Ketika Puluhan Napiter Terorisme ‘Disambut’ Petir dan Hujan Badai

Lapas Gunung Sindur

Rombongan bus yang membawa puluhan narapidana teroris (napiter) dihadang hujan disertai badai begitu tiba .

Dilansir Metropolitan (Jawa Pos Grup), rombongan terdiri dari puluhan napiter yang sempat terlibat tragedi berdarah di Mako Brimob pada 8 Mei 2018. Mereka tiba menggunakan lima bus milik Korps Brimob dengan pengawalan ketat pihak kepolisian.

Pantauan di lapangan, akses jalan menuju Parung, Kabupaten Bogor, sempat ditutup. Sementara saat puluhan tahanan terorisme itu tiba di kawasan Rutan Kelas II B Gunungsindur.

Bahkan setiap pengendara motor dan mobil yang hendak masuk kawasan Rutan Gunungsindur, disetop petugas sembari digeledah sejak Minggu (20/5) siang.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami mengatakan, pemindahan 58 tahanan dari Lapas Nusakambangan ke Rutan Gunungsindur dan Polres Jakarta Utara untuk mempermudah proses hukum para tahanan tersebut.

“Pemindahan ini dilakukan untuk mempermudah proses hukum tahanan teroris yang masih berjalan di Jakarta, baik untuk penyidikan, persidangan dan upaya hukum lainnya,” jelas Sri.

Sri mengatakan, tahanan teroris ini tetap ditempatkan di rutan dengan tingkat pengamanan High Risk One Man One Cell dan petugas pengamanan yang telah di-assessment.

Tahanan yang dipindahkan adalah tahanan teroris yang sebelumnya ditempatkan di Cabang Rutan Salemba, Mako Brimob. Pascarusuh di Mako Brimob, mereka dipindahkan ke Lapas High Risk di Nusakambangan.

Dengan alasan kebutuhan pelaksanaan proses hukum tahanan teroris yang belum selesai, mereka dipindahkan ke Rutan Gunungsindur.

“Tadi pagi (kemarin) telah diserahterimakan tahanan dari Lapas Besi, Lapas Batu dan Lapas Pasir Putih kepada pihak kepolisian Brimob untuk dipindahkan,” tutur Sri.

Dia pun menyampaikan kesiapan Rutan Gunungsindur untuk menerima tahanan teroris dengan sistem pengamanan maksimal, sesuai Standar Operasional Prosedur yang berlaku.

”Semua sudah sesuai SOP-nya ya,” kata Sri.

Untuk diketahui, kawasan Rutan Gunungsindur bersebelahan dengan Lapas Gunungsindur.
Kawasan ini dikelilingi dinding tembok setinggi delapan meter dengan kawat bertegangan listrik. Serta diawasi enam tower penjaga di setiap sudut serta delapan pos pengamatan.

Bukan cuma itu, rutan ini juga dilengkapi 40 kamera CCTV serta alat pengacak sinyal telepon (jammer) dan satuan anjing pelacak.

Sementara Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham Liberty Sitinjak menambahkan, para teroris ditempatkan di dua blok yakni Blok C dan D.

Menurutnya penempatan ini dilakukan sampai proses persidangan masing-masing tahanan berkekuatan hukum tetap.

“Ya mereka di sana sampai ada putusan pengadilan. Untuk pengamanannya sendiri sudah disesuaikan dengan standar. Kalau untuk persidangan itu akan dilihat lagi apakah di Cibinong atau di mana nanti,” terangnya.

Sementara, Kasubag Publikasi Ditjen PAS Rika Aprianti menuturkan, untuk dua tahanan teroris dipindah di Polres Jakarta Utara yakni tahanan perempuan bersama bayinya.

“Untuk sementara dua lagi ada di Polres Jakarta Utara,” kata Rika.


(dna/jpg/JPC)