Kesenian Ujung, Ritual Meminta Hujan dan Menjaga Kerukunan

MASYARAKAT di Kabupaten Mojokerto masih melestarikan kesenian ujung atau ojung. Salah satunya yang masih rutin digelar di Desa Salen, Kecamatan Bangsal.

Sebuah panggung sederhana disiapkan menjadi arena bagi seni adu pukul ini. Alunan musik tradisional menandai dimulainya pertandingan.

Dua pemain secara bergiliran adu ketangkasan dengan cara saling memukul dengan kayu rotan. Para pemain diwajibkan bertelanjang dada. Sebagai pembuka, mereka melakukan tarian mengikuti irama gamelan. Seni pertunjukan itu pun biasanya menyedot antusias penonton di sekitar arena.

Sementara di atas panggung, terdapat empat orang yang bertugas sebagai pengatur jalannya pertandingan. Mereka disebut sebagai kemelandang atau wasit dalam permainan ujung. Seorang di antaranya bertindak sebagai kemelandang utama atau wasit utama. Dua lainnya bertugas untuk mencari calon pemain. Sementara itu, seorang lainnya berperan menggendong sebuah bokor berisi beras kuning untuk ditaburkan saat pertandingan. Kedua pemain dibekali dengan sebatang rotan.

Kemudian, dua pemain tersebut saling dihadapkan untuk diadu. Kemelandang memberikan aba-aba sebagai tanda bahwa pemain mendapat giliran melayangkan pukulan ke arah lawan. Pemain lain juga berkesempatan membentangkan rotan sebagai upaya menangkis serangan.

’’Kedua pemain sama-sama mendapatkan tiga kali giliran untuk membonggol (memukul) dan menangkis,’’ terang Sri Waluyo Widodo, kemelandang utama ujung.

Sepanjang pertandingan, pukulan batang rotan sepanjang 1 meter itu pun terlihat membekas di tubuh para pemain. Namun, mereka sama sekali tidak menampakkan wajah kesakitan. Bahkan, kedua pemain tetap melemparkan senyum lebar sambil menari.

’’Walaupun saling memukul, mereka tidak ada rasa dendam,’’ paparnya.

Widodo menerangkan, pada awal kemunculannya, ujung merupakan sebuah ritual untuk meminta hujan. Pada zaman dulu, masyarakat percaya bahwa dalam pertandingan ujung ada pemaian yang mengucurkan darah, hujan akan turun.

’’Dulu banyak dipakai ritual memohon hujan dan sesuatu ke sang Hyang Widhi. Sekarang murni menjadi kesenian. Ada nilai keterampilan dan ketangkasan. Tak hanya ngedu wong (mengadu orang, Red), tetapi harus ada keahlian dari para pemainnya,’’ ujarnya.

Menurut dia, dalam perkembangan saat ini, ujung digelar sebagai sebuah kesenian. Agenda tersebut pada umumnya digelar sebagai rangkaian dalam ruwatan atau sedekah desa hingga hajatan.

Digelarnya ujung juga merupakan bentuk kesenian yang bisa menjaga kerukunan antarwarga. Sebab, dalam setiap pertandingan, warga dari penjuru daerah ikut turun untuk menjadi pamain.

’’Ujung adalah alat untuk mempersatukan. Dari yang sebelumnya tidak saling mengenal, setelah bertanding menjadi kenal,’’ terangnya.

Karena itu, dalam pertandingan ujung, saat ini tidak ditentukan siapa yang menang maupun yang kalah. Sebab, setiap pertandingan dilakukan dengan menjunjung tinggi sportivitas.

Bahkan, setelah bertanding, mereka diharuskan untuk saling bersalaman. Sugono, pemain ujung asal Desa Kutoporong, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, menambahkan, meski saling serang, sesama pemain ujung tidak boleh memiliki rasa dendam. Meski, beberapa bagian tubuhnya mengalami lebam atau terdapat luka hingga mengucurkan darah.

Pemain yang sudah beberapa kali mengikuti pertandingan ujung tersebut mengaku tidak merasa sakit meski rotan mendarat di bagian tubuhnya. Uniknya, dalam setiap pertandingan ujung hampir tidak ada persiapan khusus untuk menangani pemain yang mengalami luka.

Hanya, jika dianggap cukup parah, mereka memiliki ramuan khusus dengan mengoles getah buah pisang yang selalu disiapkan dalam setiap pertandingan. ’’Biasanya dua sampai tiga hari sudah sembuh sendiri,’’ jelasnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : ram/ris/c19/diq