Khutbah Shalat Ied di Masjid Agung Jami: Jangan Sampai Bertingkah Seperti Setan

Salat Idul Fitri di Masjid Agung Jami.

MALANG KOTA – Cuaca yang teduh membuat ratusan jamaah yang melaksanakan sholat ied di Masjid Agung Jami, Jumat pagi (15/6), sangat fokus mendengarkan ceramah sang khatib, KH M. Najib Muhammad. Dimana berisi mengenai sikap anti rasisme dan diskriminatif yang harus segera dicabut layaknya akar yang tercabut dari tanah.

Pengasuh pondok pesantren Al Madinah Denayar, Jombang ini memberikan contoh ketika setan menolak sujud kepada Adam saat diperintahkan Allah.

“Ketika setan menolaknya, ia berkata: “Hai Allah kau ciptakan aku dari api sementara adam dari tanah, lebih mulia aku daripada adam,” ujar Najib.

Kemudian sang khatib melanjutkan, sikap setan yang menolak sujud kepada Adam menunjukkan sikap diskriminasi, rasis, yang selama ini juga ada dalam diri seluruh umat manusia.

“Tidakkah anda malu, ketika anda diskriminatif kepada umat atau ras lain, anda selayaknya setan?,” tanyanya pada jamaah yang hadir.

Najib lalu melanjutkan, sejatinya sikap seperti ini bisa tidak muncul jika seorang muslim menjaga rahmatan lil alamin, membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi seluruh umat.

“Jika Allah memerintahkan umatnya menjaga rahmatan lil alamin, kenapa masih dilanggar?,” tambah Najib pada para jamaah.

Ia mengingatkan serangkaian aksi terror dan saat ini akan berlangsung pesta demokrasi secara serentak di beberapa kota janganlah memancing umat muslim untuk bertingkah selayaknya iblis. Kembali ke fitrah selama idul fitri, lantas tak membuat dosa seseorang kembali suci.

“Kembali fitrah artinya memahami betul spiritualitas selama ramadhan bisa terus dijaga hingga mata tertutup,” tambah pria yang karab dipanggil Gus Najib ini.

Tidak hanya Gus Najib saja yang menyampaikan pesan rahmatan lil alamin. Pesan tersebut juga disampaikan oleh Seketaris daerah Kota Malang, Wasto, yang mewakili Pjs Wali Kota, Wahid Wahyudi yang berhalangan hadir.

“Saya mendapat pesan dari pak walikota mengenai pesan damai untuk seluruh masyarakat Kota Malang,” ujar Wasto.

Dalam pesan ‘titipan’ wali kota itu, Wasto menghimbau masyarakat Kota Malang jangan menghilangkan sifat guyub dan rukun meskipun saat ini, kondisi umat islam sedang diuji dengan serangkaian perbuatan tercela.

”Bom bunuh diri dan aksi teror mencederai nilai-nilai keagamaan, jangan sampai mencederai nilai keagamaan dan jangan terpancing adu domba siapapun,” pesan wahyudi dalam catatan yang dibacakan Wasto.

Wasto juga mengingatkan, guyub dan rukun antar umat beragama ini juga harus tercermin menjelang pesta demokrasi yang digelar pada 27 juni.

“Ada banyak peristiwa yang berdempetan satu sama lain, semua umat harus ingat kembali ke fitrah artinya kembali pada nilai kebaikan yang suci. Jangan nodai itu,” tegas Wasto.

Siapapun pilihan masyarakat kota malang, saat memilih gubernur dan wali kota Malang, dihimbau wasto untuk saling menjaga kondusifitas pelaksanaan pesta demokrasi.

“Mari tunjukkan kalau nilai rahmatan lil alamin selalu ada pada sikap kita saat pesta demokrasi nanti,” tambahnya.

Selain itu, total zakat mal yang terhimpun dalam salat idul fitri tersebut mencapai lebih dari Rp 610 juta. Hal itu disampaikan Ketua Umum Takmir Masjid Agung Jami Kota Malang KH Zainuddin Abdul Muhith.

Pewarta: Sandra Desi
Foto: Rubianto