Ketika Santri Ketikung Cinta # 09

LANJUTAN: KSKC-08

Oleh: Kang_im N*

“Ini surat izinmu sekolah diniyah (madrasah) nanti sore. Ini kontak mobilnya, bebas mau pilih Panther atau Mercedes Benz. Hadiri undangan resepsi pernikahan temanmu kemarin (Nella/baca KSKC-01-02), itung-itung latihan dalami ilmu ikhlas, biar kamu naik level di hadapan Allah!” kata abah, sembari menunjukkan dua kontak mobil padaku.

Tepatnya setelah salat subuh. Di depan pendopo. Tapi aku masih belum percaya, kala itu. Tak biasanya. Karena aku juga masih belum mahir amat mengendalikan kuda dari besi itu. Jangan mobil, mengendalikan si Edet (baca: KSKC-06) saja hampir ‘mencium’ pagar milik tetangga pesantren. Masih sopir amatir.

“Mohon maaf Bah. Ini serius, terus yang nyetir siapa?”

“Itu, ada dua temanmu yang siap bantu. Jangan lupa, harus berusaha sabar dan ikhlas!”

Tangan beliau menunjuk ke arah dua temanku. Si Bagong dan Inul. Di parkiran mobil beliau. Sekitar 9,37 meter dari tempat kami ngobrol jaraknya. Mereka lagi membersihkan kaca kedua mobil itu. Sambil pringas-pringis, istilah di kampungku yang lumayan ndeso. Senyum yang dibuat-dibuat, karena tuntutan ‘skenario’ hidup.

“Siap, kalau Wisang pasti pilih Mercedes Bah. Karena diproduksi di negera yang teknologinya maju. Juga mengandalkan sumber daya manusia dalam bangun bangsanya (Jerman), bukan seperti kita (mengandalkan sumber daya alam),”

“Pakai Panther saja Boy. Lebih nyantai dan insya Allah bawa keberuntungan, percaya sama kang Bagong!” teriak si Bagong, sambil mengusap-usap keringat di wajahnya.

Aku pun langsung mengamini ide pengagum asap tembakau itu. Tak ada pilihan lain. Saat itu. Karena si Bagong yang akan jadi ‘pawang’ mobilnya nanti. Yang nyetir tepatnya. Namun, di balik pilihan itu tersimpan ide liar. Sulit ‘disadap’ akal sehat kami. Pokoknya tak pernah kami pikirkan sebelumnya. Sehingga, aku dan Inul hanya bisa mengucapkan: makasih Boy. Tapi detailnya akan kuceritakan di bawahnya nanti.

“Sebentar, teman kita satunya, Kang Arto (teman kami lagi/baca KSKC-06) dimana kok nggak ikut?”

Tanyaku, sembari meminta menghentikan laju mobil, saat di tengah perjalanan.

“Hari ini dia dapat jatah baca kitab (di depan kelas). Jadi nggak jadi ikut,” jelas si Inul.

“Kirain kalian tikung, alias nggak diajak.”

“Begini Boy Wisang, aku mau tanya, kamu serius bisa mengikhlaskan mantan calon istrimu itu? karena perasaanku nggak enak dari tadi, abah tak biasanya kasih izin seperti ini.”

“Aku punya solusi, Kang Wisang pura-pura ikhlas saja, tar lama-kelamaan juga ikhlas sendiri. Karena hanya Nabi Muhammad SAW yang punya hak paten keikhlasan di dunia ini, lainnya (umatnya) masih perlu diteliti, tepatnya butuh latihan,” saut si Inul.

“Dapat wangsit dari mana Boy, tumben punya stok kata-kata asyik!” tambah Bagong.

Aku hanya menaburkan senyuman ‘pahit’ saja. Pura-pura gembira dengan menelan pil kebahagiaan. Namun, celoteh si Inul sudah mewakili. Tak perlu diberi tafsir lagi. Tepatnya tak perlu diberi penjelasan lagi.

*****

“Mohon maaf, bagi tamu undangan yang bisa qiroah mohon untuk maju,” kata MC pada acara walimatul ursy, resepsi pernikahan Nella, alias mantan calon pendamping hidupku.

Petugasnya dipanggil beberapa kali, tapi tak kunjung nongol. Resepsi di kampung memang biasa ada acara sambutan. Serah terima pengantin. Yaitu perwakilan dari pengantin cewek dan cowok. Tapi sebelum acara ini, diawali dulu dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran. Biasanya kami sebut dengan: qiroah. Alias mengaji dengan lagu, seperti lagu bayyati(29), shoba(30), hijas(31).

Sehingga, pandangan semua hadirin langsung ditujukan pada kami. Tepatnya di kursi undangan paling belakang. Karena kebetulan, kami mengenakan kopyah ala idola kami. Qori, sebutan untuk pelantun qiroah, yang tak ada duanya di negeri ini. Yaitu KH Muamar ZA. Kopyah dengan pegangan kecil di bagian atas. Jadi kopyahnya mirip dengan bangunan kubah masjid, jika dikenakan. Ini memang khas dengan qori yang pernah juara internasional itu. Semoga kami nanti diberi kesempatan bertemu beliau. Amiin.

Namun, ulah kedua temanku membuat nyaliku ciut. Tiba-tiba kedua temanku melepas kopyahnya, lalu tangannya kompak menunjuk ke arahku. Sambil badannya di geser ke kanan dan kiri. Karena aku duduk di bagian tengah. Inul menggeser badannya ke kanan, dan Bagong ke kiri. Secara bersamaan. Sambil jari telunjuknya dialamatkan padaku.

“Monggo mas muridnya KH Muamar ZA, kami mohon untuk bacakan ayat-ayat suci!” pinta MC kepadaku, sambil melemparkan pandangan ke arahku.

Jantungku langsung berdetak lebih kencang. Tepatnya sangat kencang. Seolah lebih kencang dari gempa tsunami getarannya. Juga membangunkan kenangan indah bersama cewek di pelaminan itu. Rasa itu makin menguntukku. Makin keronto-ronto, istilah di kampungku. Padahal, kami duduk di belakang untuk menghindari itu. Menghindari mata cewek itu. Takut rindu terlarang ini gondeli pikiran lagi. Ingat masa lalu. Kelingan mantan tepatnya.

Sehingga, ulah kami di belakang mampu mengalihkan dunia semua tamu undangan. Semua mata pada ‘menelanjangi’ aksi kami, terutama aku. Termasuk kedua pengantin itu.

Nekat. Ini pilihan terbaik yang harus kuputuskan, saat itu. Tak banyak pilihan. Pokoknya pikiran terjepit diantara pilihan serbarumit, saat itu. Cuwek atau maju. Jika cuwek, kasihan keluarga cewek terkejam sedunia itu, pasti keluarganya malu. Karena seolah persiapan acaranya tak matang. Namun, jika kupaksa qiroah, aku tak yakin, jika tembok keikhlasan hatiku kuat. Takut roboh. Mendem kangen, tapi sudah terlarang.

Pelan tapi pasti, kakiku mulai mengayun, melangkah menuju singgasana. Tapi bukan untuk menggantikan posisi pengantin laki-laki. Melainkan untuk bantu kelancaran pesta mereka. Hanya untuk baca Al Quran, buat mereka. Tapi tak apalah, nasi sudah jadi bubur. Dan bubur tak mungkin jadi nasi lagi.

Tapi ya sebisa dan semampuku. Karena aku bukan KH Muamar ZA, yang mampu menguasai segala jenis lagu qiroah. Untung aku pernah belajar qiroah sebelumnya. Meski ala kadarnya. Jadi minimal ada modal sedikit. Agak bisa tepatnya.

“Pakai lagu kurni (sukur muni/ yang penting tampil) saja Boy. Ingat, perkuat tembok rasa galau, jangan malu-maluin santri Boy! Puasa tiap Senin dan Kamis saja kuat, masak lihat mantan nikah nggak kuat Boy!” Ejek si Bagong, sebelum kakiku melangkah.

Dan…ternyata…….

Bersambung Boy……!!!

*) Kang_im N, tinggal di Malang, Jawa Timur.

Catatan:
-bayyati(29) : lagu yang paling dasar dari tilawatil quran/ atau suara yang paling dasar.
-shoba(30) : lagu tingkatan kedua dari semua lagu tilawatil quran.
-hijas(31) : lagu ketiga dari tujuh lagu tilawatil quran.