22.7 C
Malang
Sabtu, Februari 10, 2024

Banyak Pria Enggan Pakai KB Vasektomi

MALANG KOTA – Penggunaan alat kontrasepsi pada pria masih rendah. Khususnya pada program vasektomi atau mengikat saluran sperma. Hal itu bisa dibuktikan dari catatan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang yang tidak ada sama sekali pria menggunakan program Keluarga Berencana (KB) tersebut.

Masih rendahnya pria ber-KB tentu jadi perhatian Dinsos-P3AP2KB Kota Malang. Mengingat angka kelahiran bayi dalam satu keluarga masih tinggi. Untuk mendongkrak keikutsertaan pria dalam ber-KB, Dinsos-P3AP2KB bakal memberikan program vasektomi tersebut secara gratis.

”Tahun ini jatahnya ada untuk 10 orang, diharapkan ada yang mau dengan cara tersebut,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Sri Umiasih, kemarin.

Baca Juga:  Edukasi Perempuan hingga Sorot Hak Disabilitas

Padahal dengan alat kontrasepsi itu bisa dibilang efektif menekan kehamilan si istri. Dengan kata lain risiko kehamilan bisa ditekan. Apalagi pengendalian penduduk kini juga dilakukan pemkot agar tidak terjadi ledakan penduduk secara signifikan.

Sri menyebut hingga saat ini peminat vasektomi belum ada. Ada sejumlah alasan mengapa pria jarang menggunakan KB tersebut.

”Salah satunya ada ketakutan tidak punya anak lagi, padahal masih bisa dengan konsultasi dengan dokter,” jelas pejabat eselon III B Pemkot Malang itu.

Pada tahun ini pihaknya menargetkan ada 1.162 orang yang menjadi akseptor KB. Terdiri dari 90 orang akseptor tubektomi, 564 akseptor (Intrauterine Device) IUD, dan 498 akseptor implan.

Baca Juga:  Sinergi Nyata Smoot, SWAP, Grab, dan PLN Ciptakan Ekosistem Motor Listrik

”Namun, sampai dengan April baru 370 akseptor KB yang terdiri dari 162 akseptor implan, 185 akseptor IUD, dan 23 akseptor tubektomi,” imbuh Sri.

Sri melanjutkan target akseptor KB tahun ini lebih sedikit dari tahun lalu. Yakni sebanyak 1.437 akseptor dengan capaian sebanyak 971 akseptor. Namun, target program Metode KB Jangka Panjang (MKJP) yang menentukan adalah pemerintah pusat.

Dalam pengendalian penduduk, pihaknya juga bekerja sama dengan dinkes beserta faskes lainnya. Seperti dalam penyediaan MJKP melalui puskesmas hingga rumah sakit. (mel/adn)

MALANG KOTA – Penggunaan alat kontrasepsi pada pria masih rendah. Khususnya pada program vasektomi atau mengikat saluran sperma. Hal itu bisa dibuktikan dari catatan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang yang tidak ada sama sekali pria menggunakan program Keluarga Berencana (KB) tersebut.

Masih rendahnya pria ber-KB tentu jadi perhatian Dinsos-P3AP2KB Kota Malang. Mengingat angka kelahiran bayi dalam satu keluarga masih tinggi. Untuk mendongkrak keikutsertaan pria dalam ber-KB, Dinsos-P3AP2KB bakal memberikan program vasektomi tersebut secara gratis.

”Tahun ini jatahnya ada untuk 10 orang, diharapkan ada yang mau dengan cara tersebut,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Sri Umiasih, kemarin.

Baca Juga:  Revitalisasi Pasar Madyopuro Sudah 80 Persen

Padahal dengan alat kontrasepsi itu bisa dibilang efektif menekan kehamilan si istri. Dengan kata lain risiko kehamilan bisa ditekan. Apalagi pengendalian penduduk kini juga dilakukan pemkot agar tidak terjadi ledakan penduduk secara signifikan.

Sri menyebut hingga saat ini peminat vasektomi belum ada. Ada sejumlah alasan mengapa pria jarang menggunakan KB tersebut.

”Salah satunya ada ketakutan tidak punya anak lagi, padahal masih bisa dengan konsultasi dengan dokter,” jelas pejabat eselon III B Pemkot Malang itu.

Pada tahun ini pihaknya menargetkan ada 1.162 orang yang menjadi akseptor KB. Terdiri dari 90 orang akseptor tubektomi, 564 akseptor (Intrauterine Device) IUD, dan 498 akseptor implan.

Baca Juga:  Sobat Fest & Komix Herbal Sehatkan Indonesia di 77 Kota dari Sabang-Merauke

”Namun, sampai dengan April baru 370 akseptor KB yang terdiri dari 162 akseptor implan, 185 akseptor IUD, dan 23 akseptor tubektomi,” imbuh Sri.

Sri melanjutkan target akseptor KB tahun ini lebih sedikit dari tahun lalu. Yakni sebanyak 1.437 akseptor dengan capaian sebanyak 971 akseptor. Namun, target program Metode KB Jangka Panjang (MKJP) yang menentukan adalah pemerintah pusat.

Dalam pengendalian penduduk, pihaknya juga bekerja sama dengan dinkes beserta faskes lainnya. Seperti dalam penyediaan MJKP melalui puskesmas hingga rumah sakit. (mel/adn)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/