Kisah Arochman Mustofa, Menyulap Wisata Petik Apel

Wisata petik apel merupakan destinasi yang menarik dikunjungi. Munculnya destinasi ini tak lepas dari tangan kreatif Aorochman, ketua Pokdarwis (kelompok sadar wisata) Desa Tulungrejo. Dalam 10 tahun terakhir dia telah menyulap buah ikon Kota Batu ini menjadi jujukan wisata para pelancong. Bagaimana kisahnya?

Wisata petik apel merupakan destinasi yang menarik dikunjungi. Munculnya destinasi ini tak lepas dari tangan kreatif Aorochman, ketua Pokdarwis (kelompok sadar wisata) Desa Tulungrejo. Dalam 10 tahun terakhir dia telah menyulap buah ikon Kota Batu ini menjadi jujukan wisata para pelancong. Bagaimana kisahnya?

Sebuah banner dengan tulisan ”Selamat Datang di Wisata Petik Apel Batu” terpasang di dekat pintu masuk kebun apel di Dusun Gerdu, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Memasuki loket wisata petik apel, Jawa Pos Radar Batu disambut deretan penjual suvenir dan aneka kripik buah. Ada juga meja yang di atasnya terpajang buah apel beserta timbangan digital.

Di tengah kebun, wisatawan terlihat sedang memetik apel. Arochman Mustofa yang mengantar mereka berkeliling kebun. Pria yang akrab disapa Topa itu memang pemandu wisata kreatif ini. ”Kali ini wisatawan asal Banten. Saya jelaskan apel dari menanam hingga masa panen,” kata dia.

Topa berkata, berkat usahanya mengembangkan petik apel sejak 2008, dia menyakini dirinya telah ikut menyelamatkan ikon Kota Batu ini. ”Wisata petik apel mengenalkan langsung ikon Kota Batu (apel, Red) kepada wisatawan seluruh Indonesia. Bahkan juga ada dari luar negeri,” terang pria yang tinggal di Desa Tulungrejo ini.
Tahun 2008 adalah awal Topa mengembangkan wisata petik apel. Ketika dia menjabat sebagai ketua Karang Taruna Tulungrejo, di kepalanya muncul gagasan untuk menggali potensi wisata di desanya agar bisa membangkitkan ekonomi masyarakat. ”Wali Kota (Batu saat itu), Pak Eddy Rumpoko, mencanangkan Kota Wisata Batu. Itulah yang membuat saya bergerak memajukan wisata petik apel,” kata dia.

Topa kemudian mengajak para pemilik kebun apel untuk bergabung dalam satu wadah yang bernama Desa Wisata Tulungrejo. Nama ini kemudian identik dengan wisata petik apel. Meski begitu, tak mudah merealisasikan idenya itu. ”Awalnya sangat susah mengajak para petani apel, karena mereka takut kebun rusak gara-gara datangnya wisatawan,” kata dia. ”Petani takut kalau rantingnya banyak yang patah. Mereka ragu membuka wisata petik apel,” imbuhnya.



Tapi Topa tak menyerah. Dia kemudian melakukan percobaan dengan membuka wisata petik apel. Rupanya, hasilnya cukup mengembirakan. Banyak wisatawan yang datang. Dan itu bisa mengangkat harga apel daripada dijual di pasar lokal.
Sebelum menjual apel dengan cara wisata petik apel, hasil panen apel biasanya dibeli oleh tengkulak. Dari 2,5 ton hanya dapat Rp 13 juta. Tapi dengan desa wisata, jumlah yang sama bisa menghasilkan Rp 19 juta rupiah. ”Karena pengunjung langsung membeli produk apel mereka. Tidak ke tengkulak dulu. Jadi, harganya bisa jauh lebih tinggi. Kami berhasil mengerek harga hingga 30 persen,” jelas pria yang mengikuti kejar paket C tersebut.
Setahun kemudian, pada 2010, pemerintah menggandeng Desa Tulungrejo untuk menjadi desa wisata dan mengajak sembilan orang menjadi kelompok sadar wisata (pokdarwis). Salah satunya Topa sendiri, yang langsung ditunjuk menjadi ketua. Selama bergabung dengan pokdarwis, Topa banyak mendapatkan pelatihan industri kreatif yang diadakan oleh pemerintah, seperti pelatihan pengolahan buah dan sayuran untuk dijadikan produk makanan. Melalui acara tersebut, muncul inisiatif dalam benak Topa untuk mengajak beberapa home industry keripik apel di desanya untuk bergabung menjadi bagian dari Desa Wisata Tulungrejo.

Karena telah mengajak mereka bergabung, Topa merasa bertanggung jawab untuk melakukan sosialisasi dari rumah industri satu ke rumah industri lainnya mengenai cara membuat keripik apel dengan standar yang telah diajarkan. Tapi, Topa tak hanya mengajarkan standar produksi. Dia juga menjadikan enam home industry keripik apel sebagai salah satu paket wisata Desa Tulungrejo. ”Jadi, setelah pengunjung puas dengan petik apel, kami ajak mereka untuk mengunjungi produk olahan apel, yaitu kripik apel,” terangnya.

Tidak hanya standar pengolahan keripik apel, para petani apel yang kini menjadi pengelola wisata petik apel juga diajari Topa dan anggota pokdarwisnya tentang standar pelayanan pengunjung, seperti bagaimana mengawal pengunjung, materi apa saja yang harus disampaikan kepada pengunjung, hingga cara merekap data-data pengunjung.
Kini, tidak hanya petani apel saja yang menjadi bagian dari masyarakat ”sadar” wisata, karena hal itu juga telah ”menjangkiti” anak muda dan warga lainnya di Tulungrejo. ”Anak-anak muda juga sudah mulai memasarkan desa wisata ini melalui internet. Mereka bikin website, akun Facebook, Twitter, Intagram, dan sebagainya,” ungkap dia. ”Kira 50 pemuda yang kami berdayakan,” imbuhnya
Selain itu, warga yang memiliki tempat tinggal di dekat kebun apel bersedia menjadikan toilet mereka sebagai toilet umum bagi pengunjung. ”Hal ini karena tidak semua kebun memiliki toilet,” jelas Topa.

Dengan perkembangan yang sedemikian pesat selama 10 tahun ini, Topa tetap mengajak masyarakat Tulungrejo untuk terus mengembangkan kretivitasnya. Dia juga mendorong pemerintah desa Tulungrejo untuk ikut andil dalam mengembangkan wisata ini. ”Beberapa hari lalu kami rapat dengan pemerintah desa. Saya usulkan untuk membuka rest area dan pasar wisata,” urainya.

Dia mengatakan, saat ini pemerintah desa masih berusaha membentuk BUMDes (badan usaha milik desa) guna mendukung berdirinya rest area. ”BUMDes itulah yang nantinya mengelola rest area dan pasar wisata,” kata dia.

Di sisi lain, Pokdarwis Desa Tulungrejo memiliki masuk lima besar desa wisata di Jawa Timur. Beberapa kali juga Topa diajak pelatihan dan pameran, seperti ke Pulau Komodo dan Palu pada tahun 2017 lalu. ”Gus Ipul (Saifullah Yusuf, wakil gubernur Jawa Timur) pernah bilang ke saya, bahwa ada investor gila di Batu. Tidak punya lahan, tapi berhasil membuka wisata petik apel,” tutup Topa lalu tertawa.

pewarta :Aris Syaiful
penyunting :Aris Syaiful
copy editor :Arief Rohman
foto :Aris Syaiful