KH Malik Jadi Nama Jalan di Kelurahan Buring

KH Malik punya kedudukan yang istimewa di mata masyarakat Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Terutama warga yang tinggal di Kelurahan Buring. Atas jasanya mengusir penjajah Belanda, pada tahun 1990-an, warga mengusulkan nama KH Malik menjadi nama jalan di kawasan itu.

Jalan KH Malik menjadi salah satu yang terpanjang di Kota Malang. Membentang sepanjang 7 kilometer dari pertigaan Jl Mayjen Sungkono (selatan Jembatan Kedungkandang), di Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, hingga pertigaan Jl Raya Kidal yang sudah masuk teritori Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Itu belum termasuk sejumlah jalan percabangan yang juga menggunakan nama KH Malik. Di antaranya, Jalan KH Malik Dalam yang menjadi akses alternatif menuju Perumahan Citra Garden View dan GOR Ken Arok. Lalu, ada pula jalan-jalan kecil yang menggunakan nama KH Malik I, II, dan seterusnya.

Penggunaan nama KH Malik untuk jalan di kawasan itu dilakukan sejak awal 90-an.

”Dulu namanya tidak jelas. Ada yang menyebut Jalan Timur Sungai. Hingga akhirnya ada kelompok mahasiswa yang mengusulkan agar jalan ini diberi nama KH Malik,” ujar Masruhan, kata salah seorang warga yang selama beberapa tahun ini intens menggali sejarah tentang KH Malik.

Pemberian nama tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap KH Malik. Dia dikenal sebagai seorang ulama yang juga pejuang kemerdekaan RI. Tak banyak referensi mengenai siapa sebenarnya KH Malik.



Namun, jejak perjuangannya masih bisa dilihat dengan jelas hingga saat ini. Yakni, lewat makamnya yang berada di tepian Jalan Mayjen Sungkono. Sekitar 50 meter di sebelah utara mulut Jalan KH Malik.

Makam KH Malik berdiri sendirian. Tak ada makam lain di sekitarnya. Makam KH Malik diapit oleh toko peracangan dan bedak tambal ban.

Ada sebuah hiasan bambu runcing dan bendera Merah Putih di salah satu bagian makam. Kemudian ada sebuah prasasti berukuran panjang satu meter yang memampang tulisan: Makam Pahlawan/Pejuang Kemerdekaan RI ’45 Letda Inf KH Malik, Gugur 6 Januari 1949.

Hanya ada informasi tanggal wafat dari sang kiai. Sementara tanggal lahirnya, hingga sekarang tak ada yang tahu. Meski upaya untuk menggali repihan fakta-fakta sejarah KH Malik terus dilakukan.

Masruhan menyatakan, KH Malik sebenarnya tidak pernah tinggal di Kelurahan Buring. Tapi, dia punya peran besar untuk daerah itu. KH Malik berkontribusi besar mengusir penjajah Belanda yang menyerang Kota Malang.

Karena itulah, tidak heran bila warga kemudian sepakat untuk mengusulkan KH Malik menjadi nama jalan. ”Tak hanya itu, sejak 2016, kami juga memperingati haul KH Malik,” jelas Masruhan.

Pewarta: Fisca Tanjung
Penyunting: Indra Mufarendra
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Darmono