Kepanjen Kabupaten Malang Masuk Zona Merah DBD

KOTA MALANG – Upaya yang dilakukan dinkes untuk menekan jumlah penderita DBD adalah getol melakukan pengasapan (fogging) di rumah-rumah warga. Selain itu, memberikan abate (obat pembunuh jentik nyamuk) kepada masyarakat. Juga ada program Jumat Bersih yang rutin digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang.

Ratih juga memetakan kawasan rawan atau zona merah DBD dari tahun ke tahun. Pada 2015 lalu misalnya, dia mengidentifikasi Kecamatan Kepanjen sebagai sarang nyamuk Aedes aegypti. Indikasi itu terlihat dari banyaknya warga yang terkena DBD.

”Kepanjen memuncaki kasus DBD dengan 27 penderita. Kemudian Kalipare (24 penderita) dan Dau (14 penderita).

”Bukan hanya zona merah. Pada tahun itu (2015) pula ada empat kecamatan dinyatakan benar-benar bebas DBD. Yakni, Wonosari, Donomulyo, Kasembon, dan Ampelgading,” imbuhnya.

Sedangkan pada 2016, sekitar 1.114 warga Kabupaten Malang menderita DBD. Bukan Kepanjen lagi yang menjadi zona merah. Tapi, Wajak dan Tajinan. Pada 2017 lalu, 451 warganya terkena DBD dan 7 orang di antaranya meninggal dunia. ”Tahun 2018 naik lagi menjadi 681 dengan meninggal dunia 3 orang,” katanya.



”Memang belum termasuk ke kejadian luar biasa (KLB), tapi perlu kami waspadai. Sebab, musim hujan akan memasuki puncak,” tuturnya.

Sementara itu, kondisi pasien DB di RSUD Kanjuruhan berdasarkan rekap data sepanjang 2018 ada 72 pasien. Rinciannya, sebanyak 13 pasien balita, 28 pasien (usia 6–14 tahun), dan 31 pasien dewasa. Sementara Januari 2019 ini, RSUD Kanjuruhan menerima 19 pasien.

”Tentu dapat bertambah sewaktu-waktu. Tinggal kesadaran masyarakat saja untuk menjaga lingkungan,” kata dia.

Pewarta : Sandra, Miftahul Huda, M Sadeli
Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan