meminta uangnya dikembalikan.

“Tapi dia mulai banyak alasan. Intinya dia bilang uang setorannya harus ditambah. Jadi saya tambah lagi. Tapi saya cari uang pinjaman dulu, karena uang setoran pertama itu hasil jual tanah di kampung,” lanjut Rizal.

Rizal mengiyakan permintaan tambahan dana oleh HA sebesar Rp 140 juta. Namun dengan perjanjian. Saat itu HA menjamin, jika Zulkifli tidak lolos dalam tes selanjutnya, seluruh uang setoran awal hingga tambahan akan dikembalikan. HA juga menjanjikan sertifikat tanah dan rumah. Perjanjian keduanya ditandatangani di atas kertas dengan dilengkapi materai.

“Jadi saya usahakan sekali, pinjam sama keluarga sampai terkumpul. Total Rp 240 juta saya kasih ke dia.” katanya.

“Saya yakin karena sudah ada perjanjian. Tapi jaminan rumah sama surat tanahnya itu tidak dikasih, karena katanya masih ada di bank. Tapi saya diyakinkan kalau anak saya bisa lulus karana di pegang nama Komandan Satuan Brimob dan Kapolda,” lanjut Rizal.

Namun dalam tahapan tes lanjutan pada 2018, putranya kembali gagal. Saat itu Rizal sudah geram setengah mati dengan HA. Bukannya bertanggungjawab, HA malah terus berusaha menghindari Rizal.

Bahkan Rizal sampai mendatangi kantor HA. Namun lagi-lagi Rizal tak mendapatkan kejelasan di mana keberadaan HA. Akhir Desember lalu, Rizal akhirnya menunjuk kuasa hukum untuk mengurus perkara tersebut. HA dilaporkan ke Polres Jeneponto.

“Kami ini cuma petani, sampai cari pinjaman ke mana-mana demi anak. Tanah saya juga sudah habis dijual. Orang ini (HA) sama sekali tidak bisa saya hubungi,” tuturnya.

Pengacara Rizal, Andi Rival Anwar mengatakan, pihaknya sejauh ini telah menempuh upaya hukum. “Terlapor sudah dua kali dipanggil tapi tidak pernah datang,” kata Rival.

Selain itu, pihaknya juga menempuh upaya somasi langsung terhadap HA di Pengadilan Negeri (PN) Makassar. Somasi dilayangkan agar kasus ini diterima di jalur perdata terhadap pelapor dan terlapor. Begitupun dengan upaya konfirmasi dan klarifikasi terhadap perusahaan tempat HA bekerja.

“Sudah satu minggu kami layangkan, tapi sampai sekarang belum terima afirmasi dari perusahaan tempatnya bekerja. Jadi kami nilai terlapor ini sangat tidak kooperatif,” tegasnya.

Editor           : Dida Tenola

Reporter      : Sahrul Ramadan