22.2 C
Malang
Jumat, Februari 9, 2024

Skizofrenia dan Depresi Paling Banyak Dikeluhkan

MALANG KOTA – Banyak layanan kesehatan jiwa yang tersedia di Kota Malang. Salah satunya di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti 16 puskesmas dan program konseling di instansi pendidikan. Di puskesmas, ada sejumlah layanan yang bisa diakses masyarakat. Seperti layanan untuk depresi, gangguan mental emosi, dan orang dengan gangguan jiwa berat (ODGJ).

Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, mulai 2019 sampai 2022, jumlah masyarakat yang mengakses layanan kesehatan jiwa cenderung meningkat. Terutama pada pelayanan kesehatan jiwa untuk depresi.

”Terkait kesehatan mental, kami memiliki program kesehatan jiwa di masing-masing puskesmas,” kata Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif. Di dalam program tersebut, ada layanan konseling dan pendampingan.

Husnul menambahkan, sebelum mendapat pelayanan, orang yang datang akan menjalani asesmen terlebih dulu. ”Setelah itu, akan diberi penanganan sesuai hasil asesmen,” imbuh pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut.

Contohnya di Puskesmas Kendalkerep, Kecamatan Blimbing. Kepala Puskesmas Kendalkerep dr A A I Ngurah Kunti Putri mengakui bila masyarakat yang mengakses layanan kesehatan jiwa cukup banyak. Terutama mereka yang menderita gangguan jiwa berat seperti skizofrenia.

Sebagian dari mereka ada yang mengambil obat di puskesmas maupun meminta rujukan ke rumah sakit. ”Ada pula kasus-kasus seperti depresi dan gangguan kecemasan,” kata dia.

Data Kasus Bunuh Diri di Kota Malang

  • 2021 : 5 Kasus
  • 2022 : 8 Kasus
  • 2023 : 7 Kasus (Januari-Mei)
Penyebab Bunuh Diri di Kota Malang
  • Faktor impitan ekonomi
  • Konflik keluarga
  • Masalah percintaan
Lokasi Bunuh Diri
  • Rel Kereta Api (KA)
  • Jembatan
  • Rumah dan tempat yang sepi
Baca Juga:  RSUD Kota Malang Targetkan Akreditasi Paripurna Versi STARKES

Sumber: Polresta Malang Kota

Hal yang sama juga disampaikan Kepala Puskesmas Rampal Claket dr M. Ali Syahib. Dia menyebut, untuk kunjungan ke poli umum ada yang berupa pengambilan obat rutin. Apabila ada yang ingin melakukan konseling atau penanganan langsung, ada program kesehatan jiwa yang tersedia. ”Dan jumlah pasien pengawasan dari program jiwa ada sekitar 23 orang di wilayah kerja kami,” sebut dia.

Syahib menambahkan, biasanya mereka yang ingin konseling mengalami sejumlah gejala. Seperti tidak bisa tidur, gelisah, hiperaktif, dan mudah marah. Namun, yang terbanyak tetap skizofrenia terkendali atau stabil pengobatan rutinitas. Juga keluhan depresi yang terkontrol.

Layanan Kesehatan Jiwa di 16 Puskesmas

Pelayanan untuk depresi

  • 2019: 18 pelayanan
  • 2020: 49 pelayanan
  • 2021: 136 pelayanan
  • 2022: 821 pelayanan
  • 2023 (Januari-Mei): 11 pelayanan (sampling dua puskesmas)

Pelayanan untuk gangguan mental emosi

  • 2019: 1.830 pelayanan
  • 2020: 2.160 pelayanan
  • 2021: 2.021 pelayanan
  • 2022: 2.150 pelayanan
  • 2023: dalam perhitungan

Pelayanan untuk orang dengan gangguan jiwa berat (ODGJ)

  • 2019: 1.163 pelayanan
  • 2020: 732 pelayanan
  • 2021: 975 pelayanan
  • 2022: 1.297 pelayanan
  • 2023 (Januari-Mei): 12 pelayanan (sampling dua puskesmas)

Peningkatan kunjungan ke layanan kesehatan jiwa juga terlihat di lembaga konseling kampus. Setiap hari, jumlah yang datang antara satu sampai sepuluh orang per hari. Salah satunya di UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang.

Ketua Laboratorium Konseling Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Rika Fuaturosida menjelaskan, peningkatan kunjungan terjadi karena penyebab yang beragam. ”Ada yang memang memiliki kesadaran diri atau rekomendasi dari teman sebaya,” kata dia. Demikian pula masalah mental yang dikeluhkan. Mulai dari masalah keluarga, teman, hingga pasangan.

Baca Juga:  Manajemen Bakal Gelar Doa Bersama

Lebih lanjut, apabila persoalan yang dirasakan kompleks, masyarakat bisa mengakses layanan di rumah sakit. Seperti layanan di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA).

Spesialis Kedokteran Jiwa RSSA dr Ratri Istiqomah SpKJ menyebut, pasien yang mengakses layanan di RSSA dalam satu bulan bisa mencapai 600-an pasien. Terdiri dari berbagai macam kelompok usia, mulai dari usia remaja akhir hingga dewasa. Itu terbagi dalam sejumlah kategori. Salah satunya adalah pasien dengan kelompok gangguan skizofrenia sebanyak 30 persen.

”Kemudian, ada pasien dengan gangguan depresi. Termasuk gangguan lain dengan gejala depresi sebanyak 20 persen,” sebut Ratri. Pada pasien dengan gejala depresi, lanjut dia, biasanya ada keluhan putus asa dan pemikiran untuk mengakhiri hidup.

Pada kondisi itu, penting untuk memperhatikan kesehatan mental. Caranya dengan promosi kesehatan untuk menumbuhkan kesadaran bersama sesuai peran masing-masing. Juga diperlukan kolaborasi yang memungkinkan pencegahan lebih meluas.

Disinggung terkait upaya Pemkot Malang yang mengajukan penambahan pagar pengaman pada tempat-tempat tinggi seperti jembatan, Ratri turut mendukungnya. Namun, upaya pencegahan tidak boleh berhenti sampai di situ saja. ”Intinya bagaimana bisa menjadikan masyarakat yang sehat secara komprehensif. Baik fisik, mental, sosial, maupun spiritual,” tandas dia. (mel/by)

MALANG KOTA – Banyak layanan kesehatan jiwa yang tersedia di Kota Malang. Salah satunya di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti 16 puskesmas dan program konseling di instansi pendidikan. Di puskesmas, ada sejumlah layanan yang bisa diakses masyarakat. Seperti layanan untuk depresi, gangguan mental emosi, dan orang dengan gangguan jiwa berat (ODGJ).

Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, mulai 2019 sampai 2022, jumlah masyarakat yang mengakses layanan kesehatan jiwa cenderung meningkat. Terutama pada pelayanan kesehatan jiwa untuk depresi.

”Terkait kesehatan mental, kami memiliki program kesehatan jiwa di masing-masing puskesmas,” kata Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif. Di dalam program tersebut, ada layanan konseling dan pendampingan.

Husnul menambahkan, sebelum mendapat pelayanan, orang yang datang akan menjalani asesmen terlebih dulu. ”Setelah itu, akan diberi penanganan sesuai hasil asesmen,” imbuh pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut.

Contohnya di Puskesmas Kendalkerep, Kecamatan Blimbing. Kepala Puskesmas Kendalkerep dr A A I Ngurah Kunti Putri mengakui bila masyarakat yang mengakses layanan kesehatan jiwa cukup banyak. Terutama mereka yang menderita gangguan jiwa berat seperti skizofrenia.

Sebagian dari mereka ada yang mengambil obat di puskesmas maupun meminta rujukan ke rumah sakit. ”Ada pula kasus-kasus seperti depresi dan gangguan kecemasan,” kata dia.

Data Kasus Bunuh Diri di Kota Malang

  • 2021 : 5 Kasus
  • 2022 : 8 Kasus
  • 2023 : 7 Kasus (Januari-Mei)
Penyebab Bunuh Diri di Kota Malang
  • Faktor impitan ekonomi
  • Konflik keluarga
  • Masalah percintaan
Lokasi Bunuh Diri
  • Rel Kereta Api (KA)
  • Jembatan
  • Rumah dan tempat yang sepi
Baca Juga:  Anak dengan Osteogenis Imperfecta, Usia 10 Tahun 11 Kali Patah Tulang

Sumber: Polresta Malang Kota

Hal yang sama juga disampaikan Kepala Puskesmas Rampal Claket dr M. Ali Syahib. Dia menyebut, untuk kunjungan ke poli umum ada yang berupa pengambilan obat rutin. Apabila ada yang ingin melakukan konseling atau penanganan langsung, ada program kesehatan jiwa yang tersedia. ”Dan jumlah pasien pengawasan dari program jiwa ada sekitar 23 orang di wilayah kerja kami,” sebut dia.

Syahib menambahkan, biasanya mereka yang ingin konseling mengalami sejumlah gejala. Seperti tidak bisa tidur, gelisah, hiperaktif, dan mudah marah. Namun, yang terbanyak tetap skizofrenia terkendali atau stabil pengobatan rutinitas. Juga keluhan depresi yang terkontrol.

Layanan Kesehatan Jiwa di 16 Puskesmas

Pelayanan untuk depresi

  • 2019: 18 pelayanan
  • 2020: 49 pelayanan
  • 2021: 136 pelayanan
  • 2022: 821 pelayanan
  • 2023 (Januari-Mei): 11 pelayanan (sampling dua puskesmas)

Pelayanan untuk gangguan mental emosi

  • 2019: 1.830 pelayanan
  • 2020: 2.160 pelayanan
  • 2021: 2.021 pelayanan
  • 2022: 2.150 pelayanan
  • 2023: dalam perhitungan

Pelayanan untuk orang dengan gangguan jiwa berat (ODGJ)

  • 2019: 1.163 pelayanan
  • 2020: 732 pelayanan
  • 2021: 975 pelayanan
  • 2022: 1.297 pelayanan
  • 2023 (Januari-Mei): 12 pelayanan (sampling dua puskesmas)

Peningkatan kunjungan ke layanan kesehatan jiwa juga terlihat di lembaga konseling kampus. Setiap hari, jumlah yang datang antara satu sampai sepuluh orang per hari. Salah satunya di UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang.

Ketua Laboratorium Konseling Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Rika Fuaturosida menjelaskan, peningkatan kunjungan terjadi karena penyebab yang beragam. ”Ada yang memang memiliki kesadaran diri atau rekomendasi dari teman sebaya,” kata dia. Demikian pula masalah mental yang dikeluhkan. Mulai dari masalah keluarga, teman, hingga pasangan.

Baca Juga:  Penumpang Macito Capai 14.515 Orang

Lebih lanjut, apabila persoalan yang dirasakan kompleks, masyarakat bisa mengakses layanan di rumah sakit. Seperti layanan di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA).

Spesialis Kedokteran Jiwa RSSA dr Ratri Istiqomah SpKJ menyebut, pasien yang mengakses layanan di RSSA dalam satu bulan bisa mencapai 600-an pasien. Terdiri dari berbagai macam kelompok usia, mulai dari usia remaja akhir hingga dewasa. Itu terbagi dalam sejumlah kategori. Salah satunya adalah pasien dengan kelompok gangguan skizofrenia sebanyak 30 persen.

”Kemudian, ada pasien dengan gangguan depresi. Termasuk gangguan lain dengan gejala depresi sebanyak 20 persen,” sebut Ratri. Pada pasien dengan gejala depresi, lanjut dia, biasanya ada keluhan putus asa dan pemikiran untuk mengakhiri hidup.

Pada kondisi itu, penting untuk memperhatikan kesehatan mental. Caranya dengan promosi kesehatan untuk menumbuhkan kesadaran bersama sesuai peran masing-masing. Juga diperlukan kolaborasi yang memungkinkan pencegahan lebih meluas.

Disinggung terkait upaya Pemkot Malang yang mengajukan penambahan pagar pengaman pada tempat-tempat tinggi seperti jembatan, Ratri turut mendukungnya. Namun, upaya pencegahan tidak boleh berhenti sampai di situ saja. ”Intinya bagaimana bisa menjadikan masyarakat yang sehat secara komprehensif. Baik fisik, mental, sosial, maupun spiritual,” tandas dia. (mel/by)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/