Keren, Dosen ITN Malang Ciptakan Alat Pencacah dan Pengering Kunyit

MALANG KOTA – Inovasi terbaru datang dari dosen Institute Teknologi Nasional (ITN) Malang. Melihat perkembangan budi daya kunyit di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur, Ir. Basuki Widodo, MT dan Dr. Eko Yohanes Setyawan ST, MT berhasil menciptakan alat pencacah dan pengering kunyit.

“Kita melihat budi daya kunyit di desa Wates, Kecamatan Slawung, Perbatasan Pacitan tersebut cukup banyak. Mereka selalu mengeringkannya ke pengepul. Ini kan eman banget ya, karena jatuhnya mereka malah tidak untung. Jadi kita membuat alat ini untuk melancarkan usaha mereka,” ujar Dr. Eko Yohanes Setyawan ST, MT saat ditemui di Ruang Humas ITN Malang hari ini, (Jum’at 12/10).

Menurutnya, dengan menggunakan alat pengering tersebut prosesnya lebih cepat. Jika produk kunyit itu kering bisa lebih lama penyimpanannya. “Prosesnya lebih cepat, dalam 2 jam sudah bisa didapatkan kering yang maksimal jika suhu lingkungan memadai. Kunyit juga lebih higienis. Harga kunyit kering juga lebih mahal, kalau yang basah per kilo sudah Rp 2500, jika kondisi kering mencapai Rp 21 ribu per kilo,” imbuhnya

Alat dengan dimensi 100 x 100 x 200 cm tersebut mampu menampung hingga 5 – 8 kilo kunyit kering. “Ada 5 rak, per raknya bisa menampung 1 kilo kunyit kering. Tapi untuk menghasilkan 1 kilo kunyit kering itu butuh 6-7 kilo kunyit basah. Jadi ini cukup banyak,” katanya.

Alat tersebut dilengkapi dengan blower yang dapat mengeluarkan kandungan air agar tidak kembali di serap kunyit saat proses pengeringan. Dengan sistem kerja yakni, kunyit diletakkan pada tray, dan diatur agar merata. Buka valve aliran bahan bakar yang akan menyalakan api pada kompor dan atur kecepatan blower, solenoid dan valve berfungsi sebagai control suhu yang diinginkan yaitu 50-55 C.



Selain alat pengering, mereka juga membuat alat pencacah Kunyit. Dengan alat tersebut, petani kunyit bisa lebih cepat dalam memotong kunyit dengan ketebalan yang diinginkan.

“Mesin ini menggunakan bahan stainless stell yang keras dan berkualitas. Sangat cepat dan aman digunakan. memiliki pisau yang dapat diganti dan diasah, bisa diatur ketebalannya dan bisa berpindah tempat dengan mudah,” ungkap dosen Teknik Mesin ITN tersebut.

Dari kedua alat tersebut, petani kunyit dilatih untuk membuat usaha kecil mandiri yang menguntungkan. “Mereka bisa melakukan sendiri, dan keuntungan hasil penjualan kunyit kering bisa mencapai 23 persen dari yang sebelumnya ketika masih numpang ke pengepul,” papar pria asal Pare tersebut.

Ke depan, melalui program Pengabdian Masyarakat tersebut, masyarakat di wilayah Ponorogo tidak hanya menjual kunyit di area lokal atau nasional. Melainkan bisa merambah ke dunia Internasional.

“Ke depan kami akan mengarahkan untuk mencapai ke penjualan internasional. Karena kita melihat di Lampung saja bisa dikirim hingga ke Belanda, tentunya Ponorogo juga bisa,” tandasnya.

Pewarta : Arifina
Penyunting : Shuvia Rahma
Foto : Humas ITN