Ketika Santri Ketikung Cinta # 03

LANJUTAN: KSKC-02

Oleh: Kang_im N*

“Wa’alaikumsalam. Kang Inul dan Ulum langsung ke ruang makan, ibu nyai tadi sudah menyiapkan makan malam. Kalau sudah punya wudhu(10), Kang Wisang tolong ambilkan Al Qur’an di ruang tamu!” kata abah yai.

Kalimat mengejutkan itu mengiringi salam kami. Saat tiba di ‘bibir’ Pendopo. Masih tiba di depan Pendopo tepatnya. Sehingga, membuat nyali kami jadi ciut. Terutama aku. Apalagi aku langsung diminta duduk di tempat ‘panas’ itu. Tepatnya setelah menjemput kitab kebanggaan umat muslim tadi: Al Qur’an. Kebetulan, aku biasa menjaga wudhu. Ini memang saran beliau yang selalu ditekankan kepada semua santri.

Tempat duduk itu memang khusus untuk para pengurus pesantren. Saat menghadap abah yai. Untuk mendiskusikan tentang pesantren. Atau untuk ‘mengadili’ santri yang sedang ‘nabrak’ aturan.

Kursinya ada sembilan. Mejanya berpola elips. Seperti telur tepatnya. Di bagian depan ada satu kursi dan meja. Juga lengkap dengan berbagai kitab klasik, seperti Tafsir Jalalain(11) dan Ihya Ulumuddin(12), serta berbagai tumpukkan berkas tentang profil pesantren. Kursi ini tempat duduk abah kami.



Beliau biasa dipanggil: kiai gaul. Karena cara mengajar santri tak biasa. Tak berjarak dengan santri. Tepatnya sangat dekat. Juga mudah ditemui. Oleh siapa saja. Termasuk warga sekitar pesantren. Media sosial (medsos)-nya juga selalu aktif. Statusnya juga selalu penuh dengan gizi keimanan. Pokoknya seperti tipe pemimpin masa kini. Pemimpin generasi Z. Gadget mania.

Suaranya juga khas. Seperti tokoh idola warga di kampungku, yaitu kang Deddy Mizwar. Aktor spesialis tokoh masyarakat, sekaligus salah satu sutradara ternama di dunia film. Salah satu karyanya: film Kiamat Sudah Dekat(13).

Kelak, aku juga punya mimpi untuk bisa belajar membuat film berkualitas kepada beliau. Agar kami tak melulu disuguhi tontonan yang itu-itu saja, melainkan tuntunan yang lebih elegan. Juga mendidik. Namanya adalah kiai Ijudin. Tapi biasa kami panggil abah Gaul.

“Tolong Kang, kamu buka surat ke-6. Namanya surat Al-An’am(14). Tepatnya ayat 162. Kamu baca dalam hati dan resapi maknanya dulu!”

Tutur beliau lagi. Sambil membuka lembaran buku Ihya Ulumuddin. Tapi pandangan matanya tegas. Ke arahku. Mengisyaratkan keseriusan, agar aku segera memahami maksud ayat itu.

Namun, otakku masih belum bisa ‘mencerna’ apa yang diinginkan beliau. ‘Rektor’ pesantren itu memberiku teka-teki yang sulit dipecahkan. Ingat, bukan tiki-taka(15), tapi teka-teki. Seolah ada maksud tersembunyi dari ayat itu.

Ternyata benar, ayat itu menohokku. Aku tak bisa berkutik lagi. Sangat menuding nasibku. Saat itu. Pokoknya, aku seperti kena serangan balik yang mahamematikan. Jadi hanya bisa mengikuti kehendak Sang Pemilik Waktu. Pasrah.

Bunyi ayatnya: qul, inna sholaatii wa nusukii wa mahyaa ya wa mamaatii lillahi rabbil ‘aalamiin (162: Al An’am). Artinya, katakanlah, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya milik Allah, tuhan alam semesta. Intinya, semua hanya milik Allah. Manusia tak punya hak paten, atas apa yang ada di dunia ini, termasuk rasa cinta itu. Manusia hanya dititipi. Itu pun sifatnya sementara. Logikanya, barang titipan suatu saat pasti bakal diambil lagi oleh yang mahamemiliki. Yaitu Allah SWT.

“Abah yakin, kamu paham yang abah maksud. Kamu kan sudah mempelajari tentang faedah dari huruf ‘inna’ dan huruf jer ‘lam’ di ilmu nahwu (gramer bahasa arab). Dan kalau kamu masih ragu dengan Al Qur’an, patut dipertanyakan lagi syahadatmu (keimananmu) Kang!” tutur abahku.

Aku hanya bisa mundukkan kepala. Tak lebih. Tak ada pilihan lain. Inilah pilihan terbaik di antara beberapa opsi. Untuk meresapi kalimat beliau itu. Dalam banget maknanya.

Dalam bahasa arab, salah satu faedah huruf ‘inna’ adalah untuk mentaukidkan (menguatkan) kata yang diikuti. Sehingga, artinya akan bertambah: sungguh/benar-benar/sesungguhnya (sesuai kata yang diikuti). Sedangkan huruf jer lam itu menunjukkan kepemilikan, dimana dalam kalimat itu berarti: hanya milik (Allah), karena yang diikuti lafadz lamjalalah, atau kata Allah. Atau dalam istilah ilmu nahwunya disebut: lil milki. Bahasa umumnya: kepemilikan.

“Insya Allah paham Bah.” jawabku, lirih.

“Kalau kamu paham, kenapa kamu menyesali ketentuan Allah. Yang Maha Memiliki. Kamu kan cuma dititipi, termasuk rasa cinta itu. Kamu malah ‘membunuh’ masa depanmu sendiri (dengan dijejer/lihat KSKC#02). Galau itu yang keren Kang. Misalnya karena tidak bisa sholat jamaah lima waktu di masjid. Kamu tadi sore dijejer (hukuman untuk santri yang tak bisa hafal mata pelajaran)?,”

“Iya Bah. Maaf, Wisang sudah berusaha mengingat semua hafalan, tapi semua dirusak oleh surat (undangan) itu. Sudah 9 tahun Wisang menjaga rasa itu. Tapi ya itu tadi..,”

Mulutku tak bisa bicara lagi. Air mata mulai berjalan di pipi. Keronto-ronto, istilah di kampungku yang lumayan ndeso. Nangis tipis-tipis tepatnya. Terharu karena menahan rasa kecewa mendalam. Bukan mengingatnya, tapi memang sulit dilupakan. Sudah nempel di pikiran kenangan itu.

Bersambung Boy……!!!

*) Kang_im N, tinggal di Malang, Jawa Timur.

Catatan:
-wudhu(10): kegiatan umat muslim untuk mensucikan dari hadas kecil.
-Tafsir Jalalain(11): mahakarya dari ulama kelas dunia, yaitu Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuti.
-Ihya Ulumuddin(12): Mahakarya dari M Al Ghozali.
-Kiamat Sudah Dekat(13): Film besutan kang Deddy Mizwar dirilis tahun 2003 yang juga dibintangi Andre Stinky dan dijadikan sinetron pada sekitar tahun 2005.
-Al-An’am(14): salah satu nama surat dalam Al Qur’an, tepatnya surat ke-6.
-tiki-taka(15): gaya permainan sepak bola yang cirinya dengan umpan-umpan pendek dan pergerakan yang dinamis, memindahkan bola melalui beragam saluran dan mempertahankan penguasaan bola, atau lebih mudah lihat Barcelona memainkan sepak bola.