Ketika Santri Ketikung Cinta # 05

Ngimami

Oleh: Kang_im N*

“Tiiieeenggggg….Tiiieeenggggg…Tiiieeenggggg…..!!!,”

Lonceng pesantren kami berteriak. Sebanyak tiga kali. Tandanya setengah jam lagi sekolah diniyah dimulai. Waktu persiapan para santri. Untuk bersih-bersih. Mandi maksudnya.

Lonceng itu bak penguasa asrama. Semua jeritannya harus diperhatikan. Jika salah menafsirkan jumlah terikannya, siap-siap kena ta’dzir, istilah di pesantren kami. Alias hukuman. Mulai bangun tidur hingga tidur lagi, ya makhluk itu yang mengendalikan kami.

Namun, kami masih belum bisa mengamini kemauan sang ‘penguasa’ asrama itu. Inul, Bagong dan tentunya aku, masih sibuk di serambi masjid pesantren. Masih sibuk gladi bersih hafalan pejalaran nanti sore. Karena baru pulang kerja. Kami kerja sambil nyantri di pesantren.

Bahkan, keringat sisa-sisa dari tempat kerja masih tampak mengguyur wajah dua temanku. Wajahnya penuh keringat. Seolah sengatan lampu dunia berhasil memperdayainya. Bagong kerja di toko material bangunan dekat pesantren.

Sedangkan Inul kerja membantu di rumah abah yai, alias abah gaul (baca KSKC-03). Biasanya anak ini dinas di sawah. Kadang juga diminta bantu-bantu di tempat usaha pesantren. Sejenis koperasi.

Mereka juga tampak berusaha membuang rasa lelah yang nongkrong di badan. Caranya dengan rebahan, alias tiduran santai, di serambi masjid itu, sambil hafalan pelajaran. Namun, bukan mereka jika hanya menyerah pada nasib. Mereka bukan tipe orang yang mudah putus asa pada keadaan. Apalagi pasrah pada nasib ‘jorok’ yang selalu mengintai kami.

Mereka pemimpi kelas kakap. Juga perajut masa depan kelas dewa. Terkadang, demi mengoleksi harapan, nyawa pun diajaknya bercanda. Sedangkan aku, aku hanya jadi freelance, alias tenaga lepas mereka.

Namun, otakku masih belum bisa bekerja normal, saat itu. Masih kena virus galau tingkat akut. Peristiwa surat undangan kemarin masih belum bisa hengkang dari pikiran. Sehingga, membuat otak sulit mencerna materi hafalan. Bahkan, makin dipejamkan mata, makin jelas pula wajah imut gadis terkejam sedunia itu. Seolah senyumnya terus ‘bergelantungan’ di antara huruf hijaiyah(17), di buku yang kuhafalkan itu. Masih susah move on.

“Kenapa Boy, masih susah buang wajahnya cewek kemarin dari pikiran. Makanya, jangan percaya sama janji manusia, percaya itu sama janji Allah. Kamu sih terlalu memelihara harapan palsu,” kata Bagong.

“Jangan begitu Kang! kata orang, mantan itu lebih kuat menancapkan goresan kenangan indah di hati, jadi butuh waktu untuk menghapusnya. Karena kelingan mantan terus.” imbuh Inul.

“Tumben banget Boy punya stok kata-kata indah, lagi kesambet syetan mana? Tapi aku jadi ingat mbak Nella (Nella Kharisma, biduan yang biasa nyanyi lagu ‘kelingan mantan’). Aku jadi ingin goyang Boy.” saut Bagong.

Anak yang paling kocak di antara kami ini memang pengagum musik dangdut koplo garis keras. Terutama jika penyanyinya biduan asal Surabaya itu. Katanya, suatu waktu dia cerita padaku, musik dangdut koplo punya kontribusi besar pada semua pejabat di Indonesia. Termasuk presiden yang dipilih langsung oleh rakyat.

Tanpa campur tangan musik yang sering dipandang kampungan ini, mereka sulit jadi pejabat. Karena musik ini bisa masuk ke semua lini. Kelas bawah, menengah dan atas, tetap cocok. Sehingga, tiap kampanye selalu ada musik ini. Terkadang, ada ‘mitos’ di kampung: bukan konser jika belum ada musik dangdutnya.

Bahkan, orang yang paling ‘gila’ dengan asap tembakau itu mengaku pernah riset. Hasilnya menujukkan bahwa Bupati/ wali kota yang suka musik kampungan itu mudah membaur dengan rakyat. Tak berjarak dengan rakyak. Mudah ditemui warga. Dimana saja. Sehingga, pembangunan tepat sasaran. Juga tipenya suka blusukan. Kadang juga blusukan online. Gadget mania. Namun, Anda tak perlu percaya dengan risetnya si Bagong ini. Belum ada teori pendukungnya.

“Jangan mimpi ingin jadi Bupati atau wali kota, jika belum suka musik dangdut. Percaya sama Kang Bagong!” kata si Bagong, tiap saat ditanya alasan suka musik dangdut.

Maklum, anak ini memang suka memelihara ide ‘jahil’. Terkadang, idenya juga sering menyeret kami dalam ketidakpastian. Jika dimakan ‘telanjang bulat’. Ada saja akalnya. Dia selalu jadi penentu di tiap kebuntuan kami. Pokoknya, jika dia on fire, 90 persen masalah kami bisa beres.

Namun, secara tiba-tiba ada suara yang menghentikan aktivitas kami. Ada yang memanggil. Tepatnya 15 menit sebelum sekolah madrasah dimulai.

“Kang….Kang…Kang…!,” abah kami memanggil, sambil melambaikan tangan.

Dari Pendopo. Sekitar 39 meter jaraknya dari tempat kami, saat itu. Namun, kami hanya bisa saling ‘jual-beli’ pandangan saja. Saling berpandangan tepatnya. Masih belum paham. Panggilan itu dialamatkan ke siapa. Aku, Inul, atau Bagong. Atau semuanya. Sehingga, kami pun secara bersamaan menghampiri beliau.

“Abah minta tolong, ambilkan bata mentah di desa sebelah. Pakai Edet(18) saja. Yang nyetir Kang Ulum. Ini surat izin sekolahnya, kasihkan pak Ustad sebelum berangkat.” tutur beliau.

“Al hamdulillah ya Allah. Engkau memang mahatahu kebutuhan hambamu. Kok tahu, kalau Boy Wisang sulit hafalan hari ini. Dia (Wisang) masih sulit move on ya Allah.” Imbuh Bagong.

Bersambung Boy……!!!

*) Kang_im N, tinggal di Malang, Jawa Timur.

Catatan:
-huruf hijaiyah(17): huruf abjad bahasa arab
-Edet(18): sebuatan untuk kendaraan roda empat dengan mesin disel di pesantren