Kenalkan, Santoso Wardoyo Si Penakluk Api

MALANG KOTA – Nama Santoso Wardoyo bagi kalangan petugas pemadam kebakaran di Indonesia cukuplah harum. Maklum, dia kerap mewakili Indonesia pada program penanganan bencana kebakaran di berbagai negara.

Santai, tapi selalu siaga. Itulah hari-hari yang dilakoni Santoso Wardoyo di kantornya Dinas Penanggulangan Kebakaran (DPK) Kota Batu. Termasuk saat ditemui Jawa Pos Radar Malang Senin (24/9). Ditemani secangkir kopi, dia sedang memantau kondisi Kota Batu lewat layar komputer. Dia bersama rekan-rekannya sesama petugas pemadam kebakaran harus selalu siaga jika sewaktu-waktu ada kabar terjadi amukan api. ”Harus siaga kapan pun,” ungkap Santoso.

Menurut Santoso, karena selalu siaga, maka di ruang kerjanya seluas 5×5 meter itu juga sudah ada semua perlengkapan pemadam kebakaran. Mulai sepatu, baju, dan helm yang semuanya dirancang antiapi.
Namun, ada yang mencuri perhatian di ruang Santoso. Yakni, ada beberapa foto dan sertifikat hasil pelatihan pemadam kebakaran dari berbagai negara. Ya, itu adalah bukti jika pria yang kini menjabat kepala bidang operasional kebakaran itu pernah menimba ilmu menjinakkan api sampai ke Singapura, Turki, maupun Hongkong.

Kepada koran ini, Santoso menceritakan, tak semua petugas pemadam kebakaran di Indonesia bisa mendapat kesempatan sekolah ke luar negeri seperti dirinya. Karena ada semacam seleksi khusus. Yakni, berdasarkan kemampuan dan keberaniannya selama bertugas memadamkan api.

Kebetulan, dia sudah berkali-kali melakukan aksi heroik ketika terjadi kebakaran. Salah satu contohnya peristiwa yang terbesar ketika di Pasar Besar Malang mengalami kebakaran hebat. Dia yang diperbantukan dengan keberaniannya berhasil masuk ke zona api dengan suhu 90 derajat Celcius. Saat itu, selain suhunya begitu panas, asap juga sangat tebal. Namun, Santoso memiliki teknik dan peralatan khusus hingga berhasil masuk ke dalam pasar. Tugasnya saat itu untuk memantau kondisi di dalam pasar yang sedang membara sebelum melakukan pemadaman. Dia menggunakan teknik size up (mengukur tingkat kebakaran).

Setelah bisa membaca kondisi di dalam pasar, baru dia keluar dari kepungan api untuk menyusun strategi pemadaman. Bersama rekan yang lain, dia menggunakan water cannon dengan penyemprotan secara vertikal untuk membentuk efek hujan. Tujuannya tidak langsung memadamkan api, tapi membuat suhu di dalam pasar dingin dulu dan mengurangi asap.

”Setelah itu pemadaman bisa dilakukan lebih cepat,” ungkap Santoso.

Menurut dia, di antara aksi heroiknya, pemadaman di Pasar Besar Malang pada Mei 2016 itu yang dianggap paling dramatis. Sebab, kebakaran itu menghabiskan ratusan kios di lantai 1 dan 2. Apalagi, bara api hampir 24 jam terus menyala. Sebanyak 13 unit mobil pemadam kebakaran diterjunkan.

Nah, karena skill-nya dalam menangani kebakaran yang tinggi, pria kelahiran 4 Oktober 1977 tersebut dipilih masuk tim instruktur penanggulangan kebakaran Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Bencana Kementerian Dalam Negeri. Dia juga berkesempatan sekolah memadamkan api ke luar negeri.

”Sepertinya belajar di sini (Indonesia) sudah mentok ilmunya. Jadi, saya butuh untuk ikut belajar ke luar negeri juga,” ungkap Santoso.

Kali pertama sekolah dengan ikut program Singapore Global Firefighters and Paramedics Challenge (SGFPC) tahun 2014. Saat itu dia masih belum gabung di tim Kemendagri. Karena itu, dia harus mengeluarkan biaya sendiri untuk ikut program di Singapura. ”Ya, pakai dana pribadi waktu itu,” kata dia sambil tertawa.

Bagi dia, belajar ke Singapura, banyak ilmu yang dia dapatkan. Terutama teknik cepat menjinakkan api. ”Saya masih jadi pemula, jadi peserta saja waktu itu,” ungkap alumnus STPDN angkatan 2000 itu, sambil tersenyum.

Di event tahunan yang mengundang seluruh pemadam kebakaran di negara Asia Tenggara dan Asia Pacific tersebut, dimanfaatkan betul oleh Santoso. Tidak hanya menambah ilmu, tapi juga jaringan. Sampai-sampai, dia cukup banyak dikenal berbagai kalangan departemen pemadam kebakaran di luar negeri. Jadi, dia kerap mendapatkan undangan untuk ikut serta workshop penanggulangan kebakaran. ”Banyak sekali kalau undangan, kalau dituruti ya nggak kerja malahan,” ungkapnya sambil tertawa.

Pada 2016 misalnya, suami Ira Christanty ini juga ikut program sekolah pemadam di Turki. Dia mendapatkan ilmu mengendarai mobil pemadam kebakaran bertangga. Jadi, ketika Pemkot Batu membeli mobil pemadam kebakaran bertangga, dia sudah lihai mengoperasikannya. ”Kami juga belajar tentang sistem di sana (Turki),” ungkap dia.

Di Turki, Santoso menambahkan, departemen pemadam kebakarannya cukup maju sedunia. Di sana, Santoso juga menimba ilmu tentang penanganan kebakaran, investasi penyebab kebakaran, dan inspeksi gedung. ”Materinya di sini banyak, dan itu juga kami aplikasikan di sini,” terang pria yang hobi fotografi underwater itu.

Selain di Turki, pada 2017 dia juga dapat undangan departemen pemadam kebakaran Hongkong. Dia mendapat ilmu strategi penyelamatan di dalam air, gedung tinggi, dan penanganan kebakaran di bandara.
Di event itu, pemateri dari National Fire Protection Association (NFPA) sebagai pemegang standar peralatan kebakaran dari Amerika Serikat. Juga dari Departemen Penanggulangan Kebakaran Inggris. ”Kalau di luar negeri, tugas pemadam kebakaran tidak hanya masalah kebakaran, tapi mereka banyak menangani bencana,” imbuh bapak dari Febrina Putri Kriswardani dan Satrio Sampurno Bagaskoro itu.

Untuk mengasah keterampilannya, pada Mei 2018 lalu, dia mengikuti program Singapore Civil Defense Force (SCDF) dengan tema Urban Search and Rescue. ”Yang belajar yaitu perwakilan petugas pemadaman dari seluruh dunia,” ujar pria yang juga pengurus Departemen Kerja Sama Antar Daerah dan Luar Negeri Asosiasi Pemadaman Kebakaran Republik Indonesia (Apkari) itu.

Meski sudah cukup banyak menyerap ilmu tentang pemadam kebakaran, Santoso merasa masih belum cukup. ”Saya ingin terus belajar skill dan knowledge (tentang penanganan kebakaran dan bencana). Karena suatu ketika, di Batu sendiri pasti akan lebih berkembang lagi dari sekarang,” ujar penggemar olahraga diving ini.

Untuk mendapatkan undangan seperti itu, memang tak mudah. Sebab, ada seleksi dari departemen pemadam negara yang mengundang. Biasanya dari Jawa Timur, hanya dia yang lolos. ”Yang lain ada dari Jakarta. Sebenarnya September ini ada undangan lagi ke Turki, tapi informasinya diundur karena krisis. Beberapa bulan lalu juga diundang ke Korea Selatan, saya juga tidak datang karena ada aktivitas di sini,” ungkap pria yang tinggal di Jalan Durian 11 Songgoriti, Kota Batu, itu.

Berbagai ilmu yang dia dapatkan itu, selain diaplikasikan di Kota Batu, juga dia tularkan ke berbagai daerah. Misalkan dia menjadi instruktur di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya, Jember, Bojonegoro, Ternate, Maluku, dan daerah lainnya. Seperti di Bojonegoro, karena di sana mempunyai potensial bencana banjir karena dialiri Bengawan Solo, Santoso mengajar rescue di dalam air. ”Ya, ada banyak daerah di Indonesia, Surabaya juga. Apa yang saya dapat dari luar negeri itu saya bawa ke sini dan diajarkan,” pungkas Santoso.

Pewarta : Aris Dwi Kuncoro
foto : Istimewa
Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Mutholib