Ketika Blue Bird Meng-Online-Kan Diri

Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad.

Di Jakarta, Taksi Blue Bird tak lagi takut bersaing dengan taksi online, seperti Grab ataupun Uber. Itu karena Blue Bird sudah meng-online-kan diri. Mereka tak mau kalah dengan Grab ataupun Uber. Pesan Taksi Blue Bird sudah bisa dilakukan secara online.

Bagaimana dengan tarifnya? Apakah jika kita pesan Blue Bird melalui online, membayarnya juga tetap pakai argo yang umumnya lebih mahal? Atau cara membayarnya juga sama seperti halnya dengan cara membayar taksi online yang umumnya lebih murah ketimbang taksi konvensional?

Ini pengalaman saya ketika naik Blue Bird selama beberapa hari di Jakarta. Pergi ke beberapa lokasi, saya selalu pesan Blue Bird melalui aplikasi ”My Blue Bird” yang bisa diunduh secara gratis di Play Store. Cara pesan Blue Bird melalui aplikasi tersebut, tak berbeda dengan cara pesan taksi online.

Memasukkan lokasi penjemputan, dan lokasi tujuan. Selanjutnya, langsung tertera berapa ongkosnya.
Ketika kali pertama memanfaatkan Blue Bird melalui aplikasi online ini, ada pengalaman menarik.

Ceritanya waktu itu, begitu sudah berada di dalam Taksi Blue Bird, selama perjalanan, saya sempat terkejut. Karena argo taksi ternyata masih berjalan. ”Lho, bukankah sudah ditetapkan berapa tarifnya? Mengapa masih menggunakan argo?” ini pertanyaan saya kepada si sopir Blue Bird.

Dia menjelaskan, argo memang harus tetap berjalan. Ini sebagai salah satu dasar bagi manajemen Taksi Blue Bird untuk mengukur kinerja sopir-sopirnya. Artinya, semakin banyak argonya berputar, berarti semakin produktif kinerja sopir-sopirnya.

Para penumpang Blue Bird lewat online tidak usah khawatir. Karena tarif yang dibayar oleh penumpang Blue Bird, ukurannya bukan argo. Melainkan tarif yang tertera pada online, ketika awal mem-booking. Jadi, tetap praktis. Tidak ribet. Dan sangat memudahkan customer.

Terobosan yang dilakukan Blue Bird ini membuat mereka tetap dipilih oleh pelanggan-pelanggannya. Sejak Blue Bird meng-online-kan diri, saya lebih memilih dia ketimbang Grab atau Uber.

Mengapa? Pesan Taksi Blue Bird lebih jelas. Lebih jelas mobilnya. Lebih jelas identitas sopirnya. Dan lebih jelas perusahaan taksinya. Ketika kita merasa tidak nyaman dengan perlakuan sopirnya, kita bisa langsung komplain ke manajemen Blue Bird. Ketika barang kita tertinggal di dalam mobil, asal kita bisa mengingat nomor lambung taksinya, maka kita akan bisa dengan mudah mendapatkan kembali barang kita. Dari sisi harga, juga sama dengan tarif taksi online.

Blue Bird rupanya menyadari, bahwa untuk bisa mengalahkan taksi online, maka mau tidak mau, suka tidak suka, harus masuk dalam pusaran taksi online. Karena di dalam pusaran online, customer sangat diuntungkan. Selain lebih praktis. Juga lebih murah. Dan era di masa yang akan datang, adalah era yang serbapraktis. Apa pun namanya, asal bisa lebih praktis, lebih mudah dan lebih murah, pasti akan banyak dituju orang.

Blue Bird rupanya menyadari, untuk melawan taksi online, tidak cukup hanya dengan melakukan sweeping, atau cegat sana, cegat sini. Cara ini, selain terkesan kasar, juga akan membuang-buang energi. Akan lebih baik energi digunakan untuk memperbaiki kekurangan. Menyempurnakan penampilan. Sehingga Blue Bird akhirnya bisa bersaing dengan taksi-taksi online.

Bagaimana dengan di Kota Malang? Jika taksi-taksi konvensional di Kota Malang mau secara total meng-online-kan diri, saya yakin, mereka akan bisa memenangkan pertarungannya dalam bersaing dengan taksi-taksi online. Apalagi jika armada taksinya di-upgrade. Mobil-mobilnya dibikin lebih baru tahunnya. Sopir-sopirnya lebih ramah penampilannya. Ini akan keren sekali.

Era yang serba online adalah sebuah keniscayaan…
Mereka adalah kekuatan yang tidak bisa dilawan…
Semakin melawan, semakin akan terpinggirkan…
Energi keluar akan sia-sia, tanpa hasil yang memuaskan..

Era yang serba online, harus diakrabi..
Jangan malah dihindari, apalagi dimusuhi..
Karena semakin dihindari, akan bikin pusing sendiri…

(Instagram: kum_jp)