Ketika Pakde Karwo Kagumi Tudang Sipulung

MALANG KOTA – Dalam bahasa Sulawesi Selatan, Tudang Sipulung adalah bermusyawarah atau berdiskusi. Istilah inilah yang diadaptasi mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam ajang Kompetisi Jembatan Indonesia XV di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), Makassar, awal Desember lalu.

Tak hanya meraih juara satu di kompetisi tersebut, jembatan ini juga mengundang decak kagum saat dipamerkan di sela-sela penganugerahan doktor honoris causa (HC) di Dome UMM, Kamis (27/12). ”Tingkatkan lagi Nak. Ini bagus sekali,” kata Soekarwo sembari mengambil foto di depan jembatan bersama Rektor UMM Dr Fauzan.

Andre Oktavian Wijaya, salah satu anggota tim Red Jaeger UMM menyatakan, inspirasi Sulawesi melalui tema Tudang Sipulung berdasarkan empat suku besar yang ada di sana. ”Keempat-empatnya memiliki ornamen budaya yang bisa disajikan satu menjadi ide pembuatan rangka jembatan,” imbuhnya. Suku yang dia maksud adalah suku besar, seperti suku Makassar, Toraja, Bugis, dan Mandar.

Keempat suku ini, oleh Andre dicari perbedaan budayanya yang unik untuk diadaptasi ke dalam desain jembatan.  Misalnya, ada ornamen kapal vinisi, senjata badik, hingga ukiran dan kipas yang mereka gabungkan menjadi satu. ”Sehingga, kesatuan ornamen budaya dari empat suku di Sulawesi inilah yang menggambarkan Tudang Sipulung sesungguhnya,” jelas mahasiswa asli Pamekasan ini.

Keunikannya, jembatan ini memiliki lendutan. Atau perubahan rangka jembatan setelah diberikan beban yang nilainya sangat kecil. Keunikan inilah yang membuat juri menggangap karya UMM unggul dibanding puluhan karya dari berbagai kampus lain se-Indonesia.

Jembatan UMM ini, menghasilkan lendutan sebesar 2.175 mm dari angka maksimal untuk lendutan 15 mm.  Karyanya tersebut dinilai juri sebagai juara jembatan terkokoh. ”Karena setelah pengujian beban hidup di tengah bentang jembatan seberat 400 kilogram, lendutan yang dihasilkan Jembatan Tudang Sipulung sangat jauh dari angka maksimal lendutan,” pungkasnya.

Pewarta: Sandra Desi
Copy Editor: Amalia
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Darmono