Kenang Sejarah 10 November, Brimob Napak Tilas

MOJOKERTO – Dalam rangka memperingati HUT Ke-72 Brigade Mobil (Brimob), Satbrimob Polda Jatim menggelar napak tilas mengenang sejarah perjuangan para pahlawan dengan berjalan kaki dari Surabaya menuju Madiun. Pada Minggu sore (5/11), korps baret biru tua itu singgah di Kabupaten Mojokerto. Para pasukan beristirahat di kawasan situs Gapura Wringin Lawang, Kecamatan Trowulan, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menuju Madiun, Senin kemarin (6/11).

Komandan Satbrimob Polda Jatim, Kombespol Totok Lisdiarto menyatakan, dalam perjalanan napak tilas tersebut, pasukan menyusuri delapan kota di Jatim yang menjadi titik bersejarah bagi Brimob. Titik start dimulai dari Monumen Polisi Istimewa di Kota Surabaya, kemudian melewati Mojokerto, Jombang, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, dan terakhir rombongan finis di Monumen Polisi Istimewa, Madiun. ”Kita berjalan kaki untuk menyatukan semua daerah yang kita lewati,” paparnya.

Minggu (5/11), pasukan napak tilas berhenti dan beristirahat di lokasi halaman situs peninggalan Kerajaan Majapahit di Wringin Lawang, Kecamatan Trowulan. Mereka disambut Kapolres Mojokerto AKBP Leonardus Simarmata dan dewan pelestari adat dan budaya Mojopahit. Kemudian, pagi kemarin, rombongan melanjutkan perjalanan melintasi Jombang. ”Napak tilas kali pertama berjalan menyusuri wilayah Mojopahit karena merupakan embrio pemersatu bangsa adalah pasukannya Patih Gajah Mada,” paparnya.

Mereka menempuh jarak kurang lebih 350 kilometer (km) dengan waktu selama 8 hari. Rencananya, mereka sampai di Madiun tepat pada peringatan Hari Pahlawan 10 November mendatang. Menurut Lisdiarto, tema tahun ini adalah: Ilingo Sejarah. Sebab, sepanjang rute tersebut merupakan jalur perjuangan bagi pahlawan Brimob atau dulu yang dikenal dengan polisi istimewa.



Napak tilas diikuti oleh satu pleton atau sebanyak 31 pasukan Brimob. Selain menggelar napak tilas, para prajurit juga memamerkan peralatan Brimob. Seperti alat search and rescue (SAR), anti anarki, wan teror, penjinak bahan peledak (jihandak) dan kimia, biologi, dan radioaktif (KBR). Untuk diketahui, polisi istimewa memang tidak bisa dipisahkan dengan peristiwa pertempuran 10 November 1945. Kala itu, Komandan Satuan Polisi Khusus Jatim, Inspektur Polisi Kelas 1 Muhammad Yasin memproklamasikan kesetiaan kepolisian kemudian meminta dukungan kepada arek-arek Suroboyo.

Hal itu kemudian berdampak pada pertempuran melawan sekutu. Bersama rakyat sipil, polisi istimewa bahu-membahu di medan tempur. Dengan bekal mempersenjatai rakyat agar bisa ikut berperang melawan penjajah. Polisi istimewa dan laskar perjuangan lainnya bertempur habis-habisan melawan tentara sekutu hingga akhirnya berhasil menewaskan Brigjen A.W.S. Mallaby. ”Makanya, kita harus tetap iling (ingat)sejarah, karena kita besar karena sejarah,” pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

Source link