Kesaksian Calon Korban Reynhard Sinaga, Tolak Minuman dan Kabur

JawaPos.com – Warga Manchester, Inggris, Michael Crompton, merasa sangat beruntung karena berhasil lolos dari bujuk rayu Reynhard Sinaga, predator seks asal Indonesia yang menempuh studi di Inggris. Crompton merasa lega tak sempat menjadi korban ‘keganasan’ Reynhard. Dia syok ketika polisi datang menunjukkan foto Reynhard dan percakapannya dengan Reynhard lewat WhatsApp pada 2015.

Dilansir dari Manchester Evening News, Selasa (14/1), pada 2015, Crompton dibawa ke flat Reynhard di Manchester. Michael bercerita bagaimana dia lolos tanpa cedera ketika merasa curiga. Dia menyadari Reynhard adalah sosok yang aneh malam itu. Crompton benar-benar sadar saat diajak ke apartemen seorang pria pukul 4 pagi.

Dia memang sekaligus meminta tolong untuk menggunakan pengisi daya baterai ponselnya di flat Reynhard sekitar pukul 4 pagi. Reynhard membawa Crompton menuju flatnya, tempat membius dan memperkosa ratusan pria.

Crompton mengatakan dia curiga karena Reynhard menawari dua minuman. Dia pun menolak dua minuman itu. Untung saja, sebab Reynhard pasti sudah membumbui minuman tersebut dengan GHB (obat bius).

Crompton adalah seorang teknisi pencahayaan dari Whitefield yang merasa beruntung karena berhasil lolos dari “sergapan” Reynhard. “Saya pikir Reynhard agak aneh ketika dia mendekati saya. Dia tampak benar-benar sadar menawarkan orang asing untuk pergi ke flatnya. Kami kembali ke apartemennya dan dia langsung menawari saya minuman dan saya tolak,” sebut Crompton.

Anehnya lagi, ketika minuman ditolak, Crompton dipaksa harus mau menerima cairan lewat suntikan. Crompton yang sadar langsung merasa ada yang aneh dengan Reynhard.

“Dia kemudian menawari saya suntikan yang saya pikir aneh. Jika saya menolak minuman, mengapa saya kemudian ingin suntikan? Saya berkata ‘tidak’ dan kemudian dia mengatakan kepada saya bahwa saya bisa menginap jika saya mau. Pada saat itulah saya memutuskan untuk keluar dari sana,” tegas Crompton.

“Segera setelah ponsel saya sudah cukup baterai, saya mengirim pesan singkat kepada teman-teman saya untuk mengatakan saya berada dan kemudian saya cepat pergi. Saya hanya ingin keluar dari flat orang aneh itu sesegera mungkin,” tambahnya.

Crompton berusia 21 tahun ketika bertemu Reynhard pada 2015. Dia mengaku kaget ketika polisi Greater Manchester menghubunginya pada Juni 2019 dan bertanya apakah dia ingat bertemu seorang pria bernama Reynhard Sinaga.

“Saya hanya mengenalnya sebagai Rey, jadi aku tidak mengenali nama itu, tetapi begitu polisi menunjukkan fotonya, saya langsung mengenali wajahnya. Polisi telah menghubungi saya setelah menemukan pesan antara saya dan Reynhard di teleponnya via WhatsApp pada 2015,” jelas Crompton.

Setelah Crompton kabur malam itu, Reynhard tetap penasaran dan berusaha untuk terus mendekatinya. Setelah bertukar nomor telepon, Crompton terus ‘diteror’ dan didekati.

“Kami melakukan pesan beberapa minggu kemudian untuk mencoba dan mengatur kencan dengan saya atau dengan teman saya, tapi itu tak pernah terjadi. Saya tidak bisa mempercayainya ketika saya tahu apa yang telah dilakukan Reynhard. Sungguh menakutkan memikirkan bagaimana bisa begitu mudahnya saya dan saya bersyukur menolak minuman dan tawarannya untuk menginap,” tutupnya.

Seperti diketahui, Reynhard Sinaga, WNI yang menempuh studi di Inggris, dipenjara seumur hidup dengan jangka waktu minimal 30 tahun. Dia dinyatakan bersalah atas 195 perkosaan pada pria. Sampai saat ini polisi masih menyelidiki siapa saja identitas korban dan tetap merahasiakannya.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani