22.7 C
Malang
Sabtu, Februari 10, 2024

Wajib Transfusi Darah Dua Minggu Sekali

Dibanding dulu, kondisi Zahrotul Mufidah kini jauh lebih baik. Nyaris tak ada lagi yang dia keluhkan. Syaratnya, Zahro tak boleh telat melakukan transfusi darah setiap dua minggu sekali. Deferiprone atau obat untuk menangani kelebihan zat besi pada penderita thalassemia juga tak boleh terlewatkan. Itu harus dikonsumsi dua kali dalam sehari.

”Seharusnya sehari tiga kali. Tapi karena saya ada keluhan mual, dokter menurunkan dosisnya untuk saya. Jadi dua kali sehari saja,” kata dia. Harus menelan obat tiap hari dan bersahabat dengan jarum suntik, tentu rasa bosan kerap menghampirinya.

Saat itu terjadi, Zahro memilih untuk mengingat perjuangannya selama ini. Dia diketahui menderita thalassemia sejak usia 4 tahun. Dia tak ingat betul apa yang terjadi padanya saat itu. Ibu hanya bercerita sering panik saat Zahro kecil mengalami demam yang tak kunjung reda. ”Jadi saya tahunya ya dari cerita ibu. Katanya dulu saya demam tinggi yang nggak turun-turun sampai badan lemas,” cerita warga Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang itu.

Perempuan yang kini berprofesi sebagai guru TK itu mengaku ingatannya hanya sampai pada saat dia menginjak SD. Saat itu, dia sering merasa pusing dan lelah. Banyak aktivitasnya di sekolah yang harus dibatasi.

Misalnya saat senam pagi dan olahraga, Zahro hanya bisa duduk dan melihat teman-temannya. Dia tak pernah memaksakan diri. Sebab, dia tahu betul konsekuensinya saat melakukan aktivitas berat. Tubuhnya bisa-bisa mendadak lemas. Selanjutnya terasa sesak di bagian dada.

Baca Juga:  Atap Terminal Arjosari Ambruk. Sopir Tuding Konstruksi Tua Jadi Biangnya

Apalagi, limpa Zahro sudah mengalami pembengkakan. Sehingga, saat usia 7 tahun, dia harus melakukan operasi limpa. Pasca operasi itu, daya tahan tubuhnya tak langsung membaik. Butuh proses penyesuaian yang cukup lama.

Setidaknya dia pernah melakukan transfusi darah tiga bulan sekali. ”Jadi saat itu yang dilihat sampai berapa lama kuatnya. Ternyata tiga sampai empat bulan itu sudah drop. Hb (hemogoblin) hanya tersisa 4 sampai 5 saja. Padahal normalnya di atas 9,” tuturnya. Untuk menjaga kestabilan tubuhnya, Zahro memilih melakukan transfusi dua minggu sekali. Berkat itu, kandungan Hb nya bisa berada di angka 6 sampai 7.

Sampai saat ini, setiap dua minggu sekali, Zahro dan suami menyambangi Rumah Sakit Hermina Tangkuban Perahu. Di sana lah dia menjalani transfusi darah. Sejak menikah tiga tahun lalu, perempuan kelahiran 17 Januari 1998 itu selalu didampingi suaminya. ”Sebelumnya sama ibu karena memang tidak pernah dibiarkan untuk menaiki kendaraan sendiri,” ucapnya.

Setelah transfusi darah yang memakan waktu cukup lama, permasalahan tak selesai begitu saja. Ancaman gatal dan pegal di bagian kaki kerap datang. Dia juga sering menggigil setelah transfusi. Zahro menceritakan, sebelum transfusi dia akan diambil sampel darah terlebih dahulu untuk mengecek kadar Hb.

Baca Juga:  Skizofrenia dan Depresi Paling Banyak Dikeluhkan

Setelah itu baru dilakukan transfusi sesuai dengan hasil laboratorium. Zahro mengatakan rata-rata dia hanya membutuhkan satu kantong darah saja. Sebab, Hb-nya masih berada di angka 6 sampai 7. ”Kalau sudah 5 ke bawah, biasanya butuh 2 kantong,” ucapnya. Transfusi satu kantong biasanya membutuhkan waktu 2 jam untuk benar-benar masuk ke tubuh Zahro. Itu pun kalau lancar.

Bila diestimasi, Zahro kerap butuh waktu 3-4 jam. Sebab, pembuluh darahnya yang kecil. Sehingga, proses transfusi sering macet. Zahro sadar betul penyakit thalassemia yang dia diderita bisa saja diturunkan pada anaknya kelak. Karena itu, keputusan untuk menikah menjadi hal yang berat dalam hidupnya.

Meski begitu, dia memilih jujur tentang kondisinya pada calon suaminya. ”Dan suami saat itu tak keberatan,” ucapnya. Tentu saja saat itu calon suami juga menjalani screening thalassemia sebelum melangsungkan pernikahan. Hasilnya, suami Zahro dinyatakan negatif thalassemia.

Jika salah satu sudah menderita thalassemia, sebisa mungkin pasangannya tidak menderita juga. ”Karena potensi untuk menurunkannya akan sangat besar kalau dua-duanya thalassemia,” ujarnya. Meski telah menikah, ketakutan untuk mempunyai momongan masih menghantuinya. Anak bungsu dari dua bersaudara itu tak ingin anaknya juga menderita penyakit yang sama dengan dirinya. (dre/by)

Dibanding dulu, kondisi Zahrotul Mufidah kini jauh lebih baik. Nyaris tak ada lagi yang dia keluhkan. Syaratnya, Zahro tak boleh telat melakukan transfusi darah setiap dua minggu sekali. Deferiprone atau obat untuk menangani kelebihan zat besi pada penderita thalassemia juga tak boleh terlewatkan. Itu harus dikonsumsi dua kali dalam sehari.

”Seharusnya sehari tiga kali. Tapi karena saya ada keluhan mual, dokter menurunkan dosisnya untuk saya. Jadi dua kali sehari saja,” kata dia. Harus menelan obat tiap hari dan bersahabat dengan jarum suntik, tentu rasa bosan kerap menghampirinya.

Saat itu terjadi, Zahro memilih untuk mengingat perjuangannya selama ini. Dia diketahui menderita thalassemia sejak usia 4 tahun. Dia tak ingat betul apa yang terjadi padanya saat itu. Ibu hanya bercerita sering panik saat Zahro kecil mengalami demam yang tak kunjung reda. ”Jadi saya tahunya ya dari cerita ibu. Katanya dulu saya demam tinggi yang nggak turun-turun sampai badan lemas,” cerita warga Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang itu.

Perempuan yang kini berprofesi sebagai guru TK itu mengaku ingatannya hanya sampai pada saat dia menginjak SD. Saat itu, dia sering merasa pusing dan lelah. Banyak aktivitasnya di sekolah yang harus dibatasi.

Misalnya saat senam pagi dan olahraga, Zahro hanya bisa duduk dan melihat teman-temannya. Dia tak pernah memaksakan diri. Sebab, dia tahu betul konsekuensinya saat melakukan aktivitas berat. Tubuhnya bisa-bisa mendadak lemas. Selanjutnya terasa sesak di bagian dada.

Baca Juga:  Wisudawan Terbaik UMM Manfaatkan CoE untuk Kembangkan Bisnis Udang

Apalagi, limpa Zahro sudah mengalami pembengkakan. Sehingga, saat usia 7 tahun, dia harus melakukan operasi limpa. Pasca operasi itu, daya tahan tubuhnya tak langsung membaik. Butuh proses penyesuaian yang cukup lama.

Setidaknya dia pernah melakukan transfusi darah tiga bulan sekali. ”Jadi saat itu yang dilihat sampai berapa lama kuatnya. Ternyata tiga sampai empat bulan itu sudah drop. Hb (hemogoblin) hanya tersisa 4 sampai 5 saja. Padahal normalnya di atas 9,” tuturnya. Untuk menjaga kestabilan tubuhnya, Zahro memilih melakukan transfusi dua minggu sekali. Berkat itu, kandungan Hb nya bisa berada di angka 6 sampai 7.

Sampai saat ini, setiap dua minggu sekali, Zahro dan suami menyambangi Rumah Sakit Hermina Tangkuban Perahu. Di sana lah dia menjalani transfusi darah. Sejak menikah tiga tahun lalu, perempuan kelahiran 17 Januari 1998 itu selalu didampingi suaminya. ”Sebelumnya sama ibu karena memang tidak pernah dibiarkan untuk menaiki kendaraan sendiri,” ucapnya.

Setelah transfusi darah yang memakan waktu cukup lama, permasalahan tak selesai begitu saja. Ancaman gatal dan pegal di bagian kaki kerap datang. Dia juga sering menggigil setelah transfusi. Zahro menceritakan, sebelum transfusi dia akan diambil sampel darah terlebih dahulu untuk mengecek kadar Hb.

Baca Juga:  70 Persen Pekerja Usia Produktif, Getol Cairkan JHT. Berikut Alasannya!

Setelah itu baru dilakukan transfusi sesuai dengan hasil laboratorium. Zahro mengatakan rata-rata dia hanya membutuhkan satu kantong darah saja. Sebab, Hb-nya masih berada di angka 6 sampai 7. ”Kalau sudah 5 ke bawah, biasanya butuh 2 kantong,” ucapnya. Transfusi satu kantong biasanya membutuhkan waktu 2 jam untuk benar-benar masuk ke tubuh Zahro. Itu pun kalau lancar.

Bila diestimasi, Zahro kerap butuh waktu 3-4 jam. Sebab, pembuluh darahnya yang kecil. Sehingga, proses transfusi sering macet. Zahro sadar betul penyakit thalassemia yang dia diderita bisa saja diturunkan pada anaknya kelak. Karena itu, keputusan untuk menikah menjadi hal yang berat dalam hidupnya.

Meski begitu, dia memilih jujur tentang kondisinya pada calon suaminya. ”Dan suami saat itu tak keberatan,” ucapnya. Tentu saja saat itu calon suami juga menjalani screening thalassemia sebelum melangsungkan pernikahan. Hasilnya, suami Zahro dinyatakan negatif thalassemia.

Jika salah satu sudah menderita thalassemia, sebisa mungkin pasangannya tidak menderita juga. ”Karena potensi untuk menurunkannya akan sangat besar kalau dua-duanya thalassemia,” ujarnya. Meski telah menikah, ketakutan untuk mempunyai momongan masih menghantuinya. Anak bungsu dari dua bersaudara itu tak ingin anaknya juga menderita penyakit yang sama dengan dirinya. (dre/by)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/