Khofifah Indar Parawansa dan Tingginya Angka Pernikahan Dini

Sejak lama Khofifah Indar Parawansa memberikan perhatian lebih terhadap permasalahan perempuan. Termasuk pernikahan usia dini yang cukup tinggi di Jawa Timur. Ketika terpilih sebagai perempuan pertama yang mengisi kursi gubernur Jatim, dia langsung bergerak.

Sesaat setelah dilantik pada 13 Februari 2019, mantan menteri negara pemberdayaan perempuan itu langsung mengundang ketua Pengadilan Tinggi Agama Jawa Timur. Dalam pertemuan itu, hadir pula beberapa ketua pengadilan agama. Pembicaraannya seputar banyaknya pernikahan dini.

Menurut Khofifah, secara kuantitatif, pernikahan dini paling banyak terjadi di Malang. Pengadilan agama menerima banyak permohonan dispensasi pernikahan karena masih di bawah umur. Berdasar data di pengadilan, 80 persen permohonan nikah dini itu karena hamil duluan. Karena itulah, permohonan dispensasi pernikahan tersebut dikabulkan. “Kalau sudah hamil duluan, mau bilang apa. Nanti berisiko secara sosial kalau tidak diizinkan,” ucap ketua umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama itu.

Dari data pengadilan agama juga terungkap bahwa penyebab hamil duluan adalah gadget. Ibu empat anak tersebut mengatakan, perkembangan gadget harus menjadi perhatian bersama. Orang tua harus mendapat literasi digital. “Anaknya sangat advance (menggunakan gadget, Red). Tapi, orang tuanya tidak begitu memahami bagaimana fitur-fitur aplikasi yang diakses. Tidak semuanya membawa dampak positif. Ada yang berdampak destruktif,” katanya.

Perempuan yang pernah menjadi menteri sosial itu menambahkan, titik-titik pernikahan dini di Jawa Timur sudah terkonfirmasi. “Di mana kemiskinan tinggi, di sana kemungkinan pernikahan usia dini juga tinggi,” ucapnya. Dia mengutip ungkapan Sultan Hamengku Buwono X tentang pernikahan dini. “Ini (pernikahan dini, Red) yang menjadikan kemiskinan turun. Artinya, turun-temurun,” ucapnya.

Untuk mengatasi hal itu, perempuan yang pernah menjadi pimpinan Komisi VIII DPR RI tersebut mengajak semua komponen terlibat. Pendamping dan penyuluh agama harus turun bersama-sama. Guru di kelas juga harus mengajarkan kesehatan reproduksi remaja. Bisa disampaikan di berbagai mata pelajaran. Bukan hanya pelajaran agama dan kesehatan. Sebab, ada yang melihat edukasi itu sangat eksklusif. “Tidak bisa bilang, aku kan hanya ngajar matematika, aku kan hanya ngajar fisika. Padahal, fisika akan berintegrasi dengan keilmuan-keilmuan lain,” ucapnya.

Menurut Khofifah, pelajaran tentang kesehatan reproduksi remaja (KRR) sangat penting di sekolah. Bisa satu jam. Metode pembelajarannya lebih bersifat elaboratif. Sebab, kalau komunikasi dilakukan one way traffic, materinya menjadi tidak menarik. Lain halnya kalau dilakukan dengan simulasi. Siswa diminta presentasi per kelompok. Siswa mendiskusikan sendiri di kelas. Guru tinggal memandu.

Ketua umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Surabaya pada 1986 itu menyatakan, dunia sang guru saat remaja berbeda dengan anak-anak yang sedang berproses hari ini. “Ketika saya menjadi anggota DPR, belum ada internet, belum ada laptop,” ucapnya. Ketika rapat, dia harus membawa dua koper berisi buku-buku.

Hari ini betapa simpelnya. Sudah cukup pakai tab atau smartphone. Dengan alat itu, berbagai informasi bisa diakses dengan update yang diinginkan. “Saya ingin data apa pada tahun berapa, semua sudah bisa update,” ujarnya.

Ada pelajaran yang tak kalah penting dari kasus bullying yang menimpa Audrey di Pontianak. Khofifah selalu memasukkan contoh kasus tersebut saat bertemu dengan para kepala sekolah di Jawa Timur. Sebab, pemenuhan hak-hak perempuan menjadi tanggung jawab bersama. Termasuk sekolah. “Jangan sampai ada ungkapan, Bu itu kejadiannya di luar jam sekolah. Bu, kejadiannya tidak di sekolah,” ucap perempuan kelahiran Surabaya, 19 Mei 1965, itu.