21.4 C
Malang
Jumat, Februari 9, 2024

Ketabahan Sri Mulyani Merawat Tiga Anak Thalassemia

BERAGAM upaya dilakukan Sri Mulyani untuk memastikan kebutuhan darah tiga putranya terpenuhi. Yakni Anang Fiki, Feri Baba Nugroho, dan Rian Basuki. Ketiganya didiagnosis mengidap thalassemia atau kelainan darah bawaan yang ditandai dengan kekurangan hemoglobin.

——

PERJUANGAN Sri Mulyani dimulai sejak 2008 silam. Kala itu putra sulungnya yang bernama Anang terpeleset hingga jatuh di musala. Anang yang masih berusia sembilan tahun tidak terluka, tapi bagian perutnya membesar.

Karena khawatir, Sri membawa Anang ke dukun bayi. Saat diraba, dukun bayi itu menemukan benjolan. Dia pun meminta Sri agar membawa Anang ke dokter di Kecamatan Pakisaji. Namun, karena peralatan yang tidak mumpuni, mereka diminta melakukan pemeriksaan rontgen dan USG di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA).

Anang kemudian dinyatakan mengidap thalassemia, sehingga harus melakukan transfusi darah dan diberi obat injeksi selama lima hari. ”Lalu, dia diberi obat tablet yang harus diminum tiga kali dalam sehari selama sebulan. Satu kali minum tabletnya ada dua,” jelas perempuan asli Desa Permanu, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang itu.

Sejak saat itu, Anang harus rutin mendapatkan transfusi darah. Jumlah kantong darah dalam sekali transfusi beragam. Kadang empat kantong, kadang sampai enam kantong. Pekan lalu, remaja lulusan SMK Budi Mulia Pakisaji tersebut harus mendapatkan delapan kantong darah karena HB-nya belum normal, yakni 5,7.

Baca Juga:  Setahun, BPJS Cairkan Klaim JHT Rp 495 M

Tak hanya Anang. Pada 2008 juga, anak keempat Sri yang bernama Feri mendadak sakit panas. Saat menjalani pemeriksaan lebih lanjut, ternyata Feri didiagnosis mengidap penyakit yang sama seperti kakak sulungnya.

Ujian itu seolah belum berhenti. Sri yang belum lama melahirkan Rian diminta dokter spesialis anak yang merawat Anang untuk memeriksa anak bungsunya tersebut. Dokter khawatir Rian juga mengidap thalassemia. Kekhawatiran itu akhirnya terbukti saat usia Rian menginjak tujuh bulan.

Memiliki tiga anak yang mengidap thalassemia membuat Sri harus ekstrasabar. Apalagi dia juga memiliki dua anak perempuan. Sementara suaminya, Sudarmaji, hanya tukang tambal sepatu keliling. ”Ya untungnya rezeki itu selalu ada saja. Meskipun sehari-hari kami hanya bisa makan lauk sederhana seperti pindang dan oseng-oseng wortel,” ucap dia.

Pernah Dikira Mengemis, Padahal Butuh Darah

Sri juga mengungkapkan pernah mendapat perlakuan tidak mengenakkan selama merawat anaknya. Misalnya pada 2021 lalu, saat Covid-19 sedang menggila. Kala itu ketiga anaknya membutuhkan transfusi darah, tetapi stok di rumah sakit sedang kosong. Dia pun pergi ke kantor kecamatan untuk meminta bantuan. Belum sempat menjelaskan secara detail, dia sudah keburu dimarahi oleh pegawai kecamatan.

Baca Juga:  IHC PT Nusantara XI Media Berikan Santunan kepada 150 Anak Panti Asuhan

”Kebetulan waktu itu mendekati Lebaran. Saya dikira mau minta bantuan. Padahal saya cuma mau minta tolong karena saat itu HB anak saya sudah rendah,” ungkap Sri. Dia sedih karena dituduh meminta-minta. Beruntung ada anggota Koramil dan PMI Kabupaten Malang yang membantunya.

Tidak cukup sampai di sana, Sri dan suaminya pernah mendonorkan darah untuk tiga anaknya. Pernah juga membeli stok darah dari orang seharga Rp 350 ribu per kantong. Semua itu dilakukan di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Namun, keduanya bersyukur karena lima anaknya merupakan anak-anak yang penurut. Mereka pun mematuhi jika diminta sang ibu berhemat atau tidak jajan.

Kini, Anang sudah berusia 24 tahun, sementara Feri 14 tahun, dan Rian 10 tahun. Sebagai anak sulung, Anang ingin membantu keluarganya. ”Saya sempat bekerja di restoran, tapi setelah itu berhenti karena tutup. Pernah juga jadi ’polisi cepek’ dan tidak lanjut. Sekarang masih mencari kerja,” lirih dia. (mel/fat)

BERAGAM upaya dilakukan Sri Mulyani untuk memastikan kebutuhan darah tiga putranya terpenuhi. Yakni Anang Fiki, Feri Baba Nugroho, dan Rian Basuki. Ketiganya didiagnosis mengidap thalassemia atau kelainan darah bawaan yang ditandai dengan kekurangan hemoglobin.

——

PERJUANGAN Sri Mulyani dimulai sejak 2008 silam. Kala itu putra sulungnya yang bernama Anang terpeleset hingga jatuh di musala. Anang yang masih berusia sembilan tahun tidak terluka, tapi bagian perutnya membesar.

Karena khawatir, Sri membawa Anang ke dukun bayi. Saat diraba, dukun bayi itu menemukan benjolan. Dia pun meminta Sri agar membawa Anang ke dokter di Kecamatan Pakisaji. Namun, karena peralatan yang tidak mumpuni, mereka diminta melakukan pemeriksaan rontgen dan USG di RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA).

Anang kemudian dinyatakan mengidap thalassemia, sehingga harus melakukan transfusi darah dan diberi obat injeksi selama lima hari. ”Lalu, dia diberi obat tablet yang harus diminum tiga kali dalam sehari selama sebulan. Satu kali minum tabletnya ada dua,” jelas perempuan asli Desa Permanu, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang itu.

Sejak saat itu, Anang harus rutin mendapatkan transfusi darah. Jumlah kantong darah dalam sekali transfusi beragam. Kadang empat kantong, kadang sampai enam kantong. Pekan lalu, remaja lulusan SMK Budi Mulia Pakisaji tersebut harus mendapatkan delapan kantong darah karena HB-nya belum normal, yakni 5,7.

Baca Juga:  Krisis Pendonor Trombosit

Tak hanya Anang. Pada 2008 juga, anak keempat Sri yang bernama Feri mendadak sakit panas. Saat menjalani pemeriksaan lebih lanjut, ternyata Feri didiagnosis mengidap penyakit yang sama seperti kakak sulungnya.

Ujian itu seolah belum berhenti. Sri yang belum lama melahirkan Rian diminta dokter spesialis anak yang merawat Anang untuk memeriksa anak bungsunya tersebut. Dokter khawatir Rian juga mengidap thalassemia. Kekhawatiran itu akhirnya terbukti saat usia Rian menginjak tujuh bulan.

Memiliki tiga anak yang mengidap thalassemia membuat Sri harus ekstrasabar. Apalagi dia juga memiliki dua anak perempuan. Sementara suaminya, Sudarmaji, hanya tukang tambal sepatu keliling. ”Ya untungnya rezeki itu selalu ada saja. Meskipun sehari-hari kami hanya bisa makan lauk sederhana seperti pindang dan oseng-oseng wortel,” ucap dia.

Pernah Dikira Mengemis, Padahal Butuh Darah

Sri juga mengungkapkan pernah mendapat perlakuan tidak mengenakkan selama merawat anaknya. Misalnya pada 2021 lalu, saat Covid-19 sedang menggila. Kala itu ketiga anaknya membutuhkan transfusi darah, tetapi stok di rumah sakit sedang kosong. Dia pun pergi ke kantor kecamatan untuk meminta bantuan. Belum sempat menjelaskan secara detail, dia sudah keburu dimarahi oleh pegawai kecamatan.

Baca Juga:  Pekan Sehat Insan Permata Pembubaran Satgas Covid hingga Bagi Imunitas

”Kebetulan waktu itu mendekati Lebaran. Saya dikira mau minta bantuan. Padahal saya cuma mau minta tolong karena saat itu HB anak saya sudah rendah,” ungkap Sri. Dia sedih karena dituduh meminta-minta. Beruntung ada anggota Koramil dan PMI Kabupaten Malang yang membantunya.

Tidak cukup sampai di sana, Sri dan suaminya pernah mendonorkan darah untuk tiga anaknya. Pernah juga membeli stok darah dari orang seharga Rp 350 ribu per kantong. Semua itu dilakukan di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Namun, keduanya bersyukur karena lima anaknya merupakan anak-anak yang penurut. Mereka pun mematuhi jika diminta sang ibu berhemat atau tidak jajan.

Kini, Anang sudah berusia 24 tahun, sementara Feri 14 tahun, dan Rian 10 tahun. Sebagai anak sulung, Anang ingin membantu keluarganya. ”Saya sempat bekerja di restoran, tapi setelah itu berhenti karena tutup. Pernah juga jadi ’polisi cepek’ dan tidak lanjut. Sekarang masih mencari kerja,” lirih dia. (mel/fat)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/