Kholid Susanto, Juragan Ayam Bule yang Pantang Kalah Meski Rugi Ratusan Juta Rupiah

KOTA BATU – Sempat stres karena mengalami kerugian ratusan juta, Kholiq Susanto nyatanya mampu bangkit menjadi pengusaha peternak ayam import di Kota Batu. Berbagai jenis ayam dari Australia, Thailand, India, dan negara lainnya berjejer di kandang miliknya.

Tidak mudah memang memulai bisnis ayam import, pasang surut selama kurang lebih 10 tahun menjadi peternak ayam sudah ia rasakan. Mulai dari kemalingan, hingga harus merasakan puluhan ayamnya mati karena terjangkit virus.

“Dulu pernah dalam seminggu itu 30 ekor ayam ternak saya yang sudah dibooking pelanggan mati. Sempat stres satu minggu tidak mau ngapa-ngapain, lumayan rugi ratusan juta juga. Apalagi waktu itu mereka sudah membayar, tapi ya gimana lagi saya tidak boleh terpuruk,” ujarnya.

Bercerita awal bisnisnya, Kholiq yang lebih dikenal sebagai peternak ‘Johar Ayam Hias’ ini sudah mulai menggeluti ternak ayam import sejak 2008 yang lalu. Ia terinspirasi dari Ayah angkatnya yang berada di Australia, Hari Gegmuller.

“Sebelum itu pernah bisnis burung hias, tapi rugi banyak. Akhirnya Ayah angkat saya mengirim telur ayam import dari Australia, saya rawat satu tahun sampai menetas sampai 300-an waktu itu. Lucu bentuknya, sampai sekarang saya lanjutkan,” imbuh pria yang berusia 33 tahun tersebut.



Hingga sekarang sudah ada sekitar 200 ayam import berbagai jenis miliknya yang dikenal hingga internasional. Diantaranya Pekin, Belgian, Aseel, Indian game, Sultan, Australian Han Silky, Oege, dan masih banyak lainnya dengan variasi harga yang berbeda.

“Beberapa ayam itu bervariasi harganya. Kalau sekarang yang sudah lumayan murah itu Pekin sekitar Rp 4 jutaan dulu bisa mencapai Rp 20 juta kalau menang kontes. Yang masih relatif mahal ini Aseel bekisar Rp 35 juta, ini masih tergolong baru di Indonesia,” ungkapnya.

Ketika ditanya mengenai perawatan untuk ayam-ayam import tersebut, ia mengaku cukup mudah. Akan tetapi, ia tetap memperhatikan kualitas pakan untuk menghasilkan ayam import yang berkualitas pula.

“Pakan sebenarnya sama seperti ayam pada umumnya, hanya sedikit berkelas. Seperti beras merah, jagung super bw itu. Saya belajar dari Bapak saya kan, ingin mempertahankan kualitas yang bagus,” paparnya.

Sebagai seorang peternak Ayam import di Kota Batu, Johar mengharapkan bisa mengadakan kontes ayam bertaraf nasional di Kota Batu. “Saya mewakili peternak import lainnya juga ya, ingin kedepan ada kontes yang bertaraf nasional,” pungkasnya.

Pewarta: Arifina
Foto: Arifina
Penyunting : Fia