Ketar-ketir Silpa Dana Desa

KOTA BATU – Rendahnya serapan dana desa (DD) hingga tahap kedua cukup disayangkan Pemkot Batu.

Seperti diketahui sebelumnya, berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DPMD2P3AP2KB) Kota Batu, diketahui bila jumlah serapannya baru 14,28 persen. Dari total bantuan DD yang di-plot tahun ini senilai Rp 26,6 miliar, diketahui bila serapannya hingga awal Agustus baru berada di angka Rp 2,2 miliar.

Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso lantas menyebut sejumlah penyebab di balik seretnya penyerapan DD tersebut. Salah satunya karena beberapa desa masih dijabat oleh penanggung jawab (PJ).

”Sepertinya itu juga berpengaruh, sebab mereka (PJ) belum benar-benar memaksimalkan dana tersebut,” kata Punjul. Untuk diketahui, 11 dari 19 desa saat ini memang tengah dipimpin PJ. ”Maka dari itu, di (pencairan) tahap tiga bulan depan, Pemkot Batu lebih intens lagi untuk pengawasannya,” imbuhnya.

Di sisi lain, adanya agenda pemilihan kepala desa (pilkades) yang rencananya tersaji Oktober mendatang diprediksi juga bisa mengganggu perencanaan dan penyerapan DD.



”Sebelas pemerintah desa ini kan masih fokus dengan persiapan pilkades. Pasti akan menghambat, hanya saja tidak boleh menjadi persoalan untuk proses penyaluran dan penyerapannya,” imbuhnya.

Senada dengan Punjul, Sekretaris DPMD2P3AP2KB Edi Juniarianto mengakui bila penyerapan DD paling lemah dialami desa yang dipimpin oleh PJ.

Dia berharap jika penyaluran dana desa tahap tiga yang akan berlangsung September mendatang bisa lebih lancar. ”Para kades itu juga terhambat karena tugas sebagai PJ desa atau bukan kades yang sesungguhnya. Jadi ya geraknya memang tidak maksimal,” kata dia.

Dia merinci jika penyaluran dana desa tahap dua beberapa waktu lalu berjumlah Rp 10,6 miliar. Pembagiannya pun masih sama dengan tahap ketiga. Dari tiga kecamatan di Kota Batu, Kecamatan Bumiaji mendapat suntikan dana desa paling tinggi di tahap tiga nanti, yakni senilai Rp 5,3 miliar. Jumlah itu bakal dibagi untuk 9 desa.

Nilai tertinggi DD tahun ini didapat Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, yang mendapat Rp 849 juta.

”Desa Mojorejo yang paling sedikit, sekitar Rp 422 juta. Sementara untuk per kecamatan, di Kecamatan Batu yang paling sedikit anggarannya. Karena di sana kan memang sudah terbantu untuk sarana dan prasarananya,” imbuh Edi.

Dengan sisa waktu yang ada, dia berharap para kades dapat memaksimalkan perencanaan yang matang. Sehingga angka sisa lebih pembiayaan anggaran (silpa) bisa ditekan. 

Pewarta : Miftahul Huda
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Bayu Mulya