Kini, Masuk Universitas Brawijaya Makin Sulit

MALANG KOTA – Universitas Brawijaya terus memangkas kuota maba (mahasiswa baru) dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu menjadi angin segar bagi banyak perguruan tinggi swasta (PTS) di Kota Malang. Pengurangan kuota membuka peluang PTS untuk menggaet lebih banyak mahasiswa baru, di samping meningkatkan mutu pendidikan dan sarana prasarana.

Data Universitas Brawijaya menyebutkan, pada 2015, kuota mahasiswa baru sebesar 13.200. Jumlahnya turun menjadi 12.000 mahasiswa pada 2016. Pada 2017, angkanya menyusut lagi menjadi 10.000 mahasiswa. Adanya penyusutan antar angkatan hingga mencapai 2.000 mahasiswa baru tersebut membuat banyak PTS di Kota Malang bisa menampung lebih banyak mahasiswa baru.

Rektor Institut Teknologi Nasional (ITN) Dr Ir Lalu Mulyadi MTA menyatakan secara terang-terangan kebijakan Rektor UB Prof Dr Ir Mohammad Bisri MS sangat positif. ”Sebab, bagaimanapun PTS di Kota Malang sama-sama memiliki peran,” ujarnya.

Peran yang dimaksud Mulyadi adalah ikut bersama-sama menjadi wadah akademis bagi calon mahasiswa. Sebagaimana rektor ITN, Rektor Universitas Ma Chung Dr Chatief Kunjaya MSc menilai ada dampak dari pengurangan kuota mahasiswa UB dari tahun ke tahun tersebut. Pengurangan ini juga menunjukkan adanya komitmen PTN untuk saling berbagi tugas dengan PTS. ”Kami mengusulkan PTN untuk fokus menjadi world class university, dan PTS diberikan tugas untuk pengajaran,” ujarnya.


Untuk membuat PTN menjadi world class university, sebisa mungkin mengurangi jumlah mahasiswanya. ”Menuju hal tersebut PTN wajib berfokus pada riset. Dan tidak bisa riset menjadi baik apabila kuota dosen dan mahasiswa tidak imbang,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Islam Malang (UNISMA) Prof Dr H Maskuri MSi menilai, meskipun berdampak pada peningkatan calon mahasiswa baru di PTS, kebijakan Bisri bukanlah variabel utama yang memberi dampak pada PTS. ”Perkembangan PTS di Kota Malang itu meningkat dari segi mutu, baik sarana prasarana, dosen, maupun sistem,” ujarnya.

Maskuri menilai, pengurangan kuota di UB itu sejalan dengan visi dan misi semua perguruan tinggi, yakni bersama-sama meningkatkan mutu.
”Itu bukan variabel utama (pemangkasan kuota). Variabel apa pun seperti sarana prasarana dan juga mutu dosen. Kita bisa bangun gedung berkapasitas 7.000 ini juga termasuk variabel peningkatan kuota yang ada di Unisma,” jelas Maskuri.

Menurut Maskuri, kebijakan memangkas kuota juga berdampak positif bagi UB sendiri. ”Artinya, UB bisa mengembangkan mutunya menjadi lebih baik lagi,” imbuh maskuri.

Pewarta: Sandra
Editor: Arif
Penyunting: Ahmad Yani