MALANG KOTA – Program yang dilakukan SMP Kristen Petra ini patut jadi contoh. Di sekolahnya, siswa dididik mencari uang sendiri. Caranya, sejak kelas VIII, siswa diajari untuk kreatif dengan memanfaatkan barang bekas yang ada di lingkungan. Maka, siswa dibekali dengan segala jenis keterampilan mengolah barang bekas tersebut. Hasilnya, siswa berhasil memproduksi mainan balok, puzzle, dan peraga rambu lalu lintas. Semuanya dari bahan bekas.

Nah, karya-karya siswa itu kemarin dipamerkan ke Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang Dra Zubaidah MM bersama tim juri Green School Festival (GSF) 2018. Zubaidah sempat tidak percaya jika mainan dari balok kayu itu merupakan hasil karya siswa. Karena hasilnya dinilai cukup bagus. Namun, setelah dijelaskan oleh Kepala SMPK Petra Sih Pangrekso, Zubaidah baru percaya. Apalagi salah satu siswa juga sempat diminta untuk menjelaskan proses pembuatan karya-karya tersebut.

Sih Pangrekso menyampaikan, sekolahnya menerapkan pendidikan teknologi dasar (PTD). Di mana, para siswanya dilatih untuk membuat sesuatu yang berguna dari barang-barang bekas. ”Kebetulan, kita punya relasi yang memiliki kayu bekas. Jadi kita beli dengan harga murah. Daripada tidak terpakai,” ungkapnya.

Selanjutnya, dari hasil karya siswa itu sendiri juga dijual ke sekolah-sekolah. Seperti taman kanak-kanak (TK) dan pendidikan anak usia dini (PAUD). Sudah sering ada permintaan pembuatan alat peraga pembelajaran untuk anak usia dini. Sehingga, siswa yang membuat karya itu juga mendapatkan rupiah. Dalam minggu ini, sudah ada satu sekolah PAUD yang tertarik memesan karya siswanya itu. ”Karya mainan balok ini yang mau kami kirim besok,” tuturnya sambil menunjuk kardus berisi mainan balok.

Kadisdik Kota Malang Zubaidah juga mengungkapkan kekagumannya dengan karya siswa SMPK Petra itu. Bahkan, dia sempat tidak percaya bahwa itu karya siswanya. Karena hasilnya bagus, ada nilai edukasi, dan marketable (punya nilai jual).  ”Kreatif dan menarik. Jarang-jarang ada siswa yang bisa membuat seperti ini dan terus memiliki pasar,” ucapnya.

Selain melatih siswanya kreatif, sekolah yang beralamat di Jalan Prof Moch Yamin SH No.53, Sukoharjo, Klojen, Kota Malang, itu melatih siswa untuk peduli lingkungan. Salah satunya dengan menanam berbagai tumbuhan produktif. Seperti sayuran dan buah-buahan. ”Kita juga menanam terong, sawi, dan stroberi. Hasilnya ya kita panen dan makan sendiri,” imbuh Pangrekso.

Usai di SMPK Petra, tim juri GSF dan Zubaidah bergeser ke SMP Plus Az Zahra. Zubaidah mengapresiasi pihak sekolah yang terlihat antusias mengikuti GSF 2018 ini. ”Meski siswanya tidak begitu banyak, mereka semangat mengikuti GSF kali ini,” puji Zubaidah.

Pewarta : Moh. Badar Risqullah
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Abdul Muntolib
Foto : Bayu Eka Novanta